
Ratu Fahrani kemudian segera menyela perbincangan antara Lu'er dan juga Permaisuri Jia Li, raut Wajahnya tampak sangat kesal ketika ia tengah berhadapan dengan Permaisuri Jia Li.
"Terima kasih, karena telah memberikan Lin sebuah nasehat yang begitu sangat berkesan. Namun, Anda tidaklah perlu terlalu merisaukannya, karena saya yakin Lin dapat mengatasi situasi semacam itu. Dan lagi tidak ada orang terdekatnya yang berani berlaku buruk terhadap dirinya, jika benar itu terjadi aku adalah orang pertama yang pasti akan bertanggungjawab atas hal tersebut, sekali lagi terima kasih, apakah Permaisuri Jia Li ini sudah usai untuk menasehati Putri saya Lin? Jika benar begitu izinkan saya untuk berbicara dengannya, dan saya sangat mempersilahkan Anda untuk segera menasehati Putra-Putra Anda, terlebih Putra Mahkota, sungguh dirinya begitu sangat gila akan tanggungjawab jawab pekerjaan yang diberikan oleh Kaisar kepada dirinya, sampai-sampai Putra Mahkota rela meninggalkan Kaisar hanya demi sebuah pekerjaan, sungguh saya amat kagum dengan kegigihan Putra Mahkota ini dalam mencari kekayaan!" Ucap, Ratu Fahrani yang terlihat tengah menyinggung kepribadian dari Putra Mahkota dihadapan Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li dan semua orang yang tengah berada ditempat itu, sungguh mereka sangat tertegun ketika Ratu Fahrani dapat melontarkan perkataan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang baru saja ia ucapkan, dan lagi tampak Ratu Fahrani begitu sangat berani menghina Putra Mahkota dihadapan Permaisuri Jia Li, dan juga Anak-anaknya. Sungguh saat itu Permaisuri Jia Li begitu amat kesal, tak mampu ia menahan amarahnya yang sudah memuncak. Tak lama kemudian Permaisuri Jia Li segera membalas perkataan yang diberikan Ratu Fahrani kepada dirinya itu. Sambil menunjukkan raut Wajah amarah yang begitu amat kental.
"Bukankah hal yang sangat wajar jikalau Zhang Jiangwu mencari kekayaan didalam Istana ini? Yang seharusnya dikatakan tidak wajar itu, jika ada seseorang yang tidak ada sangkut pautnya didalam keluarga ini yang begitu tidak malunya mencoba untuk merangkak naik untuk dapat mendapatkan kekayaan itu?! Bukankah benar begitu wahai Ratu Fahrani!" Balas, Permaisuri Jia Li yang terlihat tengah menatap Wajah Ratu Fahrani dengan tatapan dingin yang amat mencekam.
Dalam setiap ucapan yang saling terlontar satu sama lain itu, Lu'er sebenarnya tengah mengamati kedua orang yang tengah berada disampingnya. Saat ia menatap Wajah Permaisuri Jia Li, bukan hanya tatapan kebencian biasa yang ditunjukkannya. Namun, seakan ada sebuah dendam lama yang seharusnya segera ia selesaikan. Sedangkan saat Lu'er melirik ke arah Ratu Fahrani, tampak Wanita itu meskipun ia begitu sangat tegas dalam berucap, ada sesuatu yang sebenarnya tengah disembunyikannya. Yaitu ketakutan, tampak jelas dalam pandangan Lu'er, Ratu Fahrani tengah menutupi ketakutan terbesarnya dihadapan Permaisuri Jia Li.
"Hm... Sebenarnya apa yang tengah Fahrani sembunyikan dari diriku, apakah benar jikalau dendam dimasa lalu milik Permaisuri Jia Li ada sangkut pautnya dengan kehidupan Lin Yar'an?! Jikalau benar begitu, mau tidak mau aku harus menjerumuskan diri ke dalam masalah mereka berdua!" Dalam benak Lu'er yang tengah terdiam dingin ketika memperhatikan kedua Wanita dewasa yang tengah bertikai dihadapannya.
Ratu Fahrani sungguh begitu kesal saat Permaisuri Jia Li mengucapkan kata-kata semacam itu kepada dirinya dihadapan Anak-anaknya dan juga Lu'er. Karena tidak ingin hari itu semakin ricuh dan memurungkan hatinya, Ratu Fahrani memilih untuk mengalah, karena dia masih begitu sangat menginginkan berbicara kepada Lu'er tanpa adanya gangguan apapun.
"Tidak ada satu orang luar pun yang berada di sini, lantas siapakah seseorang yang Anda maksud itu wahai Permaisuri? Anda tampak begitu sangat bersemangat sekali hari ini, itu begitu sangat jelas dalam setiap Anda berucap, saya yakin Lin pasti sudah memahami setiap nasehat Anda, jadi bisakah saya membawa Lin hanya sekedar berbincang dengan dirinya? Saya sungguh amat merindukan dirinya? Apakah Anda tidak ingin memberikan kesempatan itu kepada diri saya wahai Permaisuri Jia Li?" ucap, Ratu Fahrani yang terlihat begitu sangat enggan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari dalam Mulut Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li hanya terdiam, sambil terus menunjukkan raut Wajah kesalnya kepada Ratu Fahrani juga Lu'er. Kemudian dia segera menjawab perkataan dari Ratu Fahrani sambil memalingkan tubuhnya untuk dapat menatap ke arah halaman Istana Kibo yang begitu sangat luas.
"Tidak ada satu orang pun yang berani menghalangi kalian disini, dan sudah ku cukupkan ucapanku kepada Lin." Ucap, Permaisuri Jia Li yang saat ini masih sangat dingin kepada Ratu Fahrani dan juga Lu'er.
"Oh, Putriku Lin, aku begitu sangat merindukan dirimu, bisakah kita berbicara sebentar saja?" ucap, Ratu Fahrani yang terlihat begitu sangat lekat dengan Lu'er.
Lu'er yang mendengar ucapan dari Ratu Fahrani segera ia menatap ke arah Wanita itu, dengan raut Wajah dingin Lu'er pun menjawabnya.
"Tentu saja, katakanlah wahai Ibuku." Jawab, Lu'er yang begitu sangat dingin kepada Ratu Fahrani.
Ratu Fahrani yang melihat sikap Lu'er benar-benar berbeda dari dirinya yang dimasa lalu, membuat Ratu Fahrani harus semaksimal mungkin membujuk Lu'er agar dia berkenan untuk mengikuti dirinya.
"Bisakah kita bicara ditempat lain, Lin? Ibu rasa jikalau disini sepertinya itu tidaklah terlalu baik, hmm... Aku hanya ingin melepas rindu dengan dirimu secara leluasa, tanpa adanya satupun gangguan, bisakah Lin?" ucap, Ratu Fahrani yang terlihat tengah membujuk Lu'er agar dia mau mengindahkan permintaannya itu.
Lu'er menatap Wajah Ratu Fahrani dengan dingin. Kemudian dia segera menjawab perkataan dari Ratu Fahrani.
"Tentu saja." Jawab Lu'er dengan tegas, kemudian dia segera menatap diri Permaisuri Jia Li yang masih berada dihadapannya. Meskipun saat itu tubuhnya tengah berpaling dari Lu'er. "Bunda Jia Li, Lin mohon undur diri." Kata, Lu'er dengan tegas kepada Permaisuri Jia Li.
Permaisuri Jia Li hanya terdiam tanpa berkata apapun, sedangkan Pangeran Xiuhuan terlihat sedari tadi pandangannya tidak ingin lepas dari Lu'er.