Alarico

Alarico
Lima puluh delapan



Syera sudah dua hari tinggal di rumah Alarico Samudra sambil bertemu ibu Alarico juga berbincang kaku, masih dua hari maklumi.


Syera duduk diam di meja makan membaca buku mata kuliah yang akan ada kuis besok dan juga belajar untuk kelanjutannya tak lupa Syera juga sering mempelajari sekripsi dari awal.


Syera lebih banyak diam juga merasa asing, bagaimana tidak asing, saudara bukan ada hubungan kerabat juga tidak. Mana orang tuanya waktu itu mengiyakannya menyerahkan pada Alarico tanggung jawab Syera. Kayak gitu itu, apaan sih maksud orang tuanya.


Syera melangkah dari kursi meja makan menujuke lemari pendingin mengambil air minum lalu mencari gelas seketika itu suara langkah kaki mendekat seketika akan menoleh tepukan lembut di bahunya dari seorang wanita, menunda Syera yang akan berbalik badan.


"Syera gimana kabar kamu?" ucap Sang ibu. Ibu Alarico yang sering mengajak ngobrol Syera. Ibu Alarico juga sering berbicara banyak karena Syera lebih pendiam.


Ibu Alarico tak suka sikap Syera waktu makan malam itu tapi, setelah Leni menceritakan kejadian sebenarnya waktu malam itu, ibu Alarico jadi paham, mengerti posisi Syera tidak begitu mudah.


Falisa juga kadang tak mengerti jalan pikiran sang putra bilang tidak suka tapi, perhatian penurut dan khawatir. Bilang benci tapi, sangat sayang.


Alarico di ruang olah raganya hari ini hari minggu. Syera harusnya sudah ada di Toko Roti Sam tapi, belum berangkat karena tak dapat izin dari pemilik rumah bahkan pagi tadi Bang Raka datang menemui Alarico. Syera tahu itu Syera bahkan sempat menguping tapi, tak jadi karena ada yang datang.


Ketika minta izin itu Alarico malah menakut nakuti dirinya bilang pembunuh bayaran berkeliaran penculik juga, mengatai Syera juga makanya gak usah sok berani. Uuh.. Alarico Aneh! Kesal Syera mengepalkan tangannya dan memukul meja kompor yang datar terbuat dari marmer licin.


Ibu Alarico yang melihat Syera seperti itu menatap aneh.


"Kamu baik baik aja kan Syera kamu ngelamun aja tante sapa?"


Syera kaget lupa jika tadi dirinya di sapa.


"Hem.. Baik Tante.. Syera juga lagi bosen kenapa gak boleh keluar," ucapnya seketika mengambil alih mencuci buah di pencucian wastafel cuci piring.


"Oh. gitu, Tante juga gak masalah kalo kamu mau keluar, tinggal keluar aja Syera di taman ini kan gak papa kamu mau keliling rumah ini," ucap Ibu Alarico sambil memotong wortel dan apel membuang biji apel juga sambil tersenyum menatap Syera.


Seketika ibu Alarico membuat ramuan minuman jahe madu.


Syera mencuci dua batang sereh dan dan juga jahe.


"Bukan gitu, Maaf Tante." Syera tak berani tapi, ingin bicara.


"Kenapa Syera ?" Tanyanya sambil menatap Syera tersenyum.


Mendengar suara blender Syera tersenyum lalu blender selesai. Syera menatap ibunya Alarico.


"Keluar dari rumah ini, Ada kerjaan Syera harus kerja," jelasnya. Ibu Alarico menganggukkan kepalanya mengerti.


"Oh.. gitu.. Sayang maaf ya, Tapi, karena kamu kemaren dan sikap Alarico yang sepontan ikut kamu itu buat kalian dalam bahaya sekarang pasti orang orang itu ngincer kalian dan termasuk orang tua kamu Syera. Mereka bahkan milih biarin kamu sama kita supaya adik-adik kamu yang lagi sekolah juga aman mereka sama kayak kamu homeschooling," ucap ibu Alarico sambil memanaskan air dan memasukkan gula merah dan Jahe geprek juga beberapa biji batang sereh.


Syera melemas seketika bergerak menyiapkan roti dan selai di bantu Bu Jum dan juga pelan lain buku Syera di bereskan nya sendiri.


Ibu Alarico tidak tega tapi, mau gimana lagi ini keputusan suaminya dan kebaikan mereka kalo di pikir-pikir mereka hampir mati jika tidak bisa menjaga diri dan Alarico bahkan mengalami beberapa retak tulang rusuk sebelah kiri dan dislokasi lengannya sebelah kanan. Walau Alarico tidak apa-apa tapi, sang ibu sangat marah waktu itu pada putranya dan memarahi Syera bukan karena membawa putranya masuk tapi, karena Syera perempuan dan ibu Alarico tidak tahu kenapa menghawatirkan Syera sama seperti khawatir pada putrinya, mungkin karena tidak memiliki putri.


Syera juga jadi tidak enak.