Alarico

Alarico
Tuju puluh satu



Alarico yang sibuk meroko seketika di hampiri Raka yang meminta korek untuk meroko.


"Pinjem."


Suara itu membuat Alarico menoleh lagi dan mengambil uluran koreknya yang Alarico berikan tadi.


"Lo buat masalah tadi pagi sama Mommy?" Raka bicara seolah dia seorang cenayang padahal tidak karena telinga Alarico masih terlihat merah dan sedikit lecet karena kuku sang ibu.


"Males bahas Bang, lagian lo nyamperin gue, Sono ama bini lo," ucap Alarico yang sedikit kasar padahal abangnya sendiri.


"Ogah.. Gue mau ngerokok jauh bentaran lagian dia juga sibuk foto sama Temen-temannya," ucap Raka santai sambil mengeluarkan asap dari hidung can mulutnya.


"Gu gak dateng liat Lo di sidang Sama Nenek sama Kakek, Gimana rasanya? Gue juga gak liat muka lo waktu ketemu calon suaminya Syera tapi, gagal karena kejadian kemaren, Apa lo ngajakin dia berantem di depan Nenek kakek," ucap Raka dengan santainya menatap kedepan.


Alarico menoleh menatap datar sang abang dari samping.


"Kenapa? Kepo banget Lo!"


Raka terkekeh. Lalu menghabiskan sepuntung Rokoknya dan menginjaknya setelah tinggal batangan kecil.


"Gak juga.. Lo pasti kaget ekspresi kaget lo buat gue gemes rasanya lo belom dewasa Al," ucap Raka asal bicara membuat Alarico kesal dan berdiri langsung berjalan sakeketika Raka terkekeh.


Alarico berhenti.


"Lo pasti males kan kali ada yang ingetin masa kecil lo, Yaa. gue gak takut walaupun udah yinggung tapi, Lo pasti akan ngadepin masa kecil anak Lo, Yaah selamat menikah setelah gue.."


Alarico berbalik menatap sang abang dengan berdiri membusungkan dada kedua tangan di saku dan tatapan mata melembut dan Alarico menatap kesal.


" Apa Maksud Lo!" Alarico tidak terima di bilang seperti akan segera menjadi ayah oadahal tak ada bibit yang ia tanam bagaimana bisa ada yang tumbuh.


Alarico menghela nafasnya dan Raka bergeming dengan posisinya.


"Gak usah bertele-tele bang!" Kesalnya menatap datar abangnya.


"Lo nikah sama Syera besok." Raka berjalan mendekat dan menepuk bahu sebelah sang adik lalu berbalik berlalu pergi.


Alarico sedikit terdiam.


"Gue gak berharap sampe nikah kenapa malah nikah beneran sih.. Aarg.. Brengs*k," ucapnya pada dirinya sendiri emosi di satu kata terakhir ia ucapkan.


Syera dan Zulaika juga Dinda saling bicara seketika itu Syera menghela nafas dirasa sudah menyelesaikan ceritanya.


"Syukur lah.. gue kira apaan. Tapi," ucap Zulaika berhenti dan menatap Dinda.


"Lo kesambet apaan Rara.. Gue sama Zul gak nyangka lo bisa terbuka sama kita berdua." Dinda saking senangnya langsung berdiri dan meminta kedua temannya menunggu. Seketika itu Dinda datang lagi membawa makanan berkuah pedas manus berwana hitam dengan sesuatu seperti kerang tapi, berisi telur puyuh didalamnya juga minuman.


"Ini buat ngerayaain kalo Syera belakangan ini, udah mulai sedikit terbuka sama kita." Dinda berucap sangat riang seakan hal ini perlu padahal enggak juga.


"Kalian ini gue kan cuman ngomong hal biasa lagian gue gak akan cerita semuanya." Syera menimpali membenarkan kata mulai terbuka itu tidak semua di berikan.


Zulaika mengangguk sambil memakan camilannya.


"Iya.. kita tahu, dan kita akan larang kalo itu privasi kita juga manusia yang suka cepalas ceplos khilaf terus dosa Jatohnya."


Syera dan Dinda memberikan dua jempol pada Zulaika. Seketika mereka bertiga tertawa bersama.