
Sampai di rumah Syera langsung turun bersama Alarico saat akan melangkah masuk Syera melihat Alarico terdiam dan mematung bergeming di tempatnya.
Syera langsung memegang tangan Alarico tiba-tiba dan menariknya membawanya masuk.
"Sekarang mandi dulu dan aku mau kamu fresh kayaknya kamu lelah banget," ucap Syera tiba-tiba terdengar aneh bagi Alarico tapi, ini hal yang menarik kalo Alarico juga menjaili Syera.
"Mandi bareng?" Tanyanya sok polos wajahnya langsung membuat ekspresi Syera mengerut sebal.
"Ngimpi kali!" Syera berjalan masih menarik tangan Alarico. Di tarik tangannya Oleh Syera membuat Alarico sedikit senang dan ini kali pertamanya Syera terlihat aneh ada sesuatu kah atau apa, yah.. yang penting Syera tetap ada di hadapannya gak mungkin ada sesuatu.
Alarico tersenyum senang saat Syera memberikan senyuman tulus yang memang sering Syera perlihatkan tapi, kali ini berbeda.
Langkah mereka terhenti di dalam kamar seketika Alarico menarik tangan Syera untuk memegang bahunya seketika itu suasana jadi sepi tanpa terdengar suara apapun tatapan mata Alarico sangat terlihat memuja wajah Syera yang sempurnya. Alarico lupa jika Syera belum memberikan lampu hijau tapi, bibir pink naturan tanpa warna lipstik bau harum buah stauberry dari nafas Syera.
Syera bingung ingin menjauh tapi, tatapan Alarico seperti sangat ingin ekspresi wajahnya juga membuat Syera salah tingkah tatapan Alarico sama sekali tak kedip atau teralihkan apapun.
Kecupan singkat. Syera terkejut seketika suara jantung yang berdetang begitu jelas terdengar. Syera melirik Alarico perlahan menatap manik tajamnya.
Tarikan senyum malu perlahan terlihat di mata Alarico seketika Syera tersenyum lebar dan memberikan kecupan di bibir Alarico sebagai balasan dengan cepat hanya kedipan mata dengan di tutupi kedua tangannya seperti takut di lihat seseorang.
Alarico tersenyum manis.
"Lagi?" Alarico mulai jahilnya Syera langsung menginjak kakinya membuat si empunya kesakitan dengan injakkan tumit Syera di punggung kakinya.
"Ssst.. sakit Ra!" Alarico memelas dengan wajahnya menahan sakit tapi, tak terlihat kalo bohong Syera langsung melihat kaki Alarico dengan membuka kaos kakinya.
"Syukurin... Salah siapa udah di kasih malah minta terus." Sambil menunduk melihat seberapa parah tapi, tidak juga ini hanya merah biasa.
"Makanya gak usah ngasih kalo gini," Balas Alarico lagi. Syera langsung menatap ke atas dimana wajah menyebalkan itu yang baru saja bicara membuat dirinya sangat-sangat di untungkan.
"Oh.. gitu ok.. gak akan kasij apapun kamu mau," ucap Syera langsung berdiri seketika Alarico menariknya dan jatuh seketika Syera di pangkuan Alarico.
"Biasanya kalo pacaran terus pangku-pangkuan itu dosa kalo pacaran kayak gini juga gak bakalan dosa apa lagi naik kuda," ucap Alarico mulai aneh sampai dahi Syera mengerut menatap wajah Alarico yang alisnya berulang kali naik turun, memang tambah ganteng kalo dari gini tapi, Syera malah senep.
"Kuda? Pangku? Gak jelas ih minggir! Mandi sana Aku siapin bajunya." Seketika Syera tak bisa bergerak padahal mencoba bangkit.
"Enggak, sebelum ini..." ucap Syera menyentuh sudut kiri bibirnya.
Syera mendesah malas mengeluarkan nafas kasarnya. Sedetik kemudian Alarico mematung entah apa yang Syera lakukan sampai Alarico mematung.
Berdiri dari pangkuan Alarico dengan santai dan melepas pelukan tangan di perut Syera.
"Luar biasa Bini gue!" Syera menggeleng tak percaya dan meberikan handuk di wajah Alarico.
"Mandi Al... kamu bau, belum sikat gigi juga sana," ucap Syera memberikan pakaian ganti diatas kasur dan kembali meng hadap lemari tiba-tiba pipi kanan Syera di serang kecupan singkat Alarico yang tanpa banyak bicara lagi langsung melesat masuk kamar mandi.
Syera mengambil pakaiannya dan mandi di kamar mandi lain tempat ibu mertua biasanya.
Syera terkekeh mengerjai Alarico yang minta di kecup malah ia cubit hidungnya. Syera bahkan tidak tahu kenapa reaksi Alarico berlebihan.