
Kurang lebih setengah jam Lu'er berjalan ditengah malam untuk dapat kembali ke Istana Shulin, jalanan yang ia tempuh cukup melelahkan, ditambah lagi ia harus melaluinya dimalam hari. Lu'er yang mulai merasa jenuh, tiba-tiba saja dikejutkan oleh Sistem Dewi, hal itu membuat dirinya cukup terkejut.
"Kakak cantik... Kakak cantik...." Ucap, Sistem Dewi yang terlihat sangat senang ketika melihat sesuatu dihadapannya.
"Emh?!" Jawab Lu'er dengan cepat, sambil menatap ke arah Sistem Dewi yang saat itu tengah memanggil dirinya.
"Lihatlah didepan sana...." Kata, Sistem Dewi yang terlihat tengah menunjukkan sesuatu kepada dirinya.
Lu'er yang sebenarnya tidak perduli, dengan cepat ia melirikkan sepasang bola Mata hijau ke arah depan, dari kejauhan ia melihat sebuah Istana yang sederhana. Namun memiki interior yang cukup elegan dan menenangkan, jika Lu'er lihat-lihat Istana itu begitu sangat cocok dengan sifat dari Permaisuri Lin Yar'an yang sangat anggun dan murah hati, jika dilihat dari luar bangunan Istana itu cukup mewah bagi Lu'er, warna biru yang dipadukan dengan warna keemasan, membuat suasana tenang namun juga tidak menyembunyikan sisi mewah dari Istana Shulin.
"Sungguh sangat indah sekali, kau bilang ini Istana yang sederhana, tetapi bagiku ini adalah Istana impian, yah meskipun jika dilihat dari luar memang tidak semegah dan sebesar Istana Elpis, tetapi aku merasa bahwa Istana ini memang sangat cocok untuk Permaisuri Lin Yar'an, kalau begitu kita harus cepat masuk ke dalam Istana, aku sudah sangat tidak sabar lagi, aku harus menghangatkan tubuhku." Ucap, Lu'er yang segera berjalan untuk dapat menghampiri Istana Shulin.
Lu'er yang melihat didepan Istana tengah dijaga dengan ketat oleh para Penjaga, membuat dirinya sangat malas berjumpa dengan Penjaga Istana yang nantinya malah akan menyulitkan dirinya. Lu'er kemudian mencari akal agar dapat masuk ke dalam Istana tanpa harus melewati para Penjaga.
Terlihat bola Mata bulat dan besar tengah berputar ke kanan dan ke kiri, sampai pada akhirnya Lu'er melihat sebuah tembok besar dan cukup tinggi letaknya berada disamping para Penjaga, Lu'er kemudian kembali mengintip para Penjaga Istana yang tengah mematung didepan pintu gerbang Istana Shulin. Melihat situasi cukup kondusif dan aman terkendali membuat Lu'er tidak membuang waktu lagi, dia segera berjalan untuk dapat mendekati tembok besar dan tinggi itu.
Mulanya Lu'er cukup dibuat kesulitan untuk dapat masuk melalui tembok besar Istana. Namun Lu'er segera mencari cara agar dia dapat memanjat tembok itu dengan mudah. Lu'er dibuat tertegun ketika ada sebuah Pohon besar tengah berdiri tegak disampingnya, seakan Pohon itu memanggil-manggil namanya.
"Lu'er... Kemarilah, aku bersedia kau jadikan pijakan untuk dapat masuk ke dalam Istana." Dalam bayangan Lu'er Pohon itu terlihat tengah menyerahkan dirinya kepada Lu'er, kemudian Lu'er segera tersenyum simpul ketika melihat rencananya seperti sangat dimudahkan, para Dewa dan Dewi seakan mendukung niatnya itu.
"Aku tidak ingat disini ada Pohon yang cukup besar, ah sudahlah mungkin Mataku kurang teliti saja, huft...." Ucap, Lu'er yang tengah bersiap untuk dapat memanjat Pohon besar itu.
Sistem Dewi yang melihatnya terlihat tengah menyemangati Lu'er agar tidak menyerah.
"Kakak... Kau pasti bisa... Semangat." Teriak Sistem Dewi yang tengah menyemangati Lu'er, suaranya yang melengking sungguh membuat telinga Lu'er ingin menjadi tuli.
"Berisik... Ini tidak sedang dalam ajang perlombaan! Apakah kau tidak sadar suaramu itu dapat membuat orang hampir mati, untung saja Majiakanmu ini kebal, jika kau masih bersuara lagi maka aku akan menghukum dirimu!" Ucap, Lu'er dengan raut Wajah kesal, sorot Matanya menatap Sistem Dewi dengan tajam.
Sistem Dewi yang melihat Lu'er marah membuat dirinya turut merasa kesal.
"Aku sungguh tidak sanggup lagi, Mulutnya yang pedas itu, membuat diriku merasa ingin menelan air Mataku sendiri." Dalam benak Sistem Dewi yang terlihat tengah mematung dihadapan Lu'er.
"Sungguh ahli sekali." Dalam benak Sistem Dewi yang segera menelan ludahnya.
"Hah... Akhirnya, semua terlihat aman, tenang... Tenang... Dan...." Syat... Lu'er meloncat ke bawah dengan cepat, tanpa terluka sedikitpun ia segera bangkit dan membersihkan Pakaiannya yang terkena oleh debu.
Sambil melirik ke arah kiri, ia mengamati kedua Penjaga Istana yang terlihat masih tenang, dan seperti tidak curiga akan pergerakannya.
"Huft... Bagus Lu'er dan sekarang waktunya untuk kembali ke kamar, dan tidur dengan puas...." Ucap, Lu'er dengan perasaan senang, kemudian dia segera berjalan untuk dapat masuk ke dalam Istana.
"Etiss... Tidak semudah itu Kakak cantik tukang rebahan, kau harus melewati para Pelayan terlebih dahulu sepertinya." Ucap, Sistem Dewi yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya.
Lu'er yang semula merasa senang, dengan cepat ia menunjukkan raut Wajah kaku dan kesal, dalam benak Lu'er ketika melihat Wajah Sistem Dewi yang tengah berada dihadapannya. "Wtf! Lin Yar'an sebenarnya seberapa banyak orang yang membenci dirimu." Seakan ia ingin mengacungkan cari tengah dihadapan Sistem Dewi.
"Ah... Kau ini selalu mengacaukan hari indahku. Hanya Pelayan, kan? Apa yang perlu aku takutkan? Kita lihat sehebat apa Pelayan itu!" Ucap, Lu'er yang segera berjalan untuk dapat memasuki Istana.
Sistem Dewi yang mendengar perkataan dari Lu'er. Hal itu membuat dirinya merasa sangat bangga kepada Lu'er, dia bukan hanya cerdas. Namun, juga sangat berani.
"Aku sungguh sangat beruntung mendapatkan Majikan seperti dirimu." Dalam benak Sistem Dewi yang terlihat sangat senang.
"Padahal sebelumnya kau ingin menyerah, tetapi sekarang kau berkata sangat beruntung memiliki Majikan seperti dirinya, dasar Pria labil!" Hanya suara alam yang tengah berbicara, tidak ada yang mendengarnya.
Terlihat Lu'er tengah berjalan dengan santainya, ia kemudian menaiki anak tangga yang hanya berjajar tiga, Lalu Lu'er segera berjalan dengan cepat untuk dapat segera masuk ke dalam kamarnya, dengan tujuan agar ia tidak dipertemukan dengan para Pelayan.
Saat Lu'er tengah berjalan dengan cepat tiba-tiba ia mendengar suara Wanita yang memiliki suara tidak muda lagi dari arah belakang.
"Permaisuri Lin Yar'an?! Darimana saja kau?!" Ucap, seorang Pelayan yang tengah berbicara kepada Lu'er dengan dingin.
"Sial!" Dalam benak Lu'er yang segera menghentikan langkahnya, lalu secepat mungkin ia segera membalikan tubuhnya untuk dapat berhadapan dengan salah seorang Pelayan itu.