
Setelah mereka saling bercengkrama cukup lama, Lu'er dengan cepat melepaskan dekapannya, begitupun juga dengan Ratu Fahrani, terlihat Ratu Fahrani seperti tengah dikejar sesuatu lalu dengan cepat ia berbicara kepada Lu'er sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Lu'er sendiri.
"Aku hampir lupa, aku harus memberi pelajaran kepada Wanita rendahan itu!" Dalam benak Ratu Fahrani yang terlihat tengah melepaskan dekapannya.
"Putriku sayang... Aku masih ada urusan lain, aku tidak bisa berlama-lama berada ditempat ini, selalu ingat pesanku... Ayah dan Ibu selalu merindukan dirimu, jangan lupa untuk berkunjung ke dalam Istana Wai tansu Putriku... Karena kami selalu menunggumu." Ucap, Ratu Fahrani yang segera berjalan untuk dapat meninggalkan Lu'er sendiri.
Lu'er yang mendengar setiap kalimat yang terlontar dari Mulut Ratu Fahrani sungguh membuat hatinya begitu amat miris.
"Sungguh ironi sekali, tentu aja aku akan berkunjung ke dalam Istana Wai tansu, tidak akan lama lagi, dan lihatlah hadiah apa yang nantinya akan aku persiapkan untuk kalian!" Kata, Lu'er yang tengah menatap Ratu Fahrani dari kejauhan.
Sistem Dewi yang mendengar perkataan dari Lu'er dengan segera ia menatap Wajah Lu'er, sambil berbicara kepadanya.
"Kakak cantik, kau harus berhati-hati, saat ini kau sudah seperti papan panah, sedangkan mereka adalah busurnya." Ucap, Sistem Dewi yang tengah memberikan penjelasan kepada Lu'er.
Lu'er sedikit melirik ke arah samping kiri, lalu ia segera menjawab perkataan dari Sistem Dewi dengan tegas.
"Begitukah?? Itu menurutmu, karena bagiku, aku adalah orang yang mengendalikan busur itu." Jawab, Lu'er yang segera memalingkan tatapannya, kemudian dia menatap setiap tanaman beracun yang tengah tumbuh dengan baik ditempat itu.
Sistem Dewi sungguh sangat tidak menduga, ternyata Lu'er mampu menipis perkataannya, Sistem Dewi merasa cukup bersalah ketika ia membandingkan Lu'er seperti papan panah.
"Narsis, kebetulan sekali kita di sini, banyak tumbuhan racun yang amat langka, aku bisa menggunakannya sebagai benteng ataupun juga sebagai penawar, ayo bantu aku narsis untuk mengambil beberapa tumbuhan langka ditempat ini, dan kita harus bergerak cepat, sebelum keluarga Kaisar curiga." Kata, Lu'er yang segera mendekati tanaman beracun itu satu persatu.
Sistem Dewi yang mendengar perkataan dari Lu'er dengan cepat ia merespons positif dan menjalankan perintah dari Lu'er untuk mengikutinya.
Lu'er berjalan dengan perlahan sambil terus memperhatikan tumbuhan itu, ia tengah mencari tanaman langka dan berkhasiat, ketika ia tengah memperhatikan setiap tanaman yang berada disampingnya, Lu'er tertegun ketika ia melihat sebuah bunga dengan warna keemasan yang sangat indah, bentuknya juga lebih kecil dan lebih unik dari tanaman yang lainnya.
"Indahnya... Bunga apa ini? Mengapa aku belum pernah sekalipun melihat tanaman dengan bentuk dan warna seindah ini? Di jamanku pun aku belum pernah melihatnya, Sistem narsis, coba kau lihat kemari, apakah kau tau tanaman apa ini?" tanya, Lu'er yang segera menatap ke arah Sistem Dewi sambil menunjukkan tanaman unik itu kepdanya.
Sistem Dewi yang saat itu tengah berada disamping tubuh Lu'er dengan cepat ia melihat tanaman yang dimaksud oleh Lu'er, raut Wajah Sistem Dewi seketika tampak terpinga-pinga ia begitu sangat tidak menyangka akan menemukan tanaman langka itu ditempat semacam ini.
"Hah! Ini adalah Tanaman langka, yang biasanya hanya dapat tumbuh didunia Dewi saja, aku sungguh sangat tidak menyangka ternyata Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik ditempat semacam ini?!" Jawab, Sistem Dewi yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah takjub dan juga terheran-heran.
"Dunia Dewi?! Tanaman langka? Tempat semacam ini? Apa maksudmu, cepat jelaskan kepadaku?!" Kata, Lu'er yang terlihat begitu sangat tidak ingin dibuat penasaran akan perkataan dari Sistem Dewi.
Sistem Dewi kemudian segera menjawab perkataan dari Lu'er sambil menatap tanaman itu dengan perasaan senang namun juga timbul sebuah rasa heran dalam dirinya.
"Tanaman ini adalah Bunga Si emas, di Dunia Dewi tanaman ini begitu sangat berbahaya, dan juga sangat langka untuk didapatkan." Jelas, Sistem Dewi yang tengah memberikan informasi kepada Lu'er.
"Hmh... Langka? Dari Dunia Dewi? Mungkinkah Bunga beracun ini sengaja ditanam oleh seseorang? Tidak mungkin bukan jika bibit dari Bunga ini jatuh begitu saja dari Dunia Dewi?" Ucap, Lu'er yang segera kembali menatap Bunga Si emas dengan tatapan dingin.
"Kau benar, Kakak cantik, Tanaman ini bisa dijadikan sebagai obat, dan juga dapat dijadikan sebagai racun dia memiliki peran penting dikeduanya." Jawab, Sistem Dewi yang kembali berbicara kepada Lu'er.
Lu'er tersenyum licik ketika mendengar perkataan dari Sistem Dewi mengenai tanaman itu.
"Sungguh pas sekali bukan? Mungkinkah lagi-lagi Dewa telah menjalankan perannya? Karena aku sudah menemukan dirimu, lantas mengapa tidak aku membawamu bersamaku?" dalam benak Lu'er yang terlihat begitu sangat puas ketika melihat Bunga Si yang tumbuh dan mekar dengan sangat baik.
"Kalau begitu sudah aku putuskan, dia harus ikut denganku!" Tanpa rasa ragu dalam dirinya Lu'er segera memetika Bunga dengan Warna keemasan, bentuk yang hampir menyerupai Bunga Lili.
Sistem Dewi yang melihat Lu'er dengan sigapnya memetik tanaman itu, membuat Sistem Dewi merasa sedikit resah.
"Hei Kakak cantik, tetapi tanaman itu bukanlah milikku, ini sama halnya dengan mencuri, jika pemilik dari Bunga Si itu murka bagimana?" ucap, Sistem Dewi yang terlihat tengah memperingati Lu'er untuk berhati-hati dalam bertindak.
"Bukankah ini tempat umum? Lagipula tidak ada papan peringatan disekitar tempat ini? Jika dia tidak terima, maka aku memperbolehkannya untuk datang dan menemui diriku secara langsung, dengan begitu akan aku kembalikan Bunga ini kepadanya." Jawab Lu'er yang terlihat tengah menggenggam setangkai Bunga Si, lalu dengan segera ia memasukkannya kedalam lengan pakaiannya.
"Ta... Tapi...." Ucap, Sistem Dewi yang merasa masih sangat tidak yakin akan perbuatan dari Lu'er.
"Suttt... Cerewet! Sudah aku harus kembali ke dalam Istana Kaisar, sepertinya aku sudah melewatkan beberapa adegan yang begitu sangat menegangkan di sana, jika kau ingin tetap berada ditempat ini, maka dengan senang hati aku mempersilahkan dirimu untuk tetap tinggal!" Kata, Lu'er yang segera berjalan untuk dapat keluar dari taman itu.
Sistem Dewi yang tidak mampu membantah perkataan dari Lu'er dengan perasaan yang masih curiga ia kemudian segera bergegas untuk dapat meninggalkan tempat itu dan kembali menyusul Lu'er.
Saat mereka telah meninggalkan tempat itu terlihat seseorang dengan bola Mata hitam petak tengah menatap tajam ke arah Lu'er, tubuhnya tidak dapat terlihat dengan jelas, yang tampak hanya bayangan hitam dengan sepasang Bola Mata hitam yang sangat tajam.