
Berjalan di tangga kampus menuju lantai tiga di mana mata kuliah kali ini ada di lantai tiga. Alarico dengan cepat sampai di atas dan masuk ke dalam kelas dan ternyata belum ada dosen saat baru meletakkan tasnya ternyata Dosen baru masuk.
"Selamat pagi! Bagaimana kabar kalian saya senang melihat wajah kalian beberapa hari tak bertemu, Baik kita mulai dengan lanjutan sebelumnya."
"Dalam ilmu yang di pelajari dari seorang yang berpengalam, dia orang terkenal dari sepanyol."
Penjelasan Dosen itu terus berlanjut seketika itu pikiran Alarico kembali melayang di mana kejadian kemarin malam Alarico tak bermaksud menyinggung Syera tapi, semua tipe ideal Alarico tak ada pada Syera.
Saat malam itu juga Syera langsung murung dan tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Syera langsung tertidur begitu saja saat sudah menanyakan dan langsung sholat isya sebelumnya.
Syera juga tak bicara apapun setelah bangun pagi kecuali, mengajak Alarico untuk sholat subuh. Setelah itu langsung keluar kamar. Syera bahkan tak berminat muncul di depan Alarico.
"Brengs*k!" Alarico kelepasan seketika itu menjadi pusat perhatian.
"Alarico fokus pada waktu saya menjelaskan apa kamu tidak menerima materi yang sudah kamu tahu, Kamu mengumpat?" Dosen langsung menjawab umpatan Alarico seketika itu Alarico bangkit dan berjalan keluar.
"Maaf pak, Saya izin badan saya rasanya sakit semua," ucapnya. Sang dosen yang melihat wajah Alarico dari dekat pun langsung diam dan detik berikutnya mengangguk, mempersilakan Alarico keluar.
Menuruni tangga tiba-tiba Alarico merasa tak nyaman dengan badannya mungkin efek perkelahian kemarin baru terasa tapi, ia terus melangkah menuruni tangga dengan cepat.
Saat di lantai tempat kelas Syera Alarico langsung mencari Syera dari jendela kelasnya.
Ketika terlihat Syera, Alarico menoleh pada jam tangannya.
Alarico menahan sesuatu sambil menunggu Syera. Tak lama semua maha siswa berhamburan keluar dan tak lama Syera terakhir. Alarico langsung menarik tangannya dan membawanya berjalan yang Syera sendiri tidak tahu mau di bawa kemana.
"Al!" Tak ada sahutan Syera terpaksa diam saja mengikuti langkah kaki Alarico yang cepat dan lebar. Tak memikir Syera yang mengikutinya hampir setengah berlari beruntung Syera fokus kalo tidak dia jatuh.
"Masuk!" Sampai di mobil Alarico yang sudah membuka pintu mobil meminta Syera masuk tanpa bantahan dan wajah dinginnya Syera yang sama sekali menghindari tatapan Alarico sejak awal pagi masih tetap sama, terus saja menghindar.
Syera duduk di dalam mobil dengan tenang lalu Alarico masuk dan duduk didalam juga tak lama mereka pergi dari campus banyak mata yang masih melihat termasuk teman-temannya Alarico dan juga Syera.
"Lo kenapa marah sama gue ra?"
"Gak marah tuh." Syera melirik Alarico lalu menatap kedepan lagi.
"Boong! Lo gak mau natap gue sedikit pun bahkan lo gak mau liat muka gue lama."
"Enggak juga Al, Biasa aja." Syera mengelak lagi dan Alarico sudah tak tahan. Mereka akhirnya sampai dirumah tak lama gerbang di buka Alarico turun dari mobil dan Syera juga turun dengan wajah yang aneh Syera memperhatikan Alarico dari cara berjalan saat sampai di dalam Alarico naik keatas tangga begitu saja Syera diam mematung di depan tangga.
Alarico kenap? Pikir Syera.
Padahal Syera tak melakukan apapun.
"Sayang, kenapa Al?" tiba-tiba sang ibu datang. Syera terkejut.
"Eh.. itu gak tahu Mom tapi, tadi Al kayak pucet, coba Syera tanyain dulu," ucap Syera mulai terbiasa dengan panggilan mommy semenjak pagi tadi ibu memberikan nasehat dan juga penjelasan baik untuk Syera kedepannya.
Makas dari itu sekarang memanggil ibu dengan panggilan mommy Syera lakukan walau rada kaku.