
"Pergi dari hadapanku sekarang juga! Aku sungguh sangat muak melihat dirimu!" Bentak Raja Kaili yang terlihat begitu sangat murka terhadap Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang sebenarnya ingin sekali menyampaikan kabar kepada Raja, dengan rasa kecewa dan juga dalam hati yang sudah terasa amat sakit, Ratu Fahrani tak mampu berkata apapun dihadapan sang Raja, Wanita yang tengah bersama dengan Raja Kaili tengah menatap licik Wajah Ratu Fahrani, tampangnya begitu amat puas ketika ia melihat Ratu Fahrani menderita.
Ratu Fahrani yang tengah terjatuh diatas lantai, dengan tajam menatap Wajah dari Wanita yang tengah bersama dengan Raja Kaili.
"Kau Wanita murahan! Mengapa posisiku dapat tidak sepenting ini di Mata sang Raja?!" Dalam benak Ratu Fahrani yang begitu amat sakit hati akan kejadian yang menimpa dirinya pada hari itu.
Ratu Fahrani kemudian segera bangkit, lalu, ia mengangkat lengan kanannya, jari telunjuk itu mengarah pada diri Wanita yang tengah berada disamping Raja.
"Jangan merasa senang dulu ya, ini bukanlah akhir tetapi ini adalah awal dari kehancuranmu! Camkan itu!" Ucap, Ratu Fahrani yang terlihat begitu sangat tidak main-main dalam perkataannya.
Wanita itu tampak tertegun ketika Ratu Fahrani mengancam dirinya, Ratu Fahrani terkenal dengan keseriusan dalam berucap, siapapun yang telah melukai perasaannya maka akan berakhir menderita. Raja Kaili yang mendengar perkataan dari Ratu Fahrani dengan nada tinggi ia membalas perkataan dari Ratu Fahrani sambil menampik lengan kanan yang tengah menunjuk ke arah dirinya.
"Lancang! Sungguh berani sekali kau menantang diriku! Fahrani ingatlah siapa kau saat ini, jika bukan karena diriku apakah mampu hidup dalam kesenangan dan kemewahan yang sudah aku berikan kepada dirimu! Dasar Wanita tidak tau diri! Beginikah caramu berterima kasih kepada diriku! Keluar sekarang juga dari ruanganku!" Bentak Raja Kaili dengan perasaan murka dalam dirinya.
Ratu Fahrani tanpa dapat berkata-kata lagi dengan segera ia meninggalkan Raja dan juga Wanita itu dalam Ruangan kerja, Ratu Fahrani berjalan keluar dari tempat itu dengan perasaan kecewa, marah, ketika ia telah ditipu, dihianati oleh orang yang paling ia sayangi.
"Jadi beginikah rasanya dihianati, jadi beginikah rasanya tidak dihargai dan tidak dianggap?! Apakah pilihanku ini memang salah?!" Dalam benak Ratu Fahrani yang segera berjalan keluar, langkahnya nampak tergesa, ketika ia menghampiri pintu besar yang tengah dijaga oleh dua orang Penjaga Istana.
Ratu Fahrani sungguh merasa sangat malu akan kejadian dihari itu, ia berpikir ke-dua Penjaga Istana itu tengah menertawakan dirinya, Ratu Fahrani berjalan dengan cepat untuk dapat memasuki ruangan kecil yang berada disamping ruangan Raja Kaili.
Ratu Fahrani dengan cepat membuka pintu yang tertutup dengan rapat, ia kemudian berjalan masuk ketika pintu itu sudah terbuka, suasana dalam hatinya terlihat begitu sangat muram. Ratu Fahrani kemudian berjalan untuk dapat menuju sebuah meja yang sudah tertata rapi sebuah kertas dan pena bulu, dengan tergesa Ratu Fahrani mengambil pena bulu lalu ia menulis diatas sebuah kertas, sambil duduk diatas kursi, entah apa yang ia tuliskan. Namun, ia terlihat begitu sangat serius.
Setelah usai menulis Ratu Fahrani menggulung dan mengikat kertas itu menggunakan pita berwarna merah, Ratu Fahrani kemudian bangkit dari tempatnya, dan berjalan untuk dapat menghampiri jendela yang terbuka, Ratu Fahrani kemudian menepuk ke-dua telapak tangannya dengan kencang, tak lama kemudian....
Syat... Chao segera bersujud dihadapan Ratu Fahrani sambil menundukkan kepalanya.
"Aku ingin kau berikan kertas ini kepada Putriku, ingat jangan sampai ada satu orangpun yang mengetahuinya." Kata, Ratu Fahrani yang segera mengulurkan lengannya dihadapan Chao.
"Baik, saya mohon pamit." Jawab, Chao yang segera bangkit dari sujudnya dan meloncat ke luar jendela untuk dapat meninggalkan Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani hanya terdiam ketika melihat Chao telah menjalankan perintah dari dirinya.
°^°^
Sedangkan didalam Istana Kibo, terlihat Lu Er yang tengah memasuki sebuah kamar bersama dengan Putra Mahkota, tanpa saling berkata-kata, tatapan mereka sungguh amat dingin, seperti dua ekor Serigala yang saling membenci.
"Zhang Jiangwu, aku rasa kamar ini akan menjadi milikku, lagipula bukankah dirimu amat tidak sudi jika berjumpa denganku? Hmh..? Apakah kau sanggup, ketika setiap detik kau akan selalu dihantui penderitaan! Atau kau begitu amat menantikan penderitaan itu?!" Kata, Lu'er yang segera menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada didalam sebuah kamar yang sangat besar.
Putra Mahkota yang mendengar perkataan dari Lu'er dengan segera ia menoleh ke arah belakang untuk dapat menatap Wajah Lu Er dengan tajam.
"Ingatlah, Lin Yar'an! Aku akan pastikan senyuman yang kau perlihatkan itu akan menjadi kesenangan terakhir untuk dirimu! Tanpa adanya Kaisar kau bukanlah apa-apa! Seharusnya kau cukup tau diri tentang hal itu!" Kata, Putra Mahkota yang terlihat tengah berbalik mengancam Lu'er.
Lu'er yang mendengar perkataan dari Putra Mahkota membuat dirinya tidak gugup ataupun takut sama sekali, Lu'er kemudian segera mengangkat lengannya sambil menunjuk diri Putra Mahkota, sambil membalas perkataan yang sudah ia berikan.
"Hmh... Aku sungguh amat menantikan hari itu tiba! Dan satu hal lagi, bukan aku yang beruntung adanya Kaisar, tetapi dirimu... Aku, tanpa Kaisar pun, sudah mampu membuat kalian semua ketakutan bukan, dan aku yakin setelah kau mendengar perkataanku ini, tak lama lagi kau pasti akan mengadu kepada Jia Li, benar bukan? Yah... Karena kau itu memang hanya seorang Pria lemah, Pria bodoh, dan satu lagi Pria yang tidak memiliki harga diri, sungguh paket lengkap sekali!" Balas, Lu'er dengan sepasang bola Mata hijau yang menatap Wajah Putra Mahkota dengan tajam dan mencekam.
Putra Mahkota yang mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh Lu'er, membuat dirinya merasa amat kesal. Namun, ia tidak mampu membalas Lu'er hari itu juga.
"Awas kau! Aku pasti akan membuat dirimu tidak mampu berkata-kata lagi, aku pasti akan membuat dirimu menderita! Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu bahagia! Camkan itu Lin Yar'an!" Ucap, Putra Mahkota yang terlihat tengah menahan amarahnya dihadapan Lu'er.
Lu'er kemudian menarik pakaian Putra Mahkota, Wajahnya yang tampak dingin itu, membuat Lu'er kembali menantang Putra Mahkota dengan sangat berani.
"Buktikan! Jika kau masih tidak mampu mengusik diriku... Maka pembalasanku yang sudah menantikan dirimu akan jauh lebih mengasyikkan dari ancaman yang kau berikan!" Jawab, Lu'er yang segera mendorong tubuh Putra Mahkota dengan kuat.