
Sedangkan didalam ruangan Permaisuri Jia Li, setelah Lu'er meninggalkan ruangan Kaisar semua orang juga turut pergi dari tempat itu, meskipun suasana hati mereka semua tengah diselimuti rasa kesal terhadap Lu'er, Permaisuri Jia Li, tampak tengah berdiri tegak menatap ke arah jendela yang terbuka, ke empat Putranya terlihat tengah memperhatikan Permaisuri Jia Li dengan tampang dingin.
"Aku harus bisa menyingkirkan Lin Yar'an dari tempat ini, aku harus bisa membuat seluruh keturunan dari keluarganya menderita! Mati secara mengenaskan! Rasa sakit hati ini tidak bisa begitu saja aku lupakan, sebelum dendam itu tersampaikan! Mereka yang telah membuat hidupku menderita, mereka yang telah bersikap semena-mena terhadap diriku! Mereka semua pantas untuk menderita! Aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengecap kemanisan!" Dalam benak Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menatap langit biru dengan tajam.
Putra Mahkota yang melihat Permaisuri Jia Li sedari tadi hanya terdiam membuat dirinya merasa curiga, dengan tegas Putra Mahkota segera memulai pembicaraan agar suasana tidak semakin canggung.
"Bunda... Saat ini apa yang harus kita lakukan, aku begitu sangat muak melihat keberadaan Lin didalam Istana ini, kau tau kan Bunda sedari dulu aku tidak pernah ingin menikah dengan Wanita itu, apakah kau akan membiarkan Putramu ini setiap detik selalu dihantui dengan penderitaan?!" Ucap, Putra Mahkota yang terlihat tengah berharap agar Permaisuri Jia Li mendukung dirinya.
Permaisuri Jia Li yang mendengar rengekkan dari Putranya dengan segera ia melirikkan pandangannya ke arah samping kiri, tatapannya begitu sangat dingin saat menatap Putra Mahkota. Hal itu membuat Zhang Jiangwu merasa amat tertegun saat Permaisuri Jia Li menatap dirinya dengan tatapan semacam itu.
"Jika kau tidak bodoh mungkin semuanya tidak akan menjadi sekacau ini! Kau bilang dirimu dan juga Selir kesayanganmu itu sudah membereskan Wanita itu! Tapi apa, kau lihat Wanita itu kini telah berada didalam Istana ini! Bahkan dia mampu untuk membela diri dihadapan Kaisar, saat semua orang telah memojokkannya!" Bentak Permaisuri Jia Li yang segera memalingkan tubuhnya untuk dapat menatap Putra Mahkota dengan tatapan tajam dan dingin.
Putra Mahkota yang mendengar perkataan dari Permaisuri Jia Li yang tampak tengah menyalahkan dirinya, membuat Zhang Jiangwu begitu sangat tidak terima dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Bundanya.
"Ini bukanlah kesalahanku! Tetapi semua ini karena Selir Fengying lah yang begitu sangat teledor! Dia begitu sangat ceroboh sehingga ia berpikir bahwa Wanita itu sudah mati!" Kata, Zhang Jiangwu yang terlihat sangat tidak ingin disalahkan, sehingga dia memilih untuk memberikan semua masalah itu kepada Selir Fengying.
Permaisuri Jia Li yang tampak kesal akan penjelasan dari Putra Mahkota membuat dirinya mengerutkan dahinya dihadapan ke empat Putranya, Pangeran ke tiga yang melihat Kakak dan juga Ibunya ketika itu tengah saling berada dipuncak emosi, membuat dirinya dengan segera berbicara untuk meredakan emosi dari keduanya.
"Bunda... Kakak pertama... Kita berkumpul di sini bukan untuk saling menyalahkan satu sama lain, tetapi kita di sini untuk saling memperkuat ikatan keluarga ini, Bunda... Tujuan kita di sini semua sama, untuk melenyapkan Lin Yar'an, dan juga Anak haram itu, saat ini seharusnya kita membuat sebuah rencana agar dapat melenyapkan kedua orang itu dari tempat ini untuk selamanya, bukan kah begitu Kakak? Bunda?" ucap, Pangeran ke tiga yang terlihat tengah mencairkan suasana agar tidak semakin memanas.
Permaisuri Jia Li dan juga Putra Mahkota yang mendengar perkataan dari Pangeran ke tiga, membuat mereka saling berpikir, lalu Permaisuri Jia Li kembali menambah perbincangannya.
"Kau memanglah benar Putraku... Tujuan kita berkumpul di sini adalah untuk menyusun rencana agar dapat menyingkirkan kedua orang itu, tetapi... Karena Lin yang sekarang tidak mudah untuk kita usik begitu saja, maka kita harus menggunakan cara yang sedikit lembut." Ucap, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah dingin dan licik dihadapan ke empat Putranya.
Zhang Jiangwu dan juga Minghao yang mendengar perkataan dari Permaisuri Jia Li terlihat tengah bingung akan apa yang sebenarnya apa yang telah direncanakan oleh Bundanya itu. Pangeran ke dua yang sedari tadi hanya terdiam, dengan nada bicara tegas ia segera memulai pembicaraannya dihadapan Permaisuri Jia Li.
"Sebenarnya apa yang telah Bunda rencakan?" kata, Pangeran ke dua yang terlihat tengah menunjukkan raut Wajah penasaran dan bingung dihadapan Permaisuri Jia Li.
"Mendekatlah... Aku tidak ingin rencana ini sampai didengar oleh orang lain." Jawab, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah meminta kepada ke empat Putranya untuk mendekati dirinya.
Tanpa pikir panjang ke empat Pangeran segera mendekati tubuh Permaisuri Jia Li, terlihat Permaisuri Jia Li tengah berbisik kepada Putranya dengan amat serius, ke empat Pangeran yang mendengar rencana yang telah dibuat oleh Permaisuri Jia Li yang terbilang cukup singkat, membuat Putra Mahkota merasa sangat senang dibuatnya.
"Hahaha... Luar biasa, rencana yang sangat luar biasa, kau memanglah yang terbaik Bunda...." Ucap, Zhang Jiangwu yang terlihat tengah menatap Wajah Permaisuri Jia Li dengan tatapan senang.
Permaisuri Jia Li yang mendengar perkataan yang diucapkan oleh Putra sulungnya membuat dirinya menunjukkan raut Wajah dingin dan licik, lalu Permaisuri Jia Li dengan perlahan memalingkan pandangannya ke arah samping kanan.
"Hmh...! Lin tamatlah riwayatmu! Jika kau tidak ingin menderita seharusnya kau tidak terlahir dari rahim Wanita hina itu! Dari keluarga Wai tansu yang begitu sangat menjijikkan di Mataku!" Dalam benak Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah termenung dalam lamunannya.
^°^°
Sedangkan di luar Istana Kibo, masih terlihat Lu'er dan juga Pangeran ke lima yang saling bercengkrama.
"Pergilah! Kau ternyata sama saja dengan mereka!" Ucap, Pangeran Xiuhuan yang terlihat marah kepada Lu'er. Dengan cepat ia kembali membuang pandangannya, lalu Pangeran Xiuhuan berjalan untuk dapat meninggalkan Lu'er sendirian di tempat itu.
Lu'er yang melihat Pangeran Xiuhuan yang begitu sangat aneh, dan juga dia terlihat bukan seperti Pria dewasa kebanyakan, membuat Lu'er begitu sangat malas meladeni Pangeran Xiuhuan.
"Aihh... Sungguh Pria yang sangat sensitif sekali, tapi... Bukankah ini sangat bagus? Setidaknya dengan begini kita tidak akan pernah saling akrab." Dalam benak Lu'er yang terlihat masih melihat Pangeran Xiuhuan dengan tatapan dingin.
Saat Pangeran Xiuhuan tengah berjalan untuk dapat meninggalkan tempat itu, Lu'er dengan segera memalingkan tubuhnya tanpa berpikir lagi ia bergegas untuk dapat meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam Kamarnya.
Pangeran Xiuhuan yang tengah berjalan untuk dapat meniggalkan Lu'er dengan segera ia sedikit melirikkan pandangannya ke arah kiri dengan sedikit tersenyum dingin dan licik terhadap Lu'er. Lalu, langkanya kembali ia percepat.