Cruel Empress

Cruel Empress
Chapter 86 ~ Lebih Dari Cinta.



Sosok Wanita yang berada didalam cermin itu, terlihat begitu sangat ingin mendekati Lu'er. Akan tetapi kini kondisi Lu'er yang masih belum pulih, sehingga dia tak bisa bergerak bebas. Tatapan Matanya terus tertuju kepada bayangan didalam cermin itu.


Dan tiba-tiba....


"Kakak, cantik! Akhirnya aku bisa bersama dengan dirimu lagi, huhuhu...." Sistem Dewi yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Lu'er. Dengan raut Wajah sedih, kini dalam pandangan Lu'er yang terlihat adalah Wajah bulat biru Sistem Dewi yang terlihat begitu sangat menyedihkan.


"Kau?!" Dengan terkejut Lu'er sedikit menarik tubuhnya ke belakang. Agar dapat sedikit menjauh dari Sistem Dewi yang saat itu begitu sangat dekat dengan dirinya.


"Huaa... Ada apa denganmu?! Tubuh mulus yang cantik dan putih ini! Astaga kau terluka?! Ini adalah luka yang sangat dalam sekali?! Mengapa kau bisa mendapatkan luka sebanyak ini?! Apakah Pangeran itu tidak bisa menjagamu dengan baik!" Ucap, Sistem Dewi yang terlihat begitu sangat cemas ketika melihat luka pada tubuh Lu'er.


Lu'er yang tidak memperdulikan Sistem Dewi, tampak dia terus melihat cermin besar yang berada dihadapannya. Akan tetapi bayangan yang berada didalam cermin itu telah menghilang, setelah Sistem Dewi muncul.


"Ah sial!" Gumam Lu'er yang masih terus memperhatikan Cermin besar itu dengan perasaan kesal.


Sistem Dewi terkejut saat Lu'er yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu kepada dirinya. Dia berpikir bahwa saat itu Lu'er tengah berbicara dengan dirinya.


"Aish?! Apakah kau benar-benar marah padaku? Aku minta maaf, karena kita sudah terhubung satu sama lain, jadi apapun yang terjadi denganmu itu sepenuhnya adalah tanggung jawabku!" Kata, Sistem Dewi dengan tegas. Kemudian dia mulai memejamkan Matanya untuk dapat memberikan pemulihan kepada Lu'er.


Lu'er yang melihat Sistem Dewi telah salah paham dengan dirinya. Raut Wajahnya tiba-tiba berubah tidak senang. Saat dia ingin memberikan penjelasan kepada Sistem Dewi, dirinya dikejutkan dengan tubuh Sistem Dewi yang berubah menjadi seorang Pria yang sangat tampan dihadapannya. Dengan mengenakan pakaian berwarna putih, rambut pendek dengan warna biru tua, bola Mata biru yang kini tengah menatap tajam Wajah Lu'er.


"Hah?! Astaga! Kau... Kau... Kau..." Terlihat Wajah Lu'er yang sangat gugup saat dihadapannya tengah menduduki tubuhnya seorang Pria dewasa.


"Menjauh dariku! Tubuhku sakit, apa kau tau! Aku ini sedang terluka apakah kau ini bodoh!" Teriak, Lu'er dengan perasaan kesal. Lalu, segera dia mendorong tubuh Sistem Dewi dengan cukup keras, sehingga dia terjauh dari atas Kasur.


"Aduh... Hah...?! Kakak cantik ini!" Dengan cepat dia bangkit dan berjalan mendekati Lu'er. Sambil membawa sebuah gulungan kertas, dan juga sebuah sinar putih didalam kepalan tangan kanannya.


Lu'er yang masih kesal terhadap Sistem Dewi segera dia berbicara kepadanya.


"Apakah kau bodoh! Kau adalah Pria, memperlakukan seorang Wanita seperti itu adalah sebuah kejahatan! Dan lagi, mengapa kau berubah wujud menjadi seorang Pria? Apakah kau sudah bosan menjadi bola bulat biru yang sangat konyol?" kata, Lu'er yang terlihat tengah menyindir Sistem Dewi dengan pedas.


"Inilah wujud asliku! Akan tetapi aku hanya menyesuaikan diri saja, agar dapat bergerak lebih mudah. Hmm, kau ini! Kemari biar aku bantu kau mengobati lukamu." Kata, Sistem Dewi yang segera duduk atas Kasur tepatnya disamping Lu'er.


Lu'er semakin tertegun saat dia melihat sinar yang sangat terang, berwarna putih tanpa cacat tengah berada didalam genggaman tangan Sistem Dewi. Dan juga gulungan kertas putih yang dia genggam disebelah tangan yang satunya.


"Tunggu! Gulungan apa itu yang berada ditangan kirimu?" tanya, Lu'er dengan perasaan bingung.


Sistem Dewi kemudian mulai mengangkat Tangan kanannya dihadapan Lu'er, sehingga sinar putih yang sangat terang itu kini tengah menyentuh tubuh Lu'er.


"Ini adalah kertas tempat dimana aku mencatat semua Misi yang akan kau kerjaan." Jelasnya yang terlihat sangat pokus ketika tengah mengobati luka Lu'er.


Lu'er terdiam sejenak, kemudian dia mulai berbicara lagi kepadanya.


"Jadi semuanya baru akan dimulai? Hah... Apakah kau ini tengah mencoba untuk menyiksa diriku?" kata, Lu'er yang terlihat sangat tak menyangka. Wajahnya begitu kesal kepada Sistem Dewi.


"Apa maksudmu? Bukankah aku sudah pernah berkata sebelumnya, semuanya tergantung pada diriku, dan bagaimana kau menyelesaikannya! Sebaiknya jangan berbicara dulu, aku tengah berkonsentrasi untuk menyembuhkan lukamu, ini luka yang cukup dalam, apakah sebelumnya kau telah berusaha untuk menyembuhkannya?" tanya, Sistem Dewi yang tengah menatap Wajah Lu'er dengan tegas.


Lu'er terkejut saat mendengar pertanyaan darinya. Kemudian dia mencoba untuk bertanya kepada Sistem Dewi agar dia paham masalah apa yang akan terjadi.


"Itu cukup beresiko, meskipun luka yang kau alami dapat pulih dengan cepat, akan tetapi ini adalah luka yang diakibatkan oleh Siluman, hmmm, lantas bagaimana kau mengobati luka ini?" kata, Sistem Dewi lalu Wajahnya segera ia tundukkan ke bawah. Dengan raut Wajah yang terlihat khawatir.


Lu'er yang melihat perubahan ekspresi dari dirinya, sontak saja hal itu membuat dirinya teringat akan Pangeran Rui.


"Aku tidak pernah menyembuhkannya? Hanya saja Rui memberikan diriku sebuah ramuan, hmm... Apakah itu dapat menimbulkan sebuah masalah?" tanya, Lu'er yang terlihat sangat tegas ketika dia bertanya kepada Sistem Dewi.


Sistem Dewi yang tengah menyembuhkan luka Lu'er, segera dia menjawab tanya dari Wanita itu.


"Apakah kau yakin, dia hanya memberikan ramuan itu saja kepadamu?" tanya, Sistem Dewi yang segera menatap Wajah Lu'er.


Lu'er terkejut saat mendengar pertanyaan itu. Saat dia sadar, tiba-tiba saja dirinya sudah berada didalam gubuk tua, dan Pangeran Rui yang sudah berada disampingnya dengan membawa sebuah ramuan. Akan tetapi sebelum Lu'er tersadar dia tidaklah tau apa yang sudah Pangeran Rui lakukan kepada dirinya.


"Hmm... Aku tidak yakin, karena pada saat aku sadar dia sudah berada disampingku, dan memberikanku sebuah ramuan untuk aku minum? Mungkin saja sebelum aku tersadar dia telah mengobati lukaku terlebih dahulu? Lantas masalah seperti apa yang akan dia alami, setelah melakukan kontak dengan diriku?" tanya, Lu'er dengan raut Wajah bingung dan penasaran dihadapan Sistem Dewi.


"Dia akan merasakan sakit yang sama seperti apa yang kau alami saat ini, terlebih lagi dia Manusia seperti dirimu, sehebat apapun kekuatan yang dia miliki, karena luka ini diakibatkan oleh Siluman, maka seharusnya diobati dengan cara yang tepat! Dan aku rasa luka yang kau alami saat ini telah terbagi dengan dirinya, jadi kemungkinan dia juga merasakan sakit yang kau alami saat ini, karena, aku dapat merasakan bahwa luka dalam itu, bukan ditekan, melainkan diambil secara paksa agar dapat keluar dari dalam tubuhmu." Ucap, Sistem Dewi yang menundukkan Wajahnya. Dan terus pokus akan apa yang dia lakukan.


Lu'er sungguh sangat tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar dari Sistem Dewi.


"Mengapa kau lakukan ini, bodoh! Tapi saat aku melihat Wajahmu tidak terlihat sedikitpun Wajah kesakitan, bahkan kau masih mampu untuk tersenyum kepadaku? Aku berhutang padamu Rui!" Dalam benak Lu'er. Lalu, pandangannya segera dia palingkan ke arah sebelah kiri.


^°^°


Sedangkan ditempat lain, Pangeran Rui yang masih berada diatas langit, meninggi dengan Burungnya. Tiba-tiba saja Zi yang tidak banyak bicara itu mulai bertanya kepada Pangeran Rui. Suara berat dan besar itu membuat Pangeran Rui menatap Wajah Zi.


"Mengapa kau lakukan itu? Apakah saat ini kita harus bertemu dengan Guru Liang? Agar kau dapat menyembuhkan lukamu itu?" kata, Zi dengan suara berat dan tegas kepada Pangeran Rui.


Pangeran Rui yang mendengar Zi berbicara kepadanya, segera dia membalas perkataan itu.


"Bagaimana kau bisa tau jika aku terluka?" tanya, Pangeran Rui dengan raut Wajah dingin, tanpa senyuman dibibirnya.


Bola Mata Zi yang berwarna kuning itu, terlihat begitu sangat tajam saat mendengar ucapan dari Pangeran Rui.


"Aku dapat merasakannya, apakah kau benar-benar telah jatuh hati kepada gadis itu?" tanya Zi dengan tegas.


Pangeran Rui terdiam dingin saat mendengar pertanyaan dari Burungnya.


"Hmm, aku pikir kau adalah Zi yang pendiam, tetapi mengapa sekarang ini kau malah mulai banyak bertanya kepadaku?" kata, Pangeran Rui dengan tegas dan dingin.


"Aku hanya ingin berbicara dengan dirimu saja. Aku sungguh sangat tidak menyangka, kau begitu sangat berani melakukan hal semacam ini kepada seorang Wanita yang jelas-jelas sudah bersuami, dan apakah kau pikir dia dapat mencintai dirimu?" tanya, Zi dengan tegas.


Pangeran Rui yang mendengar perkataan Zi, dia terdiam sejenak. Kemudian dia mulai memberikan jawaban.


"Dia pernah berkata kepada diriku, bahwa dia belum menikah, meskipun hal itu terdengar sangat bodoh, tetapi aku berusaha untuk mempercayainya, aku juga tidak tau mengapa dia menyembunyikan kebenaran itu dariku. Jika bicara perkara cinta, aku bahkan tidak tau cinta itu seperti apa. Karena yang aku tau, aku hanya ingin melindungi dirinya. Bagiku, pengorbanan dan keikhlasan adalah sebuah rasa yang tidak dapat diukur oleh apapun." Jelas, Pangeran Rui yang tengah menatap Bulan yang terlihat sangat terang dengan sinarnya.