
Sedangkan diluar Gubuk, terlihat Pangeran Rui yang masih berjalan untuk dapat membawa Lu'er kembali ke Istana. Tidak lama kemudian Lu'er yang tengah berada dalam dekapan Pangeran Rui segera dia berbicara dengan tegas.
"Pangeran, sepertinya Adikmu itu tidak begitu menyukai diriku...." Kata, Lu'er yang segera memalingkan Wajahnya untuk dapat melihat Burung besar yang tengah berada di dekat Pohon yang cukup tinggi dihadapannya.
Pangeran Rui yang mendengar perkataan itu dari Lu'er, segera ia merendahkan pandangannya, untuk dapat melihat Wajah Lu'er. Dengan perasaan curiga Pangeran Rui menjawab ucapan itu dengan nada bicaranya yang sangat lembut.
"Dia memanglah sudah seperti itu sejak dahulu, apakah kau khawatir jika dia akan datang untuk melukai dirimu? Tenanglah, ada aku yang akan selalu melindungimu, Lin." Jawab, tegas Pangeran Rui kepada Lu'er. Pria itu masih terus memperhatikan Wajah Lu'er yang berpaling darinya.
Lu'er tersentak ketika mendengar perkataan itu dari Mulut Pangeran Rui, kemudian dia segera menolehkan pandangannya ke arah samping kanan, dan sedikit mendongak ke atas agar dapat melihat Wajah Pangeran Rui. Akan tetapi Lu'er tak menyangka kini jarak antara Wajah mereka terlihat begitu sangat dekat, kedua hidung itu saling bersentuhan, dan hal itu yang membuat Lu'er sedikit merasa gugup dengan situasi semacam itu.
"Hm... Apakah kau bercanda, Pangeran? Aku tidak pernah mengkhawatirkan hal itu sama sekali, maksudku adalah dia terlihat jelas sangat menyukai dirimu, dan hal itu lah yang membuatnya sangat membenci diriku! Seharusnya kau tau itu bukan, Pangeran?" ucap, Lu'er yang dengan cepat memalingkan lagi Wajahnya agar dapat menghindar dari Pandangan Pangeran Rui.
Pangeran Rui yang melihat sikap Lu'er tampak malu dihadapannya, membuat dia merasa bahwa Lu'er begitu sangat imut. Kemudian Pangeran Rui tersenyum tipis sebelum dia menjawab ucapan Lu'er kepada dirinya.
"Aku tidak perduli dengan perasaannya, karena sampai kapanpun dia akan tetap menjadi Adikku, apakah kau tidak mengerti mengapa aku bersikap sedingin ini kepada dirinya? Ini adalah caraku agar dia mengerti apa yang seharusnya dia lakukan, lagipula sebesar apapun perjuangannya itu hanya akan sia-sia saja, karena hatiku sudah dicuri dengan seorang Wanita misterius, yang membuat aku sampai saat ini merasa candu dengan dirinya!" Ucap, Pangeran Rui yang masih berjalan perlahan, untuk dapat menghampiri Burung besar yang saat itu berada tidak cukup jauh dari dirinya.
Lu'er terdiam sejenak ketika mendengar Pangeran Rui yang dengan tegas berbicara seperti itu kepada dirinya.
"Huh... Dasar Rui!" Dalam benak Lu'er yang segera menatap Langit malam, diatas sana dia mendapati Bulan yang sangat terang.
Pangeran Rui yang masih memandangi Wajah Lu'er, terlihat dia cukup bingung atas apa yang baru saja diucapkan oleh Wanita itu. Karena, Wajah Lu'er terlihat begitu sangat dalam dan serius ketika mengucapakan hal itu kepada dirinya.
"Aku cukup terkesan, ternyata kau sangat mengerti hal semacam itu, jadi izinkan aku untuk bertanya, apakah kau pernah melakukan hal semacam itu, Lin?" tanya, Pangeran Rui yang terlihat sangat penasaran akan jawaban dari Lu'er.
Lalu, Lu'er terlihat sangat terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Pangeran Rui. Kemudian Lu'er segera mengelak hal itu dihadapan Pangeran Rui.
"Ah... Aku?! Tidak, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu!" Jawab, Lu'er yang terlihat sedikit gugup dihadapan Pangeran Rui.
Pangeran Rui hanya terdiam ketika mendengar jawaban dari Lu'er.
"Haih.... Siapapun Pria yang pernah kau cintai, dia sangatlah beruntung pernah mendapatkan cinta yang sangat tulus darimu, tetapi dia adalah Pria yang bodoh karena telah menyia-nyiakan cinta itu! Aku berharap kau dapat mencintai diriku, suatu hari nanti, meskipun aku bukanlah yang pertama! Namun, aku masih menunggu dirimu dengan setia, disini!" Dalam benak Pangeran Rui yang segera menatap Langit malam dengan tatapan yang sangat teduh dari sepasang Matanya.
"Hmm, maaf aku pikir kau pernah mencintai seseorang dengan tulus, karena ucapanmu yang begitu sangat serius, haha... Akan tetapi sepertinya aku hanya salah menduga saja, mungkin itu karena wawasanmu saja yang cukup luas." Kata, Pangeran Rui yang segera menatap Wajah Lu'er dengan tersenyum tipis kepadanya.
Lu'er yang segera memandang Wajah Pangeran Rui. Hanya mampu terdiam, sambil menganggukkan Kepalanya.
"Maaf Rui, jika bukan karena dihari itu... Mungkin, saat ini aku masih bisa mempertimbangkan lagi perasaanmu ini kepadaku! Mungkin saja...." Dalam benak Lu'er yang tanpa sengaja mengingat kembali masa dimana dia pernah berjuang sampai akhir. Namun, akhir yang dia dapatkan berbuah akhir yang buruk.