
"Aku... Baik, Ibu bisa melihatnya sendiri bukan? Mereka memperlakukan diriku dengan sangat baik." Ucap, Lu'er yang segera menjawab pertanyaan dari Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang mendengar perkataan dari Lu'er tampak dibuat tak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari Mulut Lu'er sendiri.
"Benarkah? Itu sangat mustahil, tidak mungkin mereka semua memperlakukan Lin dengan sangat baik." Dalam benak Ratu Fahrani yang terlihat tengah menatap Wajah Lu'er dengan tatapan tertegun.
Tak lama kemudian Lu'er yang masih tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan dingin, sesegera mungkin ia berbicara kepada Ratu Fahrani dengan nada bicara tegas dan berani.
"Mengapa Ibu berkata seperti itu? Mana mungkin ada seorang Anak yang tidak menginginkan untuk berjumpa dengan Ibu kandungnya sendiri, bahkan jika orang itu sebenarnya adalah salah satu dari musuhnya sendiri." Kata, Lu'er yang terlihat tengah menatap dingin Wajah dari Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani dibuat semakin tak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar, untuk pertama kalinya Lin yang terbiasa menjadi seorang Anak penurut, pemalu, penakut itu dengan tegas dapat berbicara sambil menatap Wajahnya dengan tatapan dingin seperti itu.
"Ada apa sebenarnya dengan Anak ini?!" Dalam benak Ratu Fahrani yang tampak cemas.
"Kau banyak berubah Lin, jangan menutupinya dariku, aku yakin kau pasti amat menderita didalam Istana Kaisar, katakan saja kepadaku." Ucap, Ratu Fahrani yang terlihat tengah menatap Wajah Lu'er dengan curiga.
Lu'er yang mendengar perkataan dari Ratu Fahrani, didalam benaknya ia cukup merasa puas akan perkataan dari Ratu Fahrani, secara tidak langsung ungkapan yang dilontarkan oleh Ratu Fahrani dapat memberikan sebuah kejelasan untuk dirinya.
Lu'er yang masih berdiri dihadapan Ratu Fahrani dengan jarak yang tidak terlalu jauh, perlahan ia menghela napasnya, lalu Lu'er segera menjawab perkataan dari Ratu Fahrani.
"Sungguh?? Mengapa Ibu dapat berkata seperti itu kepadaku? Mungkinkah dahulu Ayah dan Ibu memiliki suatu masalah kepada keluarga Kaisar?" jawab Lu'er dengan tatapan dingin ketika tengah menjawab pertanyaan dari Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani seketika tertegun saat mendengar jawaban sekaligus pertanyaan dari Lu'er kepada dirinya.
"Sial! Hampir saja aku salah bicara dihadapannya." Dalam benak Ratu Fahrani yang tengah menunjukkan raut Wajah gugup dan cemas.
Hanya dengan menatap Wajah seseorang dengan berani dan sedikitpun tidak malu atau takut, itu akan membuat orang yang dicurigai akan merasa resah, gelisah dan juga cemas, akan timbul suatu reaksi alami yang mendorong orang itu untuk bersikap aneh ketika ia benar menyembunyikan sesuatu.(Pelajaran dari Lu'er ketika pernah membaca buku panduan psikolog pada saat di jaman Modern, dan kini teori itu selalu dipraktikkan oleh Lu'er)
"Ah... Tentu saja tidak, bukankah kau tau Ayah dan Ibumu ini begitu sangat dekat dengan Kaisar, jadi bagaimana mungkin kami memiliki sebuah masalah dengan dirinya, aku hanya khawatir saja jika mereka memperlakukan dirimu dengan tidak baik, karena kau itu sangat pemalu, dan sangat penyendiri, itu saja Lin." Jawab, Ratu Fahrani yang terlihat tengah menyembunyikan perasaan gugup dihadapan Lu'er, sesekali ia menyentuh punggung lengan kanannya dengan lengan kiri.
Lu'er yang masih menatap Wajah Ratu Fahrani terlihat terus memperhatikan setiap perkataan dan juga gestur tubuhnya. Lalu Lu'er yang sepertinya tidak mampu membuat Ratu Fahrani berkata yang sebenarnya kepada dirinya dihari itu juga, membuat Lu'er tak ingin memaksakan Ratu Fahrani, karena jika itu terjadi maka Ratu Fahrani pun akan semakin mencurigai dirinya.
"Benar sekali kalian memang begitu sangat dekat dengan Kaisar, oh iya Ibu... Mengapa kau memilih tempat ini untuk dijadikan pertemuan kita?" tanya Lu'er yang seakan tidak mempermasalahkan jawaban yang diberikan oleh Ratu Fahrani kepada dirinya.
Ratu Fahrani melihat Lu'er yang tampak tidak curiga dengan dirinya membuatnya dapat bernapas dengan lega.
"Ahh... Bukankah Taman ini begitu sangat indah? Meskipun mereka beracun tetapi mereka begitu sangat sedap untuk dipandang." Jawab, Ratu Fahrani yang segera memperhatikan tempat itu dengan perasaan senang.
Lu'er yang tengah menatap tanaman beracun yang beranekaragam membuat dengan sedikit melirik ke arah Ratu Fahrani yang tengah berbicara dengan nada bicara sedikit pelan, raut Wajahnya pun tampak dingin dan mencekam dihadapan Ratu Fahrani.
"Sangat indah sekali, dan semua yang terlihat indah belum tentu tidak berbahaya, benarkan Ibu...?" jawab, Lu'er dengan tatapan dingin dihadapan Ratu Fahrani.
"Mengapa ia dapat berkata seperti itu? Dia terlihat tidak sama seperti Lin yang sebelumnya, hmh... Tetapi ini cukup bagus, aku dapat memanfaatkan dirinya. Namun, aku juga harus tetap berhati-hati dengan dirinya." Dalam benak Ratu Fahrani yang sedikit menundukkan pandangannya.
Tak lama kemudian Ratu Fahrani segera mengangkat kepalanya, dan ia sudah mendapatkan pembahasan lain untuk disampaikan kepada Lu'er yang saat itu masih berdiri dihadapannya.
"Oh... Lin Putriku tersayang... Hmh selalu ingat pesan Ibu, kau harus tetap menjadi Permaisuri dari Putra Mahkota, apapun yang terjadi, karena Ibu hanya ingin kau hidup bahagia sayangku, kau harus bisa memenangkan hati Zhang Jiangwu, hanya itu pesan dari Ibu untukmu Lin, dan... Jangan lupa untuk lebih sering-sering menemui Ibu, kabarkan semua hal yang terjadi didalam Istana Kaisar, bukan apa-apa hanya saja Ibu tidak ingin dibuat cemas akan kondisimu di sana, kau mengerti kan Lin." Ucap, Ratu Fahrani yang segera berjalan untuk dapat mendekati Lu'er.
Lu'er yang masih berdiri tegak dihadapan Ratu Fahrani, tampak ia tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan tatapan dingin.
"Hmh... Jadi maksudmu aku harus menjadi seorang Mata-Mata? Tetapi sayang sekali Fahrani! Aku Lu'er, tidak mampu diperintah oleh siapapun, jika kalian pikir kalian adalah Pemeran utamanya, maka aku adalah pembuat naskahnya!" Dalam benak Lu'er yang tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan dingin.
Lu'er yang terlihat masih terdiam ketika menatap Ratu Fahrani yang hanya menjadikan dirinya sebagai alat agar tujuannya dapat terwujud, rasa kesal itu ada, rasa kecewa itu jelas tak mungkin terelakkan, seorang Ibu yang begitu amat tega kepada Putrinya sendiri, ia bukan hanya menjual Lin melainkan dia juga memanfaatkan posisi Lin didalam Istana Kibo.
"Mungkin jika kau berbicara dengan Lin maka dia pasti sudah akan menuruti kemauanmu, namun sayang sekali bukan, aku bukan dirinya! Karena kau begitu sangat bergantung kepada dirimu, lantas mengapa aku tidak mempergunakan kesempatan ini!" Dalam benak Lu'er yang masih terdiam dingin dihadapan Ratu Fahrani.
"Seperti yang kau inginkan, Ibu....!" Jawab, Lu'er yang segera menunjukkan lekuk senyuman kecil dihadapan Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang mendengar perkataan dari Lu'er membuat dirinya begitu amat bahagia, dengan segera ia menyentuh kedua lengan Lu'er dengan sangat erat.
"Ibu tau kau itu memang dapat diandalkan, Ibu sangat menyayangi dirimu, Lin." Ucap, Ratu Fahrani yang segera mendekap tubuh Lu'er dengan erat.
Lu'er yang melihat hal itu dengan segera ia berbalik memeluk tubuh Ratu Fahrani, lalu keduanya saling menunjukkan raut Wajah dingin.
"Ini sangat bagus!" Dalam benak Ratu Fahrani.
"Bermainlah dengan sangat indah!" Dalam benak Lu'er.