Cruel Empress

Cruel Empress
Chapter 51 ~ Dendam.



Malam itu angin bertiup perlahan, tampak Lu'er tengah menginjakkan kakinya ditanah Phoenix, Desa yang sudah dijelaskan oleh Sistem Dewi sebelumnya kepada dirinya.


Lu'er dengan perlahan menggerakkan sepasang bola Mata hijaunya, untuk dapat mengamati sekitaran tempat itu, suasananya begitu sangat sunyi, hanya sinar dari lampu jalanan saja yang menyambut kehadirannya. Lu'er yang melihat tidak ada masalah yang terlihat dengan jelas, membuat dirinya merasa sangat curiga, karena apa yang dikatakan oleh Sistem Dewi kepada dirinya tidak mungkin hanya bualan saja.


Dengan perlahan Lu'er melangkahkan kakinya ke arah depan, ia mulai memasuki Desa yang cukup luas itu, keadaan begitu sangat sunyi. Tampak kekosongan, suasana yang begitu amat tenang terlihat sangat mencurigakan.


Set.. Set.. Suara langkah kakinya yang sampai ia dapat mendengarnya karena keadaan ditempat itu begitu sangat sunyi dan hening. Tidak terlihat hiruk pikuk warga yang lalu lalang, pikirnya mungkin karena itu masih malam hari, semua orang tengah terpejam dan tidak ada satupun yang terjaga.


Lu'er masih merasakan sebuah kejanggalan ditempat itu, tiba-tiba saja saat ia tengah berjalan dengan tenangnya dari balik tembok besar dan tinggi Lu'er melihat sosok bayangan hitam yang sedari tadi tengah memperhatikan dirinya. Namun, tampaknya ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, langkahnya semakin pasti untuk dapat menjelajahi lebih luas lagi Desa Phoenix itu.


Bayangan hitam, yang melihat Lu'er berlalu tanpa memperdulikan dirinya, terlihat ia tengah menggenggam sebuah Pisau yang sangat tajam. Lalu dengan cepat ia menampakkan diri sesegera mungkin ia mengayunkan lengan kanannya yang saat itu tengah menggenggam Pisau tajam itu.


Namun, apa yang terjadi... Dia dibuat terbelalak saat tidak mendapati Lu'er dihadapannya. Kemudian dari arah belakang ia merasakan hawa dingin, seseorang tengah memperhatikan dirinya dengan sangat tajam.


"Sedang mencari diriku?" kata, Lu'er yang terlihat begitu sangat dingin.


Pria dengan pakaian yang tidak biasa dengan cepat memalingkan pandangannya ke arah belakang, ia tampak sangat tidak menyangka akan diri Lu'er. Dengan cepat ia mengarahkan Pisaunya kepada Lu'er agar dapat melukai tubuh Lu'er.


Lu'er yang melihat hal semacam itu sungguh ia sangat tertegun, sesegera mungkin ia menghindari serangan yang diberikan dengan cara sedikit menggeser kakinya untuk dapat menjauh dari Pria itu, lalu dengan cepat Lu'er menggenggam lengan kanan Pria itu, sambil menekan titik vital sehingga Pria itu tidak dapat melawan, ditariknya ke belakang punggung. Pisau yang semula dia genggam dengan cepat Lu'er ambil lalu didekatkannya tepat dileher Pria itu.


"Si... Si.. Siapa... Kau?!" Ucap, Pria dengan pakaian perang tengah gugup dihadapan Lu'er.


"Wa.. Wanita ini?!" Dalam benak Pria itu dengan perasaan tidak menyangka.


Lu'er yang mendengar perkataan dari Pria itu, sambil terus ia mengamati tubuh Pria itu, dengan bola Mata hijaunya itu Lu'er melihat sebuah plat kerajaan yang sedikit mengintip dari balik Pakaian hitam Pria itu.


"Apakah kau Pelayan dari Pangeran Rui?" ucap, Lu'er yang tampak sangat tenang.


Pria itu terlihat sangat terpinga-pinga saat Lu'er mengenali nama dari Pangerannya.


"Sebenarnya siapakah dirimu? Dan dari mana asalmu?" kata, Pria itu yang terlihat sangat curiga dengan Lu'er.


Lu'er kemudian sedikit melirik ke arah Pria itu, lalu karena ia juga tak ingin membuang waktunya, ia pun akhirnya menjawab pertanyaan dari Pria itu.


"Membantu Tuan? Sebenarnya siapa Wanita ini? Mengapa ucapannya terdengar sangat pasti sekali?? Dan lagi, mengapa dia bisa mengetahui semua masalah ini?!" dalam benak Pria itu yang terlihat sangat gugup juga bingung saat mendengar perkataan dari Lu'er.


"Aku tidak tau pasti siapa kau, tetapi setiap ucapanmu terdengar sangat pasti, jika kau datang kemari untuk membantu Tuan Rui, maka kau harus ikut denganku untuk dapat berjumpa dengan dirinya! Tetapi sebelum itu lepaskan lenganku." Ucap, Pria itu yang terlihat sudah tidak memberontak lagi kepada Lu'er.


Lu'er kemudian menarik lengan kirinya, dan juga melepaskan lengan kanan Pria itu, saat sudah terlepas Pria itu terlihat sedikit lemas. Namun, tubuhnya dapat berfungsi dengan normal.


"Ikutlah denganku." Ucap, Pria itu yang segera berjalan keluar dari Desa Phoenix.


Lu'er dengan perlahan memalingkan pandangannya juga tubuhnya, untuk dapat menatap Pria itu. Lalu Lu'er melangkahkan kakinya untuk dapat mengikuti Pria itu. Mereka menyusuri jalanan yang sangat sunyi, jaraknya sangat jauh sekali untuk dapat menemui Pangeran Rui.


Lu'er kemudian menoleh ke arah samping kanan dilihatnya Sistem Dewi yang begitu sangat antusias sekali saat akan berjumpa dengan Pangeran Rui.


"Mungkinkah mereka sebelumnya pernah saling kenal satu sama lain? Tetapi dia pernah berkata kepadaku bahwa hanya diriku saja yang dapat melihat dirinya? Hmh...." Dalam benak Lu'er yang segera ia memalingkan pandangannya kembali untuk dapat menatap Pelayan dari Pangeran Rui.


"Misi ini harus berhasil! Dengan begitu kekuatan yang akan Lu'er dapatkan sudah pasti meningkat! Huh... Kau harus menjadi Majikanku yang sangat kuat, karena kehidupanmu ditempat ini akan jauh lebih berat dari apa yang kau bayangkan!" Dalam benak Sistem Dewi yang terlihat tengah menatap langit malam dengan taburan ribuan Bintang.


°^


Di dalam Istana Elpis.


"Ah sial! Mengapa semua jadi seperti ini?! Lin Yar'an?! Wanita itu, mengapa dia masih sadar?! Apakah Bunda Jia Li telah gagal! Arhhh... Sialan, Wanita itu sangat sialan! Aku adalah Putra pertama yang sangat hebat, tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan! Jika aku ingin maka akan aku dapatkan, dan jika aku muak maka semua itu harus lenyap dan binasa! Aku sungguh sangat ingin membunuh Wanita itu! Karenanya, kini aku menjadi bahan olok-olokkan semua orang! Dia hanyalah Wanita sampah yang lemah! Lin Yar'an, ini semua tidak akan pernah terjadi jika kau tidak ada didunia ini!!" Ucap, Zhang Jiangwu dengan perasaan marah, lalu ia segera membuang semua benda-benda berharga yang berada di atas mejanya.


Semua benda itu jatuh berserakan di atas lantai. Terlihat tetesan darah yang mengalir dengan perlahan dari lengan kanannya, hal itu karena beberapa benda yang dia jatuhkan adalah berada tajam.


"Lin Yar'an sialan!" Teriak Putra Mahkota dengan perasaan kesal.


°^


Sedangkan didalam Istana Kibo terlihat Permaisuri Jia Li yang tengah duduk diatas Kasur, raut Wajahnya tampak sangat dingin dan kesal.


"Aaarhhh... Ini semua karena Wanita itu! Jika dia mati hidupku tidak akan pernah menjadi seperti ini! Fahrani... Kaili dan juga Lin Yar'an, jangan harap kalian dapat hidup dengan tenang didunia ini! Nyawa harus dibayar dengan nyawa! Arhhhh!" Teriak Permaisuri Jia Li, raut Wajahnya begitu sangat sedih, seakan kebencian itu sudah mendarah daging dalam dirinya.