
Saat sudah berada didalam Ruangan besar dan megah milik Kaisar Aximing, suasana dingin tampak terasa yang masih diperlihatkan oleh Permaisuri Jia Li, saat itu Lu'er merasa tengah diawasi oleh beberapa Mata tajam yang seperti belati itu. Lu'er sungguh tidak mengerti mengapa saat itu Ratu Fahrani dengan tiba-tiba menjumpai dirinya, rasa curiga itu bukan hanya dia yang rasakan, melainkan Sistem Dewi sedari tadi sudah memasang sikap siaga dihadapan Ratu Fahrani.
"Kakak cantik, berhati-hatilah, entah mengapa aku merasakan kehadiran Ratu Fahrani hari ini adalah pertanda buruk untuk dirimu." Ucap, Sistem Dewi yang tengah berbisik disamping telinga Lu'er.
Lu'er hanya terdiam sambil terus menunjukkan raut Wajah dingin, bola Mata hijau itu terus memperhatikan setiap tingkah laku yang dikerjakan oleh Ratu Fahrani kepada dirinya. Kemudian, Kaisar Aximing yang tengah duduk diatas singgah sananya itu, dengan tatapan pasti dia segera berkata kepada semua orang yang tengah berada didalam ruangannya itu.
"Hmm... Ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan dengan Raja Kaili, dapatkah kalian semua keluar dari tempat ini sekarang juga?!" Perintah Kaisar Aximing yang tampak begitu sangat ingin berdiskusi dengan Raja Kaili.
Semua orang yang berada didalam Ruangan Kaisar Aximing termasuk Pangeran Xiuhuan. Terlihat curiga dengan apa yang akan kedua Pria itu bicarakan. Namun, tidaklah pantas jika salah satu dari mereka mencampuri urusan milik Kaisar Aximing. Permaisuri Jia Li yang mendengar perkataan dari Kaisar Aximing dengan cepat dia bangkit dari duduknya untuk dapat mengindahkan perintah dari Suaminya itu.
"Entah apa yang akan mereka bicarakan. Namun, saat ini keluar dari dalam Istana dan meninggalkan sekelompok Manusia hina ini, mungkin adalah cara terbaik agar dapat menenangkan hatiku. Jika ada waktu yang memungkinkan aku pasti tidak akan pernah mengulur waktu lagi untuk dapat melenyapkan kalian semua!" Dalam benak Permainan Jia Li.
Kemudian saat ia tengah berdiri dihadapan Kaisar Aximing, Permaisuri Jia Li dengan tegas juga berkata kepada Putranya untuk mengindahkan perintah dari Kaisar Aximing, sempat-sempatnya ia menyinggung Ratu Fahrani yang saat itu masih tetap duduk disamping Raja Kaili dengan tenangnya. Seakan dia tidak menghiraukan keberadaan dari Permaisuri Jia Li.
"Baik Kaisar Aximing yang terhormat, Anak-anakku bukankah kalian juga telah mendengar perintah dari Kaisar? Tidak baik jika berlama-lama mengabaikan titah darinya, aku sangat tau Kursi itu begitu nyaman. Namun, kau harus sadar akan posisimu didalam Istana ini!" Ucap, Permaisuri Jia Li yang segera menatap ke arah dua Putranya.
Pangeran ke tiga dan ke empat, sungguh sangat bingung dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Permaisuri Jia Li kepada diri mereka, raut Wajah tidak menyangka itu segera mereka tampakkan dihadapan Permaisuri Jia Li.
"Apa maksud dari perkataan Ibunda? Siapa sebenarnya orang yang tengah beliau singgung itu?" dalam benak Pangeran Minghao yang tengah menatap Wajah Permaisuri Jia Li dengan perasaan curiga.
"Baik, Bunda." Jawab serentak Pangeran ke tiga dan juga ke empat.
Lu'er yang mendengar sebuah sindiran halus dari Permaisuri Jia Li kepada Ratu Fahrani sungguh membuat dirinya faham kepada siapakah perkataan itu ditujukan. Ratu Fahrani yang tengah duduk disamping Raja Kaili dengan raut Wajah kesal, ia tak menyangka Permaisuri Jia Li mampu berkata semacam itu kepada dirinya.
Dengan perlahan Lu'er yang tengah berdiri dihadapan Kaisar Aximing, segera ia merundukkan pandangannya, dan meminta izin untuk dapat meninggalkan Ruangan itu.
Ratu Fahrani yang mendengar ucapan Lu'er, segera dia menambahkan sedikit kata-kata yang digambarkan bahwa ia begitu sangat merindukan Lin Yar'an Putri tunggalnya itu.
"Selesaikanlah urusanmu itu dengan Kaisar Aximing wahai Suamiku, agar aku dapat berlama-lama dengan Putriku Lin, sungguh sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan dirinya. Aku begitu amat merindukanmu, Lin." Ucap, Ratu Fahrani kemudian dia segera bangkit dari duduknya untuk dapat menghampiri Lu'er.
Lu'er hanya terdiam ketika Ratu Fahrani mendekati dirinya. Kemudian dia segera meninggalkan Kaisar dan juga Raja Kaili, saat sudah berada diluar Istana, Permaisuri Jia Li dengan tegasnya berbicara kepada Lu'er sambil menatap tajam Wajahnya.
"Lin... Izinkan diriku memberikanmu sebuah nasehat." Ucap, Permaisuri Jia Li yang tengah berdiri dihadapan Lu'er dan juga Ratu Fahrani.
Hal itu membuat Ratu Fahrani tampak tertegun ketika melihat Permaisuri Jia Li yang mendekati mereka. Lu'er yang tengah berdiri dihadapan Permaisuri Jia Li dengan tatapan dingin, segera dia menjawab perkataan yang diberikan oleh Permaisuri Jia Li kepada dirinya.
"Apakah itu wahai Bunda Jia Li." Jawab, Lu'er. Dan itu adalah kali pertamanya memanggil Permaisuri Jia Li dengan sebutan Bunda.
Permaisuri Jia Li yang mendengar jawaban dari Lu'er, raut Wajahnya semakin menegas, lalu tanpa berbasa-basi lagi ia segera mengutarakan apa yang ingin disampaikannya itu kepada Lu'er.
"Berhati-hatilah, kau tidak akan pernah tau penjahat terbesar itu berasal dari orang terdekatmu sendiri! Dan dia tidak lebih dari setumpuk beban yang seharusnya segera disingkirkan, sebelum kehadirannya itu meninggalkan suatu penyakit yang mematikan!" Ucap, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menatap tajam Wajah Ratu Fahrani.
Lu'er tersenyum simpul ketika mendengar nasehat dari Permaisuri Jia Li, kemudian dia segera menjawab perkataan yang baru saja disampaikan oleh Wanita itu.
"Tentu saja, Lin akan senantiasa berwaspada, lagipula jika memang ada Manusia semacam itu, tanpa berpikir panjang lagi, Lin pasti akan menyingkirkannya. Tidaklah saya perduli siapakah dirinya didalam hidup saya, jika kehadirannya hanya memberikan suatu kesulitan untuk apa harus menggunakan hati dengan seorang Manusia yang tidak pantas untuk diberikan ketulusan hati, terima kasih saran dari Anda, Lin pasti akan senantiasa selalu mengingat apa yang baru saja Anda katakan kepada Lin dihari ini!" Jawab, Lu'er dengan tegas dihadapan semua orang yang tengah berada ditempat itu.
"Benar, terima kasih! Perkataanmu hari ini adalah sebuah isyarat untuk diriku, agar aku tidak memperlakukan musuhku dengan sangat baik lagi! Semua pergerakanku tergantung bagaimana kalian semua memainkan peran kalian masing-masing, jika kalian begitu sangat senang bersembunyi makan akan aku ikuti, jikalau sebaliknya sungguh aku tidak akan menolaknya!" Dalam benak Lu'er yang terlihat tengah memandang Wajah Permaisuri Jia Li dengan tatapan dingin, meskipun tampak dia tengah tersenyum simpul. Akan tetapi, sikap dingin yang ia miliki sungguh tidak dapat disembunyikannya.