
Permaisuri Jia Li yang melihat hal itu, dengan segera ia meletakkan kembali cangkir itu diatas meja bundar, begitupun juga dengan Lu'er, tak lama kemudian Permaisuri Jia Li segera menggenggam lengan Lu'er, sambil berbicara kepada dirinya.
"Putriku... Aku mohon jangan pernah kau berpikir bahwa diriku ini ingin berniat buruk kepada dirimu, jika kau memiliki suatu masalah ceritakan saja kepada Bundamu ini, aku pasti akan selalu membantu dirimu." Ucap, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menggenggam dengan erat pergelangan tangan Lu'er, sambil menyuntikkan sesuatu pada lengan kanan Lu'er.
Lu'er begitu sangat terkejut ketika melihat tindakan dari Permaisuri Jia Li, tak lama kemudian pergelangan tangannya begitu sangat sakit, sehingga Lu'er dengan cepat menarik lengannya dari genggaman Permaisuri Jia Li.
"Ahh...?! Apa... Apa yang?!" Ucap, Lu'er dengan perasaan bingung dan juga terkejut dihadapan Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li yang melihat sikap dari Lu'er dengan segera ia menunjukkan raut Wajah licik.
"Aku... Apa maksud dari ucapanmu itu? Ada apa dengan dirimu?" tanya Permaisuri Jia Li dengan raut Wajah licik.
Lu'er kemudian segera bangkit dari duduknya, karena ia merasakan sesuatu hal yang tidak beres, membuat dirinya dengan cepat berbicara kepada Permaisuri Jia Li, sambil menatap Wajahnya dengan dingin.
"Saya tidak pernah berpikir demikian, tetapi Anda sendirilah yang mengatakannya, lantas... Menurut Anda siapakah yang tengah menyiapkan rencana buruk itu? Terima kasih, untuk jamuannya, Lin harus kembali, dan selamat malam!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah menatap tajam Wajah Permaisuri Jia Li.
Tanpa berkata-kata lagi Lu'er segera berjalan untuk dapat meninggalkan ruangan Permaisuri Jia Li, tubuhnya terasa begitu sangat panas, degup jantungnya pun begitu sangat cepat, Permaisuri Jia Li yang melihat sikap dari Lu'er tampak ia tengah tersenyum licik.
Lu'er terlihat begitu sangat tidak sanggup akan rasa sakit itu, dengan cepat ia segera membuka pintu yang semula tertutup, dilihatnya sudah tidak ada Pelayan Wanita itu. Lu'er kemudian berjalan untuk dapat kembali ke dalam kamarnya, tubuhnya begitu sangat panas, Lu'er hampir tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya, sampai pada akhirnya ia dapat kembali ke dalam kamarnya, Lu'er menghampiri kasur yang sangat besar dengan raut Wajah kesakitan.
"Sialan! Ternyata racun itu, ia suntikan ke dalam tubuhku! Aku tidak seharusnya meremehkan dirinya! Ah... Sakit sekali!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah menahan tubuhnya yang tengah berkontraksi akibat efek dari obat perangsang itu.
^°^
Sedangkan didepan Istana Kibo Putra Mahkota tampak ia tengah menggenggam sebuah jarum kecil yang sudah terisi obat yang sama dengan Lu'er. Ia tidak sendiri disana Putra Mahkota juga ditemani Pangeran ke dua, yang terlihat tengah mabuk.
"Kakak... Ada apa kau memintaku untuk kemari? Dan benda apa yang telah kau pedang itu?" kata, Pangeran ke dua yang terlihat tengah tidak stabil, karena ia memang tengah mabuk berat.
Zhang Jiangwu kemudian menatap licik Adiknya, dengan segera ia mematahkan jarum kecil itu, lalu Putra Mahkota berbicara kepada Pangeran ke dua.
"Ikutkah denganku, wahai Adikku tersayang!" Ucap, Putra Mahkota yang segera menarik pakaian Adiknya dengan kuat, ia berjalan ke arah kamar Lu'er.
Pangeran ke dua yang terlihat tengah tidak sadar karena berada dibawah pengaruh minuman keras, membuatnya dengan suka rela mengikuti Kakaknya, Putra Mahkota kemudian berjalan untuk dapat memasuki kamar Lu'er, dengan kasar ia melemparkan tubuh Pangeran ke dua untuk dapat masuk ke dalam kamar besar Lu'er.
Lu'er yang terlihat tengah mencoba untuk menahan hasratnya, dibuat tertegun ketika mendengar suara keras yang jatuh. Lu'er dengan cepat mengangkat kepalanya, perasaannya begitu sangat tidak enak.
Setelah membiarkan Pangeran ke dua yang berada didalam kamar Lu'er, dengan cepat Putra Mahkota meninggalkan mereka sendirian.
"Maafkan aku Adikku sayang, tetapi... Nuan, tidak pantas untuk bersanding dengan dirimu!" Ucap, Putra Mahkota yang segera berjalan untuk dapat kembali ke dalam ruangannya.
^°
"Sial! Ini memang sudah direncanakan sedari awal!" Lu'er dengan perlahan bangkit dari tempatnya, ia kemudian menatap tajam Wajah Pangeran ke dua.
Pangeran ke dua yang mengira Lu'er adalah kekasihnya Nuan, dengan gilanya dia menghampiri Lu'er. Terlihat Lu'er begitu sangat kesal akan tindakan dari Pangeran ke dua. Dengan cepat Lu'er memasukkan lengannya ke dalam lengan pakaiannya, diambilnya sedikit serbuk yang menempel pada Bunga Si.
"Nuan... Sayangku, sungguh cantik sekali kau malam ini!" Ucap, Pangeran ke dua yang tengah berhalusinasi.
Lu'er tampak begitu sangat tidak sabaran, dengan segera ia mengangkat lengannya yang sudah terdapat serbuk dari Bunga Si dan menyentuh ke dua Mata Pangeran ke dua dengan kasar.
"Arrhh! Sakit sekali mengapa kau begitu sangat galak sekali, Mataku ahhh!" Teriak Pangeran ke dua dihadapan Lu'er.
"Lihat baik-baik siapakah diriku! Pergi dari hadapanku sekarang juga! Kekasihmu itu saat ini tengah berada didalam ruangan Permaisuri Jia Li! Pergilah dari hadapanku sekarang juga! Atau kau akan mati!" Ucap, Lu'er yang terlihat begitu sangat dingin ketika tengah menatap tajam Wajah Pangeran ke dua.
Pangeran ke dua yang tidak mampu membuka Matanya karena serbuk dari Bunga Si yang telah melukainya, membuat dirinya takut setengah mati saat mendengar perkataan dari Lu'er. Lu'er yang tidak sudah tidak sanggup lagi, dengan cepat ia berjalan keluar dari dalam kamarnya untuk dapat menjauhi Istana.
Lu'er berlari dengan sangat cepat, untung saja pada malam itu suasana didalam Istana Kibo tampak sepi, Penjaga Istana pun tak cukup padat menghiasi Istana Kibo yang sangat besar itu. Terlihat Lu'er berjalan menuju taman belakang Istana yang sangat gelap, ia menjatuhkan tubuhnya sambil menggigit lengannya sendiri dengan sangat kuat.
"Sa... Sakit sekali! Sistem Dewi sialan dimana kau?!" Kata, Lu'er yang terlihat tengah merintih kesakitan karena menahan kontraksi dari obat itu.
Saat Lu'er tengah menggigit lengannya sendiri, tiba-tiba saja dihadapannya berdiri seseorang dengan berpakaian merah, Lu'er kemudian mengangkat kepalanya ia begitu sangat tertegun ketika melihat Pria itu.
"Xi.. Xiuhuan?!" Kata, Lu'er yang terlihat tengah menahan api yang tengah bergejolak didalam tubuhnya.
Pangeran Xiuhuan dengan perlahan merendahkan tubuhnya, lalu ia segera mengangkat dagu Lu'er, tatapan Matanya begitu sangat dingin, ia terlihat amat marah akan apa yang telah terjadi kepada Lu'er.
"Benar... Aku Xiuhuan." Jawab, Pangeran Xiuhuan yang terlihat tengah menggenggam lengan Lu'er yang semula tengah Wanita itu gigit.
"Untuk apa datang kemari! Uh... Uh!" Ucap, Lu'er yang terlihat tengah menahan rasa sakit dari efek obat yang sangat kuat itu.
"Membantu dirimu!" Jawab Pangeran Xiuhuan yang segera mengangkat dagu Lu'er dan mencium bibirnya dengan sangat lembut.
"Terserahlah! Aku tidak perduli lagi! Aku sungguh sangat menginginkan dirimu! Aku mohon bantulah diriku! Xiuhuan!" Dalam benak Lu'er yang terlihat tengah memejamkan Matanya.
Sedangkan Pangeran Xiuhuan masih menatap Wajah Lu'er yang tampak menderita, lalu dengan perlahan ia memejamkan Matanya.
Langit malam begitu sangat gelap, bulan tertutup kabut awan, angin berhembus perlahan, malam itu begitu sangat panjang.