
Pagi saat berangkat ke kampus Alarico masuk siang dan Syera pagi. Alarico menunggu Syera didepan kelasnya. Di dalam kelas Syera merasa takut juga gelisah kenapa Alarico sampai melakukan ini padanya.
Syera terdiam berusaha fokus dengan mata kuliahnya yang sedang Dosen jelasnya.
Saat kelas berakhirpun Syera sama sekali tak bisa fokus.
"Syera.. Yuuuh... bebeb gue... Sayangnya aku, Gue minta maaf ya Karena kita berdua ninggalin lo kemarin, sekarang lo mendingan," ucap Zulaika merasa sangat bersalah dan Dinda Zulaika otomatis duduk di kedua sisi Syera dan sangat dekat.
"Kalian kenapa... Gue sehat kok!" Menatap bingung kedua perempuan yang dekat dengannya langsung mendekat padanya saat kelas benar benar sepi.
"Ck.. lo mah Rara... lo selalu bilang gak papa.. gak papa, Gue sama Dinda yang kenapa-kenapa, ihs!" Zulaika gemas dengan Syera yang selalu mengatakan seakan semua baik-baik saja.
Syera tersenyum malu saat keduanya menatap wajah dan tubuhnya secara detail seperti alat detektor dengan sinar biru.
"Stop, kalian kenapa sih? Gue ini baik-baik aja ok gue gak kenapa-kenapa serius dah, bahkan emoat lima rius gue dah," ucapnya menatap kedua temannya bergantian seketika Syera berdiri dan berjalan keluar melihat Alarico duduk dengan memainkan ponselnya. Seketika itu Zulaika dan Dinda datang beruntung remnya pakem jadi tidak menabrak Syera.
"Al.. udah, Kamu masuk aja ke kelas aku sama mereka aja," ucapnya menatap si posesif baru hari ini kayaknya Syera rasa.
Mengangkat pandangannya menatap kedua teman Sang istri Alarico melangkah mendekat Syera.
"Jangan pernah jauh dari mereka, Jangan sendirian. Sebentar lagi Tama sama Soleh selesai kalian ke kantin kampus aja," ucap Alarico menatap lembut Syera.
Tiba-tiba kecupan singkat dan sangat berkesan di Syera memebuat kedua temannya langsung membuatkan matanya.
"Haah.. Mata Jomblo gue ternodai gegara Lo.. Al!" Dinda langsung marah setelah Alarico menatap hangat setelah kejadian singkat. Zulaika hanya tersentak dan wajahnya sangat malu.
"Makanya Nikah sono," ucap Alarico seketika membuat Zulaika dan Dinda tersentak, s*al Zulaika dua kali tersentak. Emang dasar Alarico kalo ngomong asal santai kelewatan nyebelim buat emosi meledak mulu liat aja kalo gak nyeremin aja tuh muka ganteng Zulaika bakalan jambak tuh rambut.
Kesal sekali beraninya dia memperjelas setatus Jomblo Dinda, sombong banget sudah membuat masa depan dengan Syera dan mengatai dirinya secara tidak langsung tak punya pasangan. Emang yaa untung orang ganteng kalo gak, liat aja Dinda bakalan Rontokin tu gigi satu satu awas aja liat aja.
"Kalian gak papa?" Syera menatap keduanya.
Seketika gelaan nafas yang sangat terlihat oleh sepasang mata Syera membuat Syera sedikit geli.
"Enggak papa kok Rara!" sahut mereka riang gembira dan langsung berdiri di kedua sisi Syera dan menggandengnya.
Hampir sampai di kelas Alarico mengetik beberapa pesan dan langsung memasukkannya kedalam saku celananya.
Tama dan Soleh baru saja datang saat itu mereka langsung bergabung dengan Syera dan lainnya.
"Lo mendingan Ra?" Tama bertanya.
Syera mengangguk saja sambil memakan eskrimnya.
"Weeh.. makan eskrim lo gue boleh kali juga mau," ucap Soleh seketika Zulaika mengintimidasi Soleh.
Merasa terintimidasi Soleh mencibi pada Tama dan Tama dengan wajah tanpa bersalah membuat ekspresi, silakan aja Zul kalo lo mau buat Soleh jadi makanan piranha, Gue ikhlas !
Soleh mengartikan tatapan itu sedikit mirip membuang temannya. Soleh menunduk. Seketika Syera memberikan semangkuk yang belum di buka dari bungkusnya.
"Lo makan aja Soleh gue kebanyakan," ucap Syera tiba-tiba.
Bagai dewi penyelamat Soleh yang sekarang sedang masa keritis keuangan pribadinya di tolong juga sama istri bos sekaligus temannya ini.
"Makasih Cantik," ucap Soleh seketika tatapan membunuh ada di belakang Soleh.