Alarico

Alarico
Empat puluh Lima



Alarico keluar dari tempat kerjanya bersamaan dengan mall tutup. Saat itu juga langkah kaki menyusuri trotoar pinggir jalanan harus terhenti dengan seorang lelaki yang berdiri didepannya sedikt bersandar pada tepi pagar yang di jadikan seperti pot permanen di tumbuhi tanaman Aglonema besar daunnya selebar daun talas.


"Balik kerumah," ucap Raka. Orang yang berdiri didepan Alarico adalah abangnya. Raka berdiri disana sampai Alarico keluar dengan sendirinya. Alarico tak bisa harus ikut dengan abangnya.


"Pulang Al," ucap Abangnya lebih santai seperti ucapan mengintimidasi yang berati jika tidak mau maka akan di seret paksa.


"Gue gak punya rumah, Gak perlu pulang." Alarico menatap tajam abang dan melewatinya tapi tangan abang Raka lebih cepat menahannya dan menghentikan Alarico melangkah jauh.


"Gue gak butuh jawaban gue butuh lo jalan masuk naik ke mobil duduk diem," ucap Raka pada adiknya yang keras kepala.


Alarico menatap tajam abangnya. Tatapan tajam saling bertemu tapi, Tatapam tajam Abangnya lebih menyeramkan di bandingkan ayahnya. Jika ibu tidak menatap tajam hanya perlu berekspresi sangat lembut dan manis Alarico langsung menurut dan ikut naik ke mobil.


Di dalam mobil Alarico dan Raka saling diam lalu Raka meminta sopir menuju apartemen Soleh teman Alarico.


Sampai di sana sekitar beberapa menit menunggu macet segala macamnya.


Mereka berdua langsung masuk dan menekan bel apartemen Soleh. Terbuka apartemen itu oleh Tama.


Raka yang melihat Tama tak lama Galang lalu melihat Soleh dengan handuk di kepalanya.


"Bang!" Kata mereka bersamaan sedikit kaget.


"Ambil semua barang lo dan balikin hpnya Soleh, lo tinggal sama abang kalo masih ngerasa punya Abang," ucap Raka singkat lalu berjalan pergi meninggalkan adiknya.


Setelah Raka pergi Alarico menatap ketiga temannya sambil melangkah masuk.


Soleh terdiam. Alarico mengulurkan dan meletakkan ponselnya.


"Gue makasih sama kalian sekarang gue mungkin akan ketemu kalian di kampus Gue makasih sama lo juga Din, minjemin gue hp. Oiya hpnya mati lo cas aja, Gue bingung harus ngecas pake apa gak punya cassan juga," ucap Alarico seketika beralih pergi mengambil bajunya yang pernah ia pakai dan cuci disini.


"Gue balik sama Bang Raka kalian jaga diri makasih Lang Soleh buat tumpangannya beberapa hari ini," ucap Alarico. Setelah Alarico hilang di balik pintu.


Galang menggeleng tak percaya.


"Makin kesini gue makin gak ngerti jalan pikiran Bokapnya Al, Mommynya gue duga sedih sepanjang waktu piling gue gitu," ucap Soleh.


Seketika Galang menonyor kepala soleh dari samping.


"Sok inggris tapi, bantakan, gak becus lo jadi maha siswa," ucap Galang seketika Soleh mendengus sebal.


"Ngapain lo habisin pikiran lo buat urusan Orang. Gak jelas amat dah. Lo ya udah susah mikir jangan mikirin gak penting gue cuman kasian ama otak lo," ucap Galang lagi-lagi menggoda.


"Lang-lang Lo gitu amat ama gue, Iye tahu gue gak sepinter kalian tapi, gak gitu juga kali, Ck lo ya.. Eh.." Ucap Soleh seketika terpotong.


"Apaan," ucap Tama lama-lama jengkel juga dengan sikap Soleh aneh bin ajaib.


"Gakk.. gak papa gue cuman aneh aja tapi, gak jadi kayaknya." Soleh terkekeh geli membuat kedua temannya kesal.


Jika bukan teman saja Tama sudah mencabut lidahnya.


Di bawah Alarico masuk ke dalam mobil abangnya dan duduk diam.


"Papa minta lo balik tapi, Lo harus nurut apa kata papa." Seketika itu Alarico menatap tak suka dan ingin mengumpat didepan wajah abangnya.


"Bang!" kesalnya Seketika akan membuka pintu Alarico terkejut dan kembali menutupnya.