Alarico

Alarico
Sembilan puluh delapan



Alarico duduk dan tetap dengan kedua tangan didalam saku hoddie nya.


Syera yang sudah menyiapkan sarapan untuk Alarico seketika memberikan sepotong ayam bagian paha besar.


Saat melihat ayam Alarico terdiam menatapnya.


"Kamu harus belajar suka sama buatan aku, walau inj yang pertama kali kamu makan daging ayam dari olahan tangan aku, cobain aja dulu," ucap Syera. Seketika Alarico mengeluarkan tangannya dan memperlihatkan pada Syera.


Tiba-tiba Syera mengambil piring yang ada didepan Alarico.


Syera menyuapi Alarico untuk ke sekian kalianya sebelumnya waktu sakit itu. Syera melakukan lagi karena kedua tangan Alarico yang terluka.


"Gimana Ayamnya, bisa ketelen?" Alarico menatap Syera dan mengangguk lucu, wajahnya seperti anak balita.


Melanjutkan lagi dengan pelan sampai habis. Seketika itu Syera membantu Alarico minum.


Saat akan meminumkan air dalam gelas pada Alarici, bibir gelas belum menempel di bibir. Alarico tangan Alarico bergerak menahan dan minta dia sendiri yang melakukannya.


Syera mengangguk dan memberikannya lalu melangkah pergi. Alarico terdiam di tempatnya menatap semua menu sarapan yang Syera masak hari ini benar-benar mirip rasanya seperti ibunya yang masak.


Walau tak sama, lebih enak Syera, ya... Alarico akui kalo Syera bisa masak dengan rasa yang gurih.


Alarico masih belum bisa menerima kepergian ibunya Alarico juga harus menjauhkan Syera darinya, tentang Anissa yang datang bersamanya, benar-benar itu bukan apa Alarico niatkan, sama sekali dalam hati atau pikiran jika Alarico tak ada niat membawa Anissa ke dalam rumah.


Alarico pergi setelah subuh dengan pak mamat itu karena mau mengantarkan dokumen penting yang tidak bisa di kirim lewat surel ke Abangnya.


Dan Alarico tetap diam saat Syera tanya. Berharap Alarico jika Syera tak betah dengannya dan menjauhinya dan Alarico harus mencoba membunuh rasa yang belum sempat tumbuh kuat.


"Mana tangannya?"


Tiba-tiba suara Syera membuat Alarico kaget tapi, tak terlihat hanya melirik Syera di sebelah kirinya.


"Kamu bisa mandi sendiri, Bersih?" Syera bertanya untuk memancing Alarico bicara tapi, tidak berhasil dan Syera menutup mulutnya.


Alarico hanya menjawab dengan anggukan kepala dan deheman.


Syera tersenyum manis.


"Aku minta maaf ya... Aku kasar kemarin aku juga udah buat kamu salah paham sama aku Aku sengaja gak bolehin kamu pake narkoba karena itu gak baik dan kamu sama aja bunuh diri pelan-pelan," Syera tersenyum dan menatap Alarico dengan mata berkaca-kaca.


Alarico diam saja beralih menatap yang lainnya saat tangan yang di obati selesai dan di berikan perban.


"Al.. kamu tahu kadang kalo kamu gak di rumah aku sama Mommy sering ngobrol apa lagi sebelum nikah, Mommy seru banget cerita tentang kamu, Aku sedih karena aku kamu gak bisa liat mommy, coba aja sore itu aku gak buat kamu kelamaan di taman kita pasti masih bisa ngobrol sama Mommy kamu, eh.. bukan kita tapi, Kamu!"


"Iya semua salah lo," ucap Alarico seketika Syera tersenyum.


Menipiskan bibirnya dan seketika mengobati dan membungkus perban tangan sebelahnya.


"Kamu tahu! Harusnya aku kasih aja apa yang aku punya ke mommy kamu waktu itu, bahkan aku gak papa gak bisa liat kamu selamanya, Karena aku tahu kamu cuman sayang sama Mommy kamu lebih dari apapun... Dan aku gak ada apa-apanya, di bandingin itu, Maaf Al tapi, Dokter Clara waktu itu ngelarang aku dan gak ngebolehin," ucap Syera setelah selesai Syera meletakkan tangan alarico pelan di pangkuan Alarico sendiri.


Tiba-tiba Alarico bangkit.


"Bagus Lo sadar diri Lo bahkan harusnya tetep ngelakuin itu supaya gue sama Mommy tetep bareng Coba aja gue gak suka sama Lo bahkan sekarang Mommy masih ada," ucapnya lalu pergi.


Syera terdiam wajah dengan tatapan sedih dan tangan bergerak membereskan alat p3k dan juga membereskan meja makan.


"Non... Gak usah biar bibi aja sama Elis, Non sama Aden aja ya," ucap Bi Jum yang langsung mengambil alih apa yang Syera mau pegang.


Syera mengangguk dengan senyum terpaksa. Berbalik seketika tangisnya pecah dan menahannya menatap kelain arah.