
Ketika masuk mereka berdua menjadi pusat perhatian semua yang ada di meja makan tanpa sadar Syera mencengkrang lengan kemeja Alarico seketika Alarico berjalan masih dengan tangan Syera mencengkram jas hitamnya.
Kebetulan sekali mereka datang ketika Ayah dan ibu lainnya barusan mengajak tamu untuk pindah ke meja makan.
Alarico seketika memegang tangan Syera dan menuntun berjalan bersama dan kedua pelayan menarik kursi.
Mereka berdua duduk setelah kedua kursi di tarik pelayan bersamaan.
Syera melepaskan tangannya dan duduk dengan tenang.
Alarico menyalahkan dirinya tidak tahu jika situasinya akan sangat buruk saat pertama kali datang, sekarang dirinya dan Syera pasti akan dalam masalah.
Alarico harus bisa menjaga Syera tetap di tempatnya bersamanya tanpa di sentuh semua orang yang ada di meja makan.
"Alarico, Kamu kan akan makan malam dengan Papa dan bicara Hal penting, Jadi ini siapa?" Ucap sang ayah langsung pada intinya menunjuk Syera yang tampilannya tak terlalu mencolok.
Alarico mulai tak suka situasi ini cara bicara ayahnya selalu memojokkan orang yang paling menurutnya terlihat lemah.
Alarico selalu berpendapat buruk pada ayahnya, memang sebenarnya ekspresi ayahnya selalu kaku pada Alarico dan dingin terlihat sekali tak suka.
"Alarico, Mama gak papa kamu punya pilihan sendiri tapi, kenapa sekarang nak, Salsa bagaimana? Kasihan papa kamu sudah memberikan janjinya pada orang tua Salsa nak," ucap Mama Leni berusaha lembut.
Jika ibu sambungnya bicara rasanya Alarico sangat tak suka.
"Jangan panggil saya Anak, Saya bukan anak anda," ucap Alarico dengan menekan semua ucapannya.
"Alarico." Suara berat sorang lelaki yang pertama kali menyapa Syera kini terdengar sedikit tinggi memanggil nama Alarico.
"Apa.. Apa Papa mau belain istri tersayang iya, Kenapa Papa gak tanya Al, tentang perjodohan ini, Al punya pilihan sendiri hidup Al, Al yang tentuin," ucapnya mengebu menaikkan sedikit nada bicaranya di depan sang ayah padahal sedang di meja makan.
Di atas Raka dan Mommynya Alarico memperhatikan kegiatan itu tanpa Alarico sadari.
"Alarico, Mama," ucap Sang ibu sambung pada putra dari suaminya dengan lembut berusaha menekan amarah sang putra tapi, Alarico melempar tatapan tajamnya yang membuat Sang ayah makin tak suka sikap putranya.
Seketika tatapannya jatuh pada Syera.
"Siapa nama kamu?" ucap sang Tuan rumah pada Tamu asing yang diajak putranya masuk tanpa seizinnya padahal ini adalah makan malam bersama Salsa dan keluarganya.
"Sa-saya Syera Om." Sahutnya gugup takut benar-benar tak nyaman dengan situasi ini terkejut dengan nada tinggi kedua lelaki yang beda usia dan sepertinya tidak akan pernah bisa berbaur.
"Apa jabatan ayahmu dan sudah ada pengalaman kuliah luar negeri apa Kamu kenal anak saya sembarang dan membuatnya terikat sampai bisa melawan saya..."
"PAPA.. STOP, SYERA GAK ADA URUSAN. INI MASALAH KITA JANGAN GUNAIN TINGKAT SOSIAL KELUARGA SYERA DI DEPAN KOLEGA TERHORMAT PAPA." Bentakan Alarico seketika membuat semuanya diam dan Syera bergetar ketakutan Tahu situasi tak baik Alarico membuka jasnya dan memberikannya pada Syera.
Berusaha memegang bahu Syera dari luas jasnya.
"Lihat anak ini sudah bisa menilai tentang tingkat sosial yang aku tak maksud. Tapi, Salsa bahkan lebih baik dari gadis yang kamu bawa," ucap sang ayah seketika membuat emosi Alarico meledak dengan sempurna tatapan mata merah dan urat lehernya terlihat menonjol.