
Alarico memarkirkan mobilnya di perkiran umum yang ramai bersama deretan mobil lainnya mereka berdua turun dan berjalan bersama.
Syera sadar jas Alarico masih di pakainya seketika itu melepasnya. Mengulurkannya pada Alarico.
"Al Jas lo nih pake gue udah gak make lagi," ucapnya. Syera mengulurkannya dengan tangan kanannya.
Alarico malah menatap uluran jas Syera.
"Gak usah."
Syera mendengar ucapan Alarico menolak. Seketika Alarico berdehem.
"Pake aja dulu gue lagi gerah lagian baju lo putih ntar kotor kalo kena makanan pake jas gue, jas gue kotor gak masalah, item juga warnanya kalo punya lo, kotor susah ilangnya," jelasnya panjang dan beralasan, membuat Syera mengerti tapi, tetap tak enak rasanya menggunakan jas milik orang lain apa lagi lelaki dan ini pasti juga mahal.
"Tapi, Al," ucapnya ragu menatap jas itu seketika Alarico mengambilnya dan memakaikannya biasa menutupi bahu dan punggung Syera, Alarico juga menghindari sentuhan kulit tangan Syera.
Berdehem menatap lain arah seketika Syera juga menatap lain arah karena malu.
"Hem.. Sekarang aja Lo malu tadi di rumah sana aja lo sok Cool. Lo juga gak inget kalo gak mau megang gue, Lo pegang tangan gue kan ngaku lo!" Cibir Syera kesal karena malu Syera cari-cari saja kesalahan Alarico sambil berjalan menjauh meninggalkan Alarico yang masih berdiri mematung tak tahu jika dirinya baru saja beda sifat saat di rumah dan di luaran.
Alarico menggaruk tengkuknya mengalihkannya pikirannya.
"Gue lupa, Gak sengaja lagian gue gak kepikiran," ucap Alarico santai tanpa beban.
"Serah lo."
"Lagian Al, makanya jangan suka marah-marah gak baik.. nanti klo.."
"Iya.. iya Rara, dah diem lo laper cari makan aja," ucap Alarico malas mendengar Syera ceramah panjang lebar.
Syera yang hampir jauh setelah Alarico menentang dan menyela dengan tidak sopan wajahnya juga kesal karena Alarico.
Melihat reaksi Syera seperti itu, Alarico berdecak malas sambil melangkah mengejar Syera lagi, cukup berjalan saja tak perlu lari Syera sudah bisa di kejarnya.
"Emang iya, Berarti lo tersepona ama sikap gue di rumah," ucap Alarico dengan pD nya mengalihkan topik lainnya.
"Apaan Gak!" Syera menyangkal masih dengan kesalnya.
"Benerin kek gue salah ngomong," ucap Alarico mengingatkan ucapannya yang salah malah di jawab balasan jutek Syera. Berusaha untuk terlihat lucu tapi, tidak terlihat lucu.
"Lah.. Lo tahu salah pake di ucapin, mau apa? Mau gue bantun benerin? Heh.. Ogah," ucapnya lagi lebih jutek. Alarico mengguman malas
Alarico mengangguk saja mengusap rambutnya dari depan ke belakang dengan jarinya tangannya. Syera kembali mengedarkan pandangannya.
Melihat tukang bakso Syera merasa cepat ingin menghampirinya tapi, sadar diri yang mengajaknya makan adalah Alarico.
Syera menahannya menatap Alarico sambil berjalan sebentar-sebentar.
Syera diam saja menunggu Alarico menawari tapi, tak peka.
"Lo mau makan apa?" tanya Alarico yang sedari tadi Syera tunggu dan baru di tanyakan dasar tidak peka.
Padahal dalam hatinya Alarico sengaja menunggu dan mengulur waktu dan tatapan memelas Syera sejak tadi membuat Alarico gemas terpaksa Alarico bertanya dan membuat ekting pura-pura gak pekanya berhenti cepat.
Syera tersenyum berhenti menatap Jajaran pedagang kaki lima dengan telunjuk menyentuh ujung hidungnya Syera berpikir dengan ekspresi yang membuat Alarico gemas sampai pipinya merah dan beralih menatap arah lain berusaha menahan agar Syera tak melihatnya.
"Em.. Itu, gue mau Bakso!" Dengan semangat Syera memberitahu jika ia sangat ingin daging berbentuk bulat bola itu.
"Ehm.. Ra," ucap Alarico seketika seperti orang ketakutan. Otomatis Syera yang semangat melangkah langsung berhenti dan menatap Alarico meminta ke jelasan.
"Eh.. napa muka lo pucet gue kan cuman ngomong Bakso, katanya lo tanya mau makan apaan." Jelas Syera.
Alarico mengangguk dan menatap sekitar wajahnya sudah tertangkap basah ketahuan tak bisa melakukan sesuatu, seketika melihat mie ayam tanpa ada Baksonya.
"Ehm... Mie ayam aja gimana Ra, Gue gak..." Alarico sangat malu jika harus jujur kalo dirinya gak bisa makan bakso.
"Emang kenapa? Ngaku lo kenapa jangan kek gitu Al, Gue nya gak enak," ucapnya menatap Alarico mendesaknya agar bicara.
Seketika Alarico berdecak malas.
"Gue gak bisa makan daging sembarangan kalo bukan buatan mommy gue Ra, Bisa mual dan malu-maluin lo nanti, Seriusan Ra! Gue gak boong," ucap Alarico sangat jujur terpaksa wajah polos dan mengemaskannya membuat Syera menatap menyelidik tak percaya seketika tersenyum, Syera rasanya ingin sekali tertawa dengan keras.
Alarico tambah bingung karena Syera malah tersenyum-senyum, Alarico bingung karena malu.
"Iya.. udah apa mau lo, kan lo yang bayarin lagian lo sih, pake tanya ke gue, Pencitraan! Mau makan apaan lo? Cih.. Taunya ada yang gak bisa dideketin, makanan enak kayak bakso ternyata," ucap Syera meledek Alarico yang langsung kesal karena dari banyaknya teman-temannya hanya Syera perempuan pertama yang tahu jika Galang, Soleh udin dan Tama mereka bertiga hanya tahu Alarico tak suka makan daging, daging apapun, yaa sepertinya begitu baru kali ini perempuan pertama Ya Syera yang tahu kalo Alarico gak bisa makan daging.
"Ra... lo ngejek gue," menatap Syera tajam seketika Syera menggeleng dengan tatapan aneh yang Alarico tak bisa marah.
Tapi, tetap harus ekting didepan Syera kalo tidak jatuh juga harga dirinya.
"Enggak ya," sahut Syera cepat.