
Zulaika merebut tiga tahu bunting lagi dari hadapan Tama.
"Makasih ya Tama... Uuh.. lo pengertian juga ini tahu bunting Bu Leha terakhir dan dia gak bakalan goreng lagi, Btw.. Al sama Syera kenapa lagi dia orang," ucap Zulaika pada Tama dan Galang.
"Gak tahu," jawab Galang seketika Soleh datang bersama Dinda membawa es teler dari dalam warung yang khas buatan mereka sendiri.
"Jiiaaah... Liaat es gue estetik kuy.. Asek lah," seru Soleh terlalu berlebihan seketika itu Galang mengaduknya dan membuat Soleh kesal tak jadi mengabadikannya untuk pajangan sosmednya.
"Waah Lu.. Lang.. punya dendam kesumat lo ama gue, Lang ayaolah Lang es ini gak mungkin balik lagi bagus, Ck.. kacau lo." Soleh pun pasrah setelah ngomel tak jelasnya.
Dinda mengeser segelas estelah yang di tangan kanannya untuk Zulaika.
"Lo gak papa minum es?" Kata Dinda.
"Iya lah emang kenapa takut amat, gue ini udah sehat luka juga kering," ucap Zulaika bersemangat.
Galang dan Tama menggeleng bersamaan. Suasanya yang tenang ketika Zulaika dan Dinda mulai ngoceh bercerita berdua sedangkan Galang Tama dan Soleh acuh berdua.
Sepi, tiba-tiba!
"Kenapa diam... ngomong aja kali kita kan emang sekampus," ucap seseorang yang di tatap tajam Dinda dan Zulaika.
Mereka berdua berhenti bicara saat itu lah suasana bagaikan kuburan walau sebenernya banyak yang nongkrong warung Bu Leha.
"Lo yang apa.. ngapain lo kesini mak lampir," ucap Dinda cuek.
"Ck.. ck... sans aja kali..." ucap Lelaki tampan dengan rambut merah dan hitam tak terlihat buruk tapi, lebih ganteng.
"Kita mau tanya langsung pada intinya, Temen lo kenapa bisa sedeket itu sama Alarico, Bukannya kalian benci banget ya," ucap Teman Harisya yang juga ada disini.
"Yaah.. gimana yaa.. mereka gak ngomong, gue aja yang bilang." Harisya melangkah dengan mengetuk gelas dan sendok.
Suara dentingan gelas yang nyaring. Tatapan Galang Tama dan Soleh menajam mereka saling tatapan mata berisyarat dengan 'Kalo mereka senggol Alarico lo atau gue bangkit, kita!'
Zulaika dan Dinda menatap tajam dua lelaki yang duduk didepannya, mereka seolah tak perduli dengan tatapan tajam dan malas Zulaika dan Dinda.
Seketika banyak orang saling berbisik dan saat itu juga Dinda dan Zulaika berdiri bersama.
"Zulaika," ucap Dinda memberikan dua gelas es telernya pada Zulaika seketika Zulaika menuangnya diatas kepala Harisya dengan santai dan dua gelas air putih Dinda siram ke wajah teman-temanya Harisya.
Terkejut semuanya menatap Harisya dan teman-temannya. Zulaika tersenyum licik wajahnya jauh berbeda sekarang bahkan Dinda saja terlihat begitu licik.
Soleh mulai bersiap berdiri. Soleh akhirnya berdiri juga tapi, hanya bersandar dan berdiri menonton lebih jelas.
"Enggak ada yang kalian tahu lebih banyak di bandingin Gue sama Dinda Lo pada ngerti!" Zulaika menunjuk wajah Harisya dan menatap semuanya termasuk dua lelaki yang masih duduk di kursinya.
"Sekarang jaman di mana ucapan hoax lebih bermutu di bandingin kenyataan, sekarang Dendam di balas lebih baik dari pada Kata, MAAF!" Zulaika menatap semuanya.
"Oh.. gimana kalo kenyataannya Alarico udah make Temen lo terus dia ketagihan dan sekarang mungkin mereka lagi ngelakuin adegan vulgar." Suara lelaki berambut hitam teman lelaki tampan berambut hitam merah membuat emosi Tama dan Galang tak bisa di tahan lagi. Mereka bertiga menghampiri lelaki yang bicara dan duduk didepan Zulaika dan Dinda.
Tiba-tiba Tama menarik lehernya dan membantingnya hingga jatuh mencium tanah.
"Emangnya kenapa kalo Alarico make istrinya sendiri Hah," ucap Tama menarik urat maratnya sampai begitu terlihat menonjol di lehernya.
Semua terkejut termasuk Harisya yang sama sekali tak percaya bahkan tak mau percaya.
"Lagian itu halal dan sah mereka juga pantes ngelakuin itu yang gak pantes itu Bac*t lo pada ngelambe mulu," ucap Galang membogem mentah orang yang baru saja Tama lempar.
"Kita semua termasuk mereka, temenan sama Alarico gak setahun dua tahun. Mereka berdua temenan sama Syera gak cuman bulanan bahkan tahunan mereka itu sama kek sodara sama kayak gue dan temen-temen gue ke Alarico," ucap Tama.
Seketika Soleh memberikan tisu untuk Harisya dan teman-temannya.
"Kalian kalo sampe nyinggung Syera ataupun Alarico, sorry cuman ini yang bisa kita perbuat," ucap Soleh seketika terdengar beberapa suara kekehan.
"Oh.. Iya.. gue mau bilang juga buat memperjelas dan gak bertele-tele, Zulaika, Dinda, Tama, Galang... Mereka orang yang gak diem waktu nama Syera Alarico di injek-injek, Karena apa... Syera Alarico gak disini Tapi, Gue gak tahu kalo Alarico besok berangkat ke kampus dan lo semua.. Lo.. Lo.. Atau Lo lima enam tujuh gerombolan," ucap Soleh berhenti.
Berdecak sambil memeragakan leher teriris.
Semuanya langsung diam dan pura-pura tak tahu, mereka masih sehat dan waras untuk tidak mengurusi Alarico dan membuat masalah dengan satu orang mematikan itu.