Alarico

Alarico
Sepuluh



Syera adalah korban dari sekian banyaknya perempuan di luar sana kenapa hanya Syera yang menjadi korban.


Bahkan Syera tak pernah tahu kenapa bisa dirinya menjadi korban dari lelaki yang bahkan tak memintanya dengan baik. Lelaki pemaksa kehendak Syera dan kasar Syera di paksa melayani nafsu bejatnya dan beruntungnya ada keajaiban dan jadilah seujung kuku ataupun seujung benang tak di sentuh lelaki kurang ajar itu.


Tapi, rasanya tetap beda karena situasi itu tak memungkinkan Syera cerita pada siapapun selama setahun di kelas dua belas dulu Syera menjadi pendiam bahkan lebih pendiam dari sebelumnya Syera bahkan lebih pulang awal sebelum lainnya datang juga lebih awal dari sebelumnya.


Syera tanpa sadar menjadi murid teladan para guru. Orang tua Syera tidak tahu dengan kejadian yang Syera alami dulu hanya dirinya yang hanya dirinya yang merasakan.


Terkadang ada ucapan yang mengatakan jika Syeea sering melamun tapi, seketika ceria. Tiba-tiba menyendiri Tiba-tiba memiliki teman banyak.


Syera bertemu Dinda dan Zulaika saja baru kemarin Syera bahkan lebih sering menangis di tempat remang dan jauh dari keramaian jika ia menangis di kontrakannya itu membuatnya takut tapi, jika menangis disini Syera tidak takut.


Syera berdiri dari duduknya dan berbalik pergi sambil menghapus air matanya.


Tanpa sadar Alarico baru sampai di tepi kolam tepatnya di sebrang kolam Alaruco duduk di pinggir kolam dan menatap bintang di langit tempat yang sepi tak sengaja Alarico temukan untuk menghilangkan bekas tangisnya.


Alarico ingin hancur rasanya sekarang tapi, emosinya tidak boleh melebihi kewarasannya.


Syera sudah menjauh dengan berjalan kaki dari sana tanpa salah satu tahu jika mereka ada di tempat yang sama.


Alarico ingin kesembuhan untuk ibunya ingin melihat ibunya lebih baik tapi, ibunya selalu tak mau dan mengatakan jangan bersusah payah karena semuanya lebih baik di tempat-Nya.


Itu ucapan dari bibir sang ibu yang paling Alarico tak suka.


Seketika ponsel di saku celananya bergetar. Alarico mengangkatnya setelah menarik ingusnya yang tidak ada.


"Al ke markas gak lo Tama lagi bakar-bakar cumi nih syukuran karena Tami bisa nerima keadaannya dan juga buat Tama seneng karena Tami gak ngebolehin Tama jauh darinya." Panggilan berganti vidio call.


Alarico melihat suasana markas sangat ramai termasuk dengan suasana bakar-bakar mereka.


Alarico mematikan panggilannya membuat Galang Cengo. Galang terdiam seketika mendengus kesal. Alarico sudah masuk kemobilnya dan melajukan mobilnya pergi dari sana. Alarico yang menjauh dari tempat itu seketika di taman dekat kolam ikan buatan itu tiba-tiba ada kunang-kunang sampai bergerombol cantik.


Di tempat tongkrongan Endless cave disana semuanya duduk menikmati bakaran seafood juga daging ayam dan daging sapi.


Tanpa sadar mereka jika ada mobil berhenti. Seketika mereka menoleh ketik Alarico menutup pintu mobil dan mengunci.


"Pak Bos datang," ucap Fauzan dengan riang.


Seketika Tama melemparkan sekaleng soda untuk Alarico seketika itu di tangkap. Alarico langsung duduk di kursi panjang dekat meja piknik dimana semuanya juga ada disana duduk bersma yang lainnya .


Lagi pula ini acara anak-anak Endless cave. Alarico yang gak suka daging tetep dateng walaupun gak makan.


Tama saja yang tahu jika Alarico tak suka dengan daging kecuali, dirumah.


Alarico tidak tahu jika Tama memperhatikannya tapi, sikap Tama membuat Alarico sedikit nyaman, Nyaman menghindar dari makan daging.


Bau daging bakar tak masalah tapi, untuk makan Alarico akan sangat menolak banget