
Lu'er terdiam dingin ketika tengah menatap Pangeran Xiuhuan, didalam benaknya tak mampu ia mempercayai Pria itu. Sungguh banyak tanda tanya yang memenuhi otaknya. Namun, tidak lama kemudian Lu'er tersadar bahwasanya bukan hanya masalah semacam itu yang membebankan dirinya, tetapi masih banyak lagi masalah yang lainnya.
"Kau adalah Wanita yang sangat cerdas, saya amat berterimakasih atas prinsip yang sudah anda pegang dengan teguh." Kata, Pangeran Xiuhuan yang sebenarnya telah tertarik dengan Lu'er, tatapan Matanya begitu sangat dalam, ketika tengah memandangi Wajah Lu'er.
Lu'er yang mendengar perkataan Pangeran Xiuhuan, sungguh ia begitu sangat paham apa yang tengah Pria itu maksudkan kepada dirinya, dengan raut Wajah yang masih sama Lu'er mulai menjawab perkataan dari Pria itu.
"Terima kasih, atas pujiannya Pangeran, jika tidak ada yang ingin anda bicarakan lagi dengan saya, kalau begitu saya mohon pamit." Ucap, Lu'er yang segera memalingkan tubuhnya untuk dapat meninggalkan Pangeran Xiuhuan.
Pangeran Xiuhuan masih terus memperhatikan Lu'er, kemudian dia mengangkat lengan kanannya agar dapat menyentuh jantungnya. Tak lama kemudian Pangeran Xiuhuan segera berbicara dengan dirinya sendiri, sambil menunjukkan raut Wajah bingung. Pandangannya saat itu masih tertuju kepada Lu'er.
"Tidak pernah aku rasakan hal yang semacam ini sebelumnya, mengapa semakin lama, aku jadi ingin meminta sesuatu yang lebih dari dirinya!?" Dalam benak Pangeran Xiuhuan yang tengah memperhatikan Lu'er dari kejauhan.
°^°^
Di tengah perjalanan, Lu'er yang saat itu tengah merasa sangat kesal. Dia terus memikirkan tentang setiap masalah yang disembunyikan orang yang berada disekitarnya. Kemudian Lu'er teringat akan satu hal, raut Wajah yang semula tegang berganti menjadi sedikit tenang.
"Benar! Kasim itu, saat dia menemani diriku untuk kembali ke dalam Istana Kibo, bukankah dia adalah terlihat begitu sangat berbeda, sikapnya pun begitu sangat santun. Mungkinkah dia mengetahui suatu rahasia yang disembunyikan dariku? Tetapi, dimana Kasim itu, hmm... Aku harus mencarinya!" Lu'er bergumam dengan suara lirih, raut Wajahnya begitu tegas dan yakin akan apa yang dia pikirkan.
Sistem Dewi yang melihat Lu'er tengah bergumam, dengan penasaran Sistem Dewi pun bertanya kepadanya. Sambil memperhatikan Wajahnya dari arah samping kanan.
"Apa yang tengah kau gumamkan?Apakah itu tentang Pangeran Xiuhuan? Ataukah Pangeran Rui?" ucap, Sistem Dewi yang terlihat begitu sangat serius saat bertanya kepada Lu'er.
"Pergilah dari hadapanku! Menjauhlah dariku! Jangan pernah mengangguku! Ingatlah, kau hanya aku perkenankan untuk menemui ku, disaat kau tengah membawa sebuah informasi penting dan pastinya harus menguntungkan diriku! Pergilah, siuh... Siuh...." Ucap, Lu'er yang segera melambaikan tangan kanannya untuk dapat mengusir Sistem Dewi dari hadapannya.
Sistem Dewi merasa sangat sedih ketika Lu'er tidak menginginkan keberadaannya.
"Dasar jahat!" Kata, Sistem Dewi dengan raut Wajah memelas.
"Pergi!" Ucap, Lu'er dengan dingin dan tegas. Raut Wajahnya begitu sangat mengerikan saat menatap Wajah Sistem Dewi.
Sistem Dewi tertegun ketika melihat Lu'er begitu sangat menakutkan, dengan berat hati dia harus meninggalkan Lu'er sendirian.
"Baiklah, baik... Aku akan pergi, meninggalkan Singa yang sedang kelaparan memanglah suatu hal yang sangat baik, daripada harus menghadapinya." Kata, Sistem Dewi, lalu dengan segera dia menghilang dari hadapan Lu'er.
^°^°
Sedangkan didalam Istana Elpis, tampak Putra Mahkota, Zhang Jiangwu, saat itu tengah berdiri dengan tegak sambil terus memperhatikan sebilah Pedang dengan diselimuti sinar merah keemasan, sungguh Pedang yang sangat indah. Dan lagi, terdapat ukiran lambang dia ekor Naga yang terlihat tengah menghiasi Pedang itu.
"Tidak pernah sekalipun aku menyentuh mu, Pedang yang sangat indah! Sialnya, aku tidak mampu mengendalikan kekuatan yang dimiliki Pedang ini, ingin sekali aku memilikimu, dan aku akan menjadi seorang penerus yang hebat, kuat juga tidak terkalahkan! Dan kalian para orang bodoh dan lemah, pasti akan bertekuk lutut dihadapan ku! Hahaha!" Ucap, Putra Mahkota yang tengah memperhatikan Pedang dengan lambang dua ekor Naga.