
Pagi itu suasana didalam Istana Kibo tampak ramai, karena Lin Yar an akan kembali kedalam Istana untuk menetap dalam waktu yang lama. Putra Mahkota yang tengah berdiri disamping Permaisuri Jia Li, terlihat begitu sangat tidak bersemangat di pagi itu karena ia akan berjumpa dengan Lin Yar'an.
Suasana muram memenuhi Wajah dari ke-empat Pangeran, beserta dengan Permaisuri Jia Li. Namun, tidak dengan Pangeran ke-lima, ia begitu amat mendambakan kehadiran dari Lin Yar'an ke dalam Istana Kibo. Raut Wajah sumringah itu seakan tidak dapat ia lepaskan.
Lu Er yang tengah berada didalam tandu, tampak tengah memikirkan banyak hal, bukan perasaan takut yang menghantui dirinya, melainkan ia tidak tau siapa saja orang yang tengah berada didalam sana.
"Aduh... Sistem narsis itu pergi ke mana sih?! Disaat tengah dibutuhkan malah menghilang seperti hantu, sedang tidak dibutuhkan selalu datang dan terus mengganggu! Memang Sistem narsis sialan!" Dalam benak Lu'er yang terlihat tengah kesal.
Tak lama kemudian saat Lu'er tengah mengumpat didalam benaknya, Sistem Dewi dengan tiba-tiba muncul dihadapan Lu'er, membuat dirinya tersentak akan kehadiran dari Sistem Dewi.
"Halo, Kakak cantik." Ucap, Sistem Dewi yang tengah melayang-layang dihadapan Lu'er.
Lu'er yang tengah termenung kesal, dengan segera ia menatap tajam Wajah Sistem Dewi, Lalu....
"Darimana saja kau?! Sekarang katakan kepadaku, bagaimana sikap Kaisar dan juga Permaisuri didalam ingatan Lin Yar'an?!" Kata, Lu'er dengan perasaan kesal terhadap Sistem Dewi.
Sistem Dewi yang melihat sorot dari sepasang bola Mata hijau yang siap menerkam itu, membuat dirinya tidak dapat menyembunyikan kegugupan yang ia rasakan. Namun, Sistem Dewi memiliki segudang cara untuk dapat membuat perasaan itu hilang dengan sekejap, salah satunya dengan merayu Lu'er menggunakan kata-kata manis.
"Aduh Kakak cantik, yang melebihi kecantikan Wanita manapun, janganlah marah... Jika kau marah nanti kau akan memiliki kerutan pada Wajahmu, apakah kau sangat menginginkan menjadi tua diusia dini." Kata, Sistem Dewi yang tengah berbicara dengan raut Wajah yang tengah meyakinkan Lu'er.
Lu'er yang mendengar perkataan dari Sistem Dewi, dengan raut Wajah yang semula kesal berganti dengan cepat menjadi datar, lalu... Dengan perlahan Lu'er menunjukkan senyuman licik mengandung maksud yang tidak dapat dijelaskan dalam KPP (KAMUS PENGETAHUAN PRIA)
"Aduh... Marah lagi?! Mengapa sangat sulit sekali menaklukkan hati seorang Wanita. Arghh... Aku menyerah! Aku rasa para Pria diluar sana yang mampu menaklukkan seorang Wanita hanya dia yang benar-benar bermental baja saja!" Dalam benak Sistem Dewi yang terlihat tengah gugup dihadapan Lu'er.
"Jika kau berani merayuku lagi, coba pikirkan apa yang akan terjadi dengan dirimu? Hmh...!" Kata, Lu'er yang tengah menatap Wajah Sistem Dewi dengan tampang licik.
Sistem Dewi sungguh tidak sanggup membayangkannya, ia berpikir apa yang nantinya akan dilakukan oleh Lu'er lebih kejam dari sekedar mencincang tubuhnya saja. Sistem Dewi kemudian segera mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin menegang.
"Hmh... Menurut kaca mataku, Kau harus sangat berhati-hati dengan Permaisuri Jia Li, lalu dengan Kaisar aku melihat dari beberapa ingatan Lin Yar'an dia begitu sangat akrab dengan Ayahnya yaitu Raja Kaili." Ucap, Sistem Dewi yang tengah menjelaskan apa yang ia ketahui dari kehidupan Lin Yar'an dikehidupan sebelumnya.
"Hmh... Berhati-hati? Jadi Permaisuri Jia Li itu juga sama berbahayanya dengan para Pangeran? Hmh... Apakah dia membenci Lin Yar'an hanya karena mengikuti Putranya? Aihh... Tidak, mana mungkin masalahnya terlihat begitu semudah itu, aku yakin pasti ada alasan lain mengapa Permaisuri Jia Li juga begitu sangat membenci Lin Yar'an, dan jawabannya akan aku dapatkan setelah aku berada didalam Istana Kibo." Dalam benak Lu'er yang segera membuka kain merah yang menutupi pemandangan.
Lu'er yang tengah termenung dengan perlahan ia kembali berbicara kepada Sistem Dewi sambil memperhatikan jalan dari balik jendela.
"Lantas bagaimana dengan Ayah dan Ibu dari pemilik tubuh ini?" tanya, Lu'er yang terlihat masih memperhatikan jalanan dari balik jendela.
Sistem Dewi tampak tertegun ketika Lu'er bertanya sampai sejauh itu kepada dirinya, Sistem Dewi yang tengah memperhatikan Lu'er segera timbul dalam benaknya bahwa Lu'er begitu sangat ingin mengetahui semuanya secara detail.
"Hmh... Itu, Lin Yar an adalah seorang Putri yang pendiam dan selalu patuh akan perintah dari ke-dua orang tuanya, dia sedari kecil tidak pernah bisa dekat dengan Ayah dan Ibunya sendiri, Lin Yar'an hidup dalam ke tertekanan, satu-satunya orang yang sangat ia percayai hanyalah seorang Kasim bernama Guang." Ucap, Sistem Dewi yang tengah menjelaskan semuanya kepada Lu'er.
Lu'er tampak tersentak ketika mendengar penjelasan dari Sistem Dewi tentang sepenggal kehidupan yang dijalani oleh Putri Lin Yar'an.
"Sungguh sangat malang! Bahkan ke-dua orang tuanya pun begitu sangat kejam terhadap Putri kandungnya sendiri!" Dalam benak Lu'er yang terlihat sangat tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Jadi, pernikahan ini bukanlah karena Lin Yar'an yang mencintai Pria busuk itu?! Melainkan paksaan dari ke dua orang tua! Sungguh kejam sekali, mereka ternyata dengan teganya menjual Putrinya sendiri kepada orang yang salah! Orang tua macam apa itu! Lin Yar'an, sungguh tidak disangka hidupmu ternyata begitu sangat menderita!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah mengepalkan telapak tangan kanannya dengan sangat kuat.
Sistem Dewi yang melihat sikap dari Lu'er, membuat dirinya juga turut merasakan kebencian itu, keduanya terlihat saling menatap dengan sangat dingin.
"Aku tidak akan pernah tinggal diam atas perlakuan yang telah mereka lakukan terhadap Lin Yar'an!" Kata, Lu'er yang segera menatap ke arah luar jendela dengan perasaan kesal dalam dirinya.
"Aku pasti akan selalu membantumu Kakak cantik." Timpal, Sistem Dewi yang segera membalas perkataan dari Lu'er.
Lu'er terdiam dingin sambil menatap jalanan, dia sungguh sangat tidak menyangka ada orang tua yang begitu kejam terhadap Putrinya sendiri, entah apa yang sebenarnya membuat mereka bersikap tidak adil terhadap Lin Yar'an. Namun, rahasia itulah yang harus Lu'er ketahui agar semuanya terlihat jelas dan Lu'er dapat dengan mudah berbalik menyerang mereka dengan cara yang cerdas.
"Rahasia... Rahasia... Rahasia... Apakah dizaman kuno ini memang begitu sangat melimpah orang-orang munafik yang dengan indahnya mengenakan topeng yang mereka sebut dengan kebaikan!" Dalam benak Lu'er yang masih memperhatikan jalanan.