Alarico

Alarico
Delapan puluh delapan



Syera baru saja selesai dengan mata kuliahnya saat berjalan sendirian melangkah keluar gerbang seketika itu taksi datang.


Alarico masih memperhatikan Syera sepanjang jalan melangkah keluar gerbang kampus tadi tak sedikitpun Syera menoleh tapi, Anissa tiba-tiba datang dan merengek tatapan semua maha siswa kampus beberapa hanya sekedar menatap dan hanya acuh tapi, sepasang mata penuh rasa cemburu dari Harisya siapa lagi jika bukan Harisya.


Syera malah hanya melirik acuh dan masuk ke dalam taksi.


"Lo pergi sana SA... seriusan! Gue gak mau deket lo, Lo ngerti napa Sa!" Alarico sangking gemasnya menekan kata Sa di depan wajah Anissa.


Anissa terdiam.


"Tapi, Al lo kan ngajak gue pergi jadi lo mulangin gue," ucap Anissa ngotot tak terima jika ia di usir seperti ini.


Alarico naik keatas motornya dan memakai helemnya.


"Bodo amat! Lo dateng sendirinpulang sendiri lo maksa gue buat bareng lo," ucap Alarico seketika menyalakan mesin motornya. Seketika itu Anissa menghalangi jalan motornya. Alarico membelokkan arah lain dan langsung gas kecang menghindar.


Alarico tak perduli Anissa mau nyasar atau apa tapi, Anissa membuat Alarico tak nyaman dan hampir stres. Syera bahkan sama sekali tak menyapa atau mengabari bahkan bicara.


"Liat Al...Gue bakalan buat Lo suka sama gue pokoknya, lo harus suka dan cinta mati sama gue, titik!" Bicara sendiri pada dirinya sangat pelan dan mengepalkan botol air mineral kosong di tangan kirinya.


Syera terdiam menikmati laju taksi yang berjalan seketika itu taksi berhenti mendadak Syera kaget bersmaan itu juga pak Sopir kaget.


"Eh.. maaf Non baik-baik aja," ucap sang sopir.


Syera mengangguk.


"Iya pak saya gak papa bapak gak papa," seketika wajah terangkat Syera yang sadar siapa itu langsung membulatkan matanya dan turun pak sopir kebingungan dan ketika akan turun ketukan di jendela cepat langsung Syera lakukan pak Sopir taksi itu membukannya.


"Pak Makasih uangnya udah di bayar lewat aplikasi," ucap Syera pelan dan ramah. Pak sopir bingung.


"Iyaa non tapi," ucap Pak sopir.


"Iya pak gak papa anggep aja rezeki bapak," ucap Syera. Pak sopir sadar situasi tak baik langsung pergi.


Syera yang menyingkir ketika mobil taksi berjalan sambil mengelus dadanya dan Alarico yang masih di atas motornya terlihat menatapnya tajam.


Syera sudah duduk dengan nyaman dan mulai melepas tasnya seketika itu Alarico mengegas motor tanpa aba-aba.


"Naik motor sama Suami halal, gak haram!" Syera menatap belakang helem Alarico saat mendengar ucapan Alarico yang jutek.


"Ya." Asal jawab aja yang penting Syera terdengar bersuara.


Tanpa aba-aba Alarico sengaja mengegas motornya untuk Syera agar memeluk perutnya. Padahal Syera sangat malu bahkan malu lagi ada orang asing atau orang yang di kenal melihatnya walaupun, Alarico memang suaminya ya... Syera tetap malu.


"Lo kenapa gak tanya si anissa siapa kenapa lo gak natap gue kenapa lo nghindarin gue?"


Syera berdecak malas, kenapa? kenapa harus seperti ini lagi oadahal kemarin waktu Syera tanya apa tipe ideal Alarico dan Syera mengerti juga mendengar jika Alarico mengatakan Syera bukan tipenya.


Lalu sekarang permasalahan gadis itu, namanya Anisa... Oh yaampun bagaimana Syera harus memahami Alarico sih, Syera jujur sangat kesal sedih marah dan ingin menuntut Alarico menyukainya tapi, semua itu sangatlah tak baik, karena... Me-maksa-kan Ke-hendak-nya ya kehendak Alarico suka sama Syera.


Syera sebenarnya sama seperti perempuan lain ingin cinta lebih perhatian lebih apapun untuk seakan sang pasangan tak ada waktu untuk dirinya dan hanya untuk sang wanitanya. Tapi, Syera berpikir lagi jika mau menuntut ini dan itu pada Alarico, yang sudah sah jadi suaminya.


Alarico bahkan ingin Syera mengatakan apa isi hatinya sulit sekali mendengar Syera bicara blak-blakan tentang dirinya pada Alarico, Alarico tahu Syera pasti malas dan tak ingin juga mengira kalo Alarico pasti acuh dan cuek, sebenarnya Tidak justru Alarico ingin melihat Syera terbuka padanya. Alarico sadar jika ia terlalu tertutup untuk Syera sekarang! Alarico sudah berusaha dan apa lagi masalahnya.


Sulit sekali memahami wanita bagian mananya sih perhatiannya pada Syera yang Alarico lewatkan, perasaan juga Syera dan ibunya sama sama perempuan tapi, sulit aja masihan.


Alarico tak mendengarkan jawaban Syera sampai Alarico melirik sepion kanannya.


"Lo ngantuk?"


"Ra!"


"Ih.. iya Denger Al, gak usah gitu malu-maluin tau. gak!" Syera akhirnya menjawab apa yang Alarico ucapkan.


Di lampu merah mereka berhenti Syera melepaskan pelan tangannya seketika itu Alarico menahannya.


"Tetep kayak Gini Rara."