
Syera tertidur pulas di pelukan Alarico setelah adegan suami istri mereka berlangsung beberapa menit saat itu juga Alarico perlahan bangun dan membuka mata melihat Syera yang kelelahan karena Alarico.
Alarico perlahan menyingkirkan tangannya dan mengantinya dangan bantal dan memberikan guling untuk Syera.
Alarico keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan yang santai saat itu juga suara ketukan pelan Bi Jum hampir membangunkan Syera.
Alarico yang sigap langsung menghentikannya dan Bi Jum menatap Tuan mudanya takut.
"Maaf Den, Di bawah ada temennya mereka dari tadi dateng dan mereka kayak panik bibi suruh duduk mereka gak ada yang mau."
"Iya.. Bi," jawab Alarico santai dan menoleh ke dalam kamar.
"Bibi beresin kamar dan nanti tunggu di dapur sebentar," ucap Alarico. Bi Jum mengerti dan langsung turun mengambil alat bersih-bersih.
Ini kali pertama Tuan mudanya meminta langsung untuk kamarnya di bersihkan saat itu juga Bibi langsung bergegas naik ke kamar Alrico bersama dua pelayan setelah ikut turun sebelumnya.
Di bawah Alarico menghampiri Galang Soleh Tama dan dua teman istrinya, Zulaika dan Dinda.
"Al.. Syera di rumah gak, Syera ilang waktu di bengkel terus gue sama Zulaika bilang mau nyari makanan buat nanti Syera ama kita berdua bawa pulang kita masuk mini market gak ada sepuluh menit, Jujur Al gue gak boong."
Dinda memberi penjelasan sambil menyakinkan Alarico yang menatap tajam dirinya dan tak Dinda saja yang di tatap, bahkan semuanya yang ada di depannya.
"Dan.. Al gue telpon Galang dan Galang langsung inisiatif meriksa cctv sekitar, dan ketemu." Soleh menyikut Galang untuk memberikan rekaman vidionya di tabletnya pada Alarico.
Saat Alarico menerimanya Tama tiba-tiba menghela nafasnya.
"Lo harus tahan dan jangan bunuh orang itu walaupun lo Tahu siapa dia Lo cukup serahin mereka ke pihak berwajib sakit hati lo gue paham! Mereka pasti akan dapat hukuman, pasti! Juga keluarga Samudra gak bakalan diem saat menantunya di ganggu," Tama berucap panjang tanpa jeda membuat Galang dan Soleh terdiam kaget bersamaan itu Zulaika dan Dinda mundur pelan-pelan.
"Eh.. Lo Tama? Pratama Satria temen gue? Ngomong lo kek Dukun baca mantra!" Alarico bicara seenaknya membuat kepanikan seketika hilang sementara sebelum wajah Alarico kembali datar dan dan meletakkan tabletnya diatas meja agar mereka semua bisa melihat.
Disana terlihat Syera di bekap mulutnya di tarik paksa masuk mobil dan semuanya tidak ada yang tahu termasuk bengkel ban mobil yang tak ramai lalu, toko sampingnya juga tutup.
"Kalian pulang aja," ucap Alarico santai.
"LAH... AL? SYERA GIMANA?" Galang Tama Soleh Dinda Zulaika mereka bersamaan mengatakan dengan suara keras dan panik lagi. Bisa-bisanya Alarico sangat santai.
Alarico menatap kelimanya.
"Syera pulang kerumah tadi dan kondisinya trauma berat, Dia bilang juga sempet bunuh orang katanya tapi, gue gak tahu itu bunuh atau cuman buat sekarat, katanya dia juga di paksa dan mereka buat luka di muka tangan Syera."
Seketika kelimanya diam. Zulaika mendekat selangkah.
Alarico yang tahu kalo Zulaika mau mengatakan maaf dan mengatakan salahnya, Alarico langsung melarangnya, menggeleng.
"Lo gak usah merasa bersalah lagian ini kecelakaan gue juga salah karena gue sibuk banget hari ini dan Lo pada pulang aja, balik kerumah, Syera udah istirahat," ucap Alarico.
Seketika Soleh terdiam.
"Al.. Lo kapan buat Baby sama Neng Syera." Celetuk Soleh seketika di tatap aneh Tama dan Zukalika, Dinda.
Galang langsung menginjak kaki Soleh.
"Mulut lo Soleh udin... Istighfar! Kondisi kek gini otak ngeres lo masih bisa nanya ke gituan Laillah!" Bisik Galang kesal sendiri mulut temannya satu ini sulit di kendalikan jika asal jeplak.
Alarico yang sudah berjalan meninggalkan mereka langsung berhenti dengan ucapan Soleh, berbalik dan tersenyum licik.
"Barusan."
"HAAAH...."
Mereka bersama-sama kaget dan seketika sadar sudah berlebihan langsung balik kanan bubar masing-masing. Jadi malu sendiri kan. Sekali bicara satu kata dari Alarico membuat mereka berlima malu sampai ubun-ubun karena Alarico sudah Halal dan mereka masih masa jomblonya jadi, malulah!