
Lu'er kemudian berjalan untuk dapat keluar dari dalam Istana Kibo. Namun, sebelum itu Lu'er, menatap Sistem Dewi yang masih berada dibawah tanah dengan kondisi tidak sadarkan diri. Lu'er mengerutkan dahinya dengan cepat, ia seakan tak perduli dengan nasib dari Sistem Dewi, ia berjalan untuk segera meninggalkan tempat itu, sebelum ada orang lain yang melihat dirinya.
Tak lama kemudian Sistem Dewi tersadar, melihat dirinya tidak diperdulikan oleh Lu'er, sikapnya juga begitu sangat dingin, ia sebelumnya tidak pernah melihat seorang Wanita yang begitu tega dan dingin terhadap seorang Pria.
"Aduh... Kepalaku... Dan dia malah meninggalkan diriku sendiri disini." Kata, Sistem Dewi yang segera bangkit dan menatap Lu'er ketika dia tengah berjalan untuk dapat menghampiri tembok besar.
Lu'er menatap sebuah buntalan kain hitam, tanpa rasa takut ia segera menghentikan langkahnya tepat disamping kain hitam yang tertutup itu. Lu'er segera merendahkan tubuhnya ia kemudian menarik ikatan dari kain hitam itu, tak lama kemudian keluarlah dia ekor ular besar dan berbisa dihadapannya.
Ular-Ular itu tampak sangat ingin menerkam Lu'er, tatapannya terlihat marah ketika melihat Lu'er, Lu'er hanya terdiam dengan raut Wajah dingin ketika menatap Ular berbisa itu.
"Hei... Seharusnya kau itu berterima kasih kepada diriku, berkatku kau bebas bukan? Orang yang melakukan hal ini kepada dirimu ada disana, beri mereka pelajaran yang sangat manis, lalu... Buatlah permainan yang sangat indah untukku." Kata, Lu'er dengan tersenyum licik dihadapan Ular berbisa itu.
Ke-dua Ular itu sangat tak menyangka ketika Lu'er dapat berbicara dengan dirinya, dan mereka pun baru teringat jika orang yang berada dihadapannya saat itu sangat berbeda dengan Orang yang pertama kali mereka lihat.
"Dia sedang berbicara dengan kita?" ucap, salah satu Ular berbisa itu dengan perasaan bingung.
"Iya... Aku memang bisa berbicara dengan kalian, lalu... Imbalan apa yang akan kalian berikan kepada diriku? Jika bukan menuruti keinginanku?" ucap, Lu'er yang terlihat tengah menatap dingin ke-dua Ular itu sambil tersenyum licik dihadapannya.
Ke-dua ekor Ular itu tampak terpinga-pinga ketika ada seseorang yang dapat berkomunikasi dengan mereka.
"Ternyata benar, dia memanglah dapat mengerti bahasa kita." Ular yang semula sangat garang itu dengan segera bersikap sopan dihadapan Lu'er.
"Maafkan kami, Nona... Perintah dari Anda segera kami laksanakan." Ucap, Ke-dua Ular itu yang segera merayap diatas tanah cokelat, untuk dapat menghampiri Selir Fengying.
Lu'er terdiam dingin ketika melihat Ular itu cukup tau diri, ia menatap ke arah Ular itu yang tengah merayap untuk dapat memberikan kejutan kepada Selir Fengying.
"Sayang sekali... Aku masih ada urusan, jadi pertunjukkan sebagus ini tidak dapat aku saksikan." Kata, Lu'er yang segera melanjutkan langkahnya untuk dapat keluar dari dalam Istana Kibo.
Lu'er melihat tembok itu begitu sangat tinggi, dengan perlahan Lu'er menundukkan pandangannya ke arah kiri, dilihatnya ada sebuah batu yang bisa ia jadikan pijakan, dengan cepat Lu'er segera menginjak batu itu dan dengan usaha yang cukup melelahkan Lu'er akhirnya dapat sampai pada puncak tembok itu, lengannya menggenggam erat puncak dari tembok itu, sampai pada akhirnya Lu'er dapat berdiri diatas tembok itu, ia menatap ke arah bawah dilihatnya tanah begitu sangat jauh dari dirinya saat itu.
"Huh... Semoga aku akan baik-baik saja." Lu'er kemudian segera meloncat ke bawah dengan perasaan yang sebenarnya masih sedikit ragu, akan keputusannya itu.
Saat sudah berada dibawah Lu'er perlahan membuka sepasang Matanya, ia terlihat baik-baik saja, dengan cepat Lu'er bergegas untuk dapat meninggalkan Istana Kibo. Saat Lu'er tengah berjalan Sistem Dewi dengan tiba-tiba saja sudah berada disamping Lu'er.
Lu'er terdiam ketika mendengar perkataan dari Sistem Dewi, agaknya ia sudah mengerti dengan semua petunjuk yang diberikan oleh Sistem Dewi kepada dirinya.
°^°^
Sedangkan dibelakang Istana Kibo, terlihat Selir Fengying yang tengah bangkit dari dalam kubangan berlumpur, tubuhnya memerah sebab tergigit oleh Lebah itu, Selir Fengying tampak merasa sangat kesakitan akan gigitan dari Lebah itu, ketika sekumpulan Lebah itu telah meninggalkan dirinya, ia tampak tengah mengeluh sambil merintih kesakitan.
"Aduh... Sial sekali! Ah... Tubuhku sakit sekali." Ucap, Selir Fengying yang terlihat tengah bangkit dari tempatnya.
Sssst.... Sssst... Sssst...." Tak lama kemudian Selir Fengying mendengar suara aneh dari samping kirinya, ia tampak tertegun kaku, raut Wajahnya pun sangat panik ketika mendengar suara dari desisisan Ular.
Selir Fengying kemudian memberanikan diri untuk dapat melirik ke arah samping kiri, meskipun tubuhnya saat itu sudah bergetar dan degup jantungnya tampak tak beraturan. Dilihatnya dua ekor Ular dengan sepasang Mata merah menayala-nyala dihadapannya.
"Aaaaaaa...." Suara teriakan dari Selir Fengying terdengar sangat kencang, bahkan menggema didalam Istana Kibo.
^°^
Lu'er yang masih berjalan lurus mengikuti arahan dari Sistem Dewi dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan Lu'er hanya mampu menunjukkan raut Wajah dingin. Sampai pada akhirnya dia benar-benar disambut oleh tumbuhan Daffodil, Lu'er terdiam sejenak kemudian ia segera berjalan untuk dapat memasuki Taman Youdou, atau orang biasa menyebutnya surganya racun.
Lu'er memang terlihat sangat heran mengapa Ratu Fahrani begitu sangat ingin bertemu dengan dirinya ditempat semacam itu. Namun, Lu'er tidak ingin banyak menerka-nerka karena jawabannya akan segera ia dapatkan.
Saat Lu'er tengah berjalan dilihatnya ada seorang Wanita dengan berpakaian gaun panjang berwarna oranye, tengah berdiri membelakangi dirinya. Lu'er terlihat tengah memperhatikan sekitar di Taman itu begitu melimpah tumbuhan beracun.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Ucap, Lu'er dengan tatapan dingin dan nada bicara tegas kepada Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang tertegun akan suara dari Lu'er dengan cepat ia segera membalikkan tubuhnya untuk dapat menatap diri Lu'er yang tengah berada dibelakangnya.
"Aku pikir kau tidak ingin lagi menemui Ibumu ini, Lin Bagaimana kondisimu saat ini? Aku lihat kondisimu sudah sangat baik dari sebelumnya? Apakah mereka benar-benar memperlakukan dirimu dengan sangat baik?" ucap, Ratu Fahrani yang terlihat tengah menatap Lu'er dengan perasaan curgia.
Lu'er yang mendengar perkataan dari Ratu Fahrani, sekilas mungkin orang lain akan beranggapan bahwa dia adalah seorang Ibu yang sangat lembut dan menyayangi Putrinya. Namun, tatapan itu memiliki sebuah makna lain yang tersembunyi dari caranya berbicara pun tampak ia bukan tengah mengkhawatirkan kondisi dari Lin, melainkan ia hanya ingin mengetahui sesuatu dari dirinya. Lu'er tersenyum kecil ketika melihat sandiwara yang sangat sempurna itu. Namun, sangat disayangkan Lu'er bukanlah seorang Wanita yang mudah untuk diperdaya akan kata-kata manis.
"Hmh... Mencurigakan, sesuatu yang terlihat manis pasti menyimpan makna yang sangat buruk." Dalam benak Lu'er ketika tengah menatap Ratu Fahrani dengan senyuman dingin.