
Lu'er yang terlihat tengah memperhatikan sikap dari Pelayan Zhu bertanding dengan sikapnya yang semula, membuat Lu'er merasa bahwa Pelayan Zhu saat ini sudah merasa terancam akan dirinya.
Lu'er tampak begitu sangat tidak memperdulikan Pelayan Zhu yang tengah mengakui kesalahannya, Lu'er dengan cepat membalikkan tubuh untuk dapat meninggalkan Pelayan Zhu, kemudian Lu'er sedikit melirik ke arah kanan dengan tatapan dingin.
"Terus begitu sampai esok pagi! Jika kau berani bangkit, hmh... Pikirkanlah apa yang nantinya akan terjadi kepadamu!" Ucap, Lu'er yang segera memalingkan pandangannya, lalu ia kembali berjalan untuk dapat meninggalkan Pelayan Zhu dan juga Quon.
Seluruh orang yang tengah berada ditempat itu terlihat tengah tertegun, mereka begitu amat tidak menyangka dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Permaisuri Lin Yar'an. Pelayan Zhu yang melihat tingkah laku dari Permaisuri Lin Yar'an, membuat dirinya merasa sangat kesal.
Terlihat raut Wajah benci ketika Pelayan Zhu tengah menatap tubuh Lu'er dari arah belakang, Quon yang juga tengah menatap tajam diri Lu'er tampak perasaan kesal, untuk pertama kalinya harga dirinya dijatuhkan oleh seorang Wanita yang dahulu hanyalah Permaisuri yang lemah dan mudah untuk dijatuhkan.
Suasana dingin menyelimuti Istana Shulin, kini Lu'er merasa bahwa ia tengah dikelilingi oleh sekelompok orang yang begitu sangat membenci dirinya, Lu'er melangkahkan kakinya untuk dapat memasuki sebuah kamar.
Malam itu terasa sangat dingin ketika angin malam memasuki celah ruangan, menyentuh tubuhnya, Lu'er kemudian segera menatap ke arah kasur dengan warna putih, ia berjalan untuk dapat duduk diatas kasur putih nan besar itu.
"Mengapa Kaisar tiba-tiba saja memintaku untuk kembali ke Istananya? Hmh... Mungkinkah ini ada kaitannya dengan kejadian malam hari ini didalam Istana Putra Mahkota? Jika benar... Mungkin saja esok hari aku akan berjumpa dengan sebuah masalah, atau aku yang akan menciptakan masalah itu sendiri." Dalam benak Lu'er yang tengah termenung.
Sistem Dewi yang melihat Lu'er tengah memikirkan suatu hal, membuat dirinya segera berbicara kepada Lu'er.
"Apakah saat ini kau tengah memikirkan apa alasan dari Kaisar yang tiba-tiba saja memintamu untuk kembali ke Istananya?" kata, Sistem Dewi yang tengah menatap Wajah Lu'er.
Lu'er sedikit melirik ke arah samping dilihatnya Sistem Dewi tengah menatap Wajahnya dengan tegas, tak lama kemudian Lu'er membuang pandangannya, tatapannya kini tertuju pada sebuah jendela dengan penutup kain putih yang saat itu tengah tertiup angin malam.
"Hmh... Benar, tetapi aku tidak terlalu memperdulikannya, jawabannya akan aku ketauhi esok hari, saat ini aku tidak ingin menerka-nerka apapun, hari sudah semakin larut, dan aku harus segera beristirahat untuk esok hari." Balas, Lu'er yang segera menarik selimut besar dengan warna putih ke-emasan, ia kemudian segera menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dengan warna putih polos itu.
Sistem Dewi yang melihat Lu'er tengah tertidur diatas kasur, membuatnya tak ingin mengganggu Lu'er yang saat itu tengah mendapatkan sebuah tugas berat dalam kehidupan barunya, Sistem Dewi mulanya merasa sangat tidak enak hati, ketika menjatuhkan beban berat untuk dapat dipikul oleh Lu'er seorang diri. Tetapi karena memang Lu'er lah yang sudah terpilih maka ia harus menjalani kehidupan barunya dengan kuat hati.
"Kakak cantik aku tidak akan memberikan dirimu menjalani kehidupan yang tidak adil ini sendirian... Aku harap Dewa dan Dewi memberikanmu sedikit keringanan." Dalam benak Sistem Dewi yang segera menghilang dari sisi Lu'er.
"Oh... Lin Yar an, taukah kau saat ini dirimu itu telah memberikanku sebuah beban yang begitu amat berat, aku tidak pernah tau seberapa banyak orang yang ingin menyingkirkanmu? Maka dari itu aku mohon tenanglah disana, dan kau tidak perlu risau aku pasti akan menuntut balas atas semua perlakuan buruk yang mereka berikan kepadamu!" Ucap, Lu'er yang tengah berbicara kepada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Lu'er segera memejamkan sepasang Matanya untuk dapat terpejam, terlihat angin malam berhembus perlahan, mengiringi Lu'er yang akan bermimpi dengan sangat indah.
^°^°
Sedangkan di Istana Kaisar terlihat sebuah ketegangan yang terasa didalam sana.
"Kaisar apakah keputusanmu untuk meminta Lin Yar'an kembali ke dalam Istana Kibo sudah benar?" ucap, Permaisuri Jia Li yang terlihat sangat tidak menyetujui keputusan dari Kaisar Aximing yang meminta agar Permaisuri Lin Yar'an kembali ke dalam Istana.
Kaisar Aximing yang tengah duduk diatas kursi besar berwarna ke-emasan, terlihat tengah menatap tajam Wajah dari Permaisuri Jia Li.
"Apakah kau memiliki masalah dengan keputusanku itu?!" Balas, Kaisar Aximing dengan tampang dingin kepada Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li yang begitu sangat tidak terima akan keputusan sepihak dari Kaisar membuat dirinya merasa sangat marah. Namun, ia tidak akan se-berani itu membentak Kaisar yang agung, terlebih lagi ketika melihat dari cara Kaisar menatap Wajahnya.
"Bukan seperti itu Kaisarku yang terhormat, kita semua sudah mengetahui bahwa Lin Yar'an itu tengah mengidap suatu penyakit yang tidak main-main, jika anda memintanya untuk kembali ke dalam Istana bukankah itu hanya akan membuat Permaisuri Lin Yar an merasa semakin terpukul." Seru, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menahan amarahnya ketika tengah berhadapan dengan Kaisar Aximing yang agung.
Putra Mahkota dan juga para Pangeran yang tengah berkumpul didalam Istana Kibo terlihat sangat tidak terima akan keputusan yang telah Kaisar Aximing ambil tanpa memutuskannya bersama-sama, Putra Mahkota yang masih teringat akan sikap dari Permaisuri Lin Yar'an membuat dirinya tidak dapat menerima jika Kaisar Aximing memutuskan untuk meminta agar Lin Yar'an menetap didalam Istana Kibo.
"Apa yang dikatakan oleh Bunda Jia Li memang benar adanya Ayahku Kaisar yang agung, jika Permaisuri Lin Yar'an kembali ke dalam Istana bukankah itu hanya akan membuatnya merasa sedih saja?" sahut, Putra Mahkota yang tengah duduk disisi kanan Bundanya.
Pengeran ke-lima yang terlihat tengah mengamati keadaan didalam Istana Kibo, tampak suasana tegang, saat Pangeran Xiuhuan melirik Wajah Putra Mahkota terlihat Pria itu begitu amat resah akan keputusan dari Kaisar Aximing.
"Permaisuri Lin Yar'an... Aku begitu sangat menantikan kehadiranmu." Dalam benak Pangeran ke-lima yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah dingin ketika melihat Wajah Kaisar Aximing.