Alarico

Alarico
Sembilan belas



Sampai di kontrakan sederhana Syera. Alarico membuka kunci pintu mobilnya.


Syera turun sebelumnya menatap Alarico belum benar-benar keluar Syera menoleh malas.


"Terimakasih Alarico Samudra, Besok jangan maksa numpang mobil mahal lagi ya, nanti kursi kamu lecet," ucap Syera lalu turun dan menutup pintu sedikit keras tapi, tidak di bantingnya.


Alarico tidak berekspresi dan hanya mengangguk biasa saja.


Melajukan mobilnya sambil melihat sepion belakang. Seketika itu Alarico menghentikan mobilnya pelan sambil berbelok.


Orang Tua Syera kembali datang di saat mobil Alarico belum sepenuhnya menjauh dan itu Syera tak sadar kalo Alarico masih di sana


Dari mobil sedan biasa berwarna putih turun kedua orang tua Syera dan menghampiri Syera.


Syera yang baru mau masuk seketika berhenti.


Alarico merasa penasaran sangat dengan apa yang akan di lakukan dua orang tua itu yang Alarico sendiri tidak tahu siapa mereka.


Syera menoleh menatap dan langsung menyalami.


"Ibu.. Ayah," ucapnya lalu tiba-tiba Ibunya menampar Syera tanpa alasan.


"Maaf ibu harus buat kamu sadar, Kamu harusnya bisa memanfaatkan kesempatan ini Syera," ucap sang ibu dengan jilbab longarnya.


Ya memang sebelumnya beberapa hari itu ibu nya datang dan mengajak Syera membicarakan perjodohan dengan Rayanza. Orang yang paling Syera tak suka bahkan melihat wajahnya saja darah Syera langsung naik dan tangannya gatal untuk menganiaya Rayanza.


Syera hanya diam memegang pipi bekas tamparan ibunya yang panas.


Syera menatap kedua orang tuanya. Ayahnya bahkan tak tahu apapun dan diam karena Syera sulit sekali diajak baik-baik. Padahal ini demi ke baikan Syera.


"Ayah kira kamu akan bijak mengambil keputusan."


"Ibu Ayah, kita ngomong didalem kayaknya disini gak nyaman," ucap Syera berusaha tenang dengan kesadaran dan juga rasa panas di pipinya.


"Gak! ibu gak mau basa basi, Ingat Syera besok pagi kamu harus dateng ketemu keluarga Rayanza kamu harus bicara baik-baik dan bilang semua kemauan kamu, Ibu Tahu nak kamu sama Rayanza pasti berjodoh." ucap Sang ibu dengan wajah gemasnya meremas lengan atas putrinya.


"I-tu..." Syera sulit menjawabnya sekarang. Tidak mungkin kalo Syera bilang Rayanza jahat dan lelaki tak bertanggung jawab.


Syera menatap ayahnya dan sedih ketika sang ayah hanya bisa diam tertunduk.


"Ini demi masa depan kamu lagi pula Rayanza juga pernah suka dan deket sama kamu nak, dia juga temen Sma kamu jadi gak masalahkan nak, Kamu dateng dulu dan jelasin ke mereka, Siapa tahu mereka bisa mengerti memaklumi kondisi kamu, Ok." Sang ayah mengusap kedua bahu putrinya dan pergi masuk ke dalam mobil menemani istrinya.


Didalam mobil kedua orang tua Syera saling tak suka dan benci karena perbedaan pendapat keduanya.


"Dah lah bu, Syera itu emang gak mau nikah untuk sekarang jangan paksa dan sampai nampar dia tadi.."


Istrinya langsung menatap keluar jendela. Sang suami hanya bisa diam.


"Ayah gak tahu penyakit Syera itu kalo gak cepet kita tangani dia akan jadi perawan tua, yah," ucap Istrinya kekeh.


Seketika itu suaminya mengerti kembali.


"Iya.. Ayah tahu itu tapi, pelan-pelan bu.


Rayanza juga pernah tahu gimana Syera jadi kemungkinan juga perjodohan ini bisa berhasil, Tapi tetep aja takdir Syera dan Rayanza gak ada yang tahu bu," ucap sang suami pada istrinya. Awalnya memberikan harapan lalu terakhirnya menjatuhkan rasanya bukan suaminya sekarang ini yang selama puluhan tahun bersamanya.


Di tempatnya Syera duduk di lantai bersandar pada tepi kasurnya. Menangis sambil memeluk lututnya. Syera harus bisa punya keputusan sendiri tapi, sekali ini bisa Syera harus kehilangan masa depannya.


Gimana? Hah.. gak mungkin ada yang tahu dan pernah ngerasain di posisi ini, Syera ngerasa cuman dirinya. Hanya dirinya.


Tanpa mereka sadar jika mobil Alarico pergi sebelum kedua orang tua Syera masuk mobil.


Di rumah Alarico langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi kerjanya seketika bergeser dengan roda di kaki kursinya.


Mendekat pada akuarium.


Alarico memainkan jarinya di luar kaca akuarium di ruang kerjanya yang langsung terhubung ke kamarnya disana Ikan arwana emas kesayangan Alarico yang pernah di belinya waktu lulus SMA bersama Abangnya, Raka.


Alarico membuat pola tak teratur di luar kaca akuarium dengan lampu biru itu membuat ikan juga terlihat cantik dengan hiasan indor akuarium kaca dan ikan Arwana yang sibuk berenang santai kesana kemari.


Ingatan Alarico melayang saat Syera di tampar wanita tua yang Alarico tak kenal.