
Syera diam di dalam mobil bersama Alarico. Saat seketika sebuah tangan besar memegang tangan Syera seketika itu tatapan Syera beralih pada Alarico.
Alarico mengangguk dan tersenyum sangat manis seketika mengecup kening Syera.
'Semuanya hilang saat ia memberikan aku senyumannya, Alarico sangat berbeda jauh saat dimana kejadian itu terjadi.
Maafkan aku yang tak bisa melakukan banyak hal.
Saat aku bilang aku bersalah, dia menatap kedua mataku dan mengatakan jika semuanya bukan salahku, dia mengatakan... semua yang aku lakukan dengan kasar adalah pembelaan, dia juga menguatkanku dia terus memperhatikan dan dan tak pernah memudarkan senyumannya dariku.
Hanya nama Alarico yang bisa membuat aku merasa nyaman dan sangat bersyukur karena jawaban atas semuanya adalah Alarico tapi, apalah daya perasaan dan hati ini terlalu lemah aku sama sekali belum merasa kuat,' batin Syera sambil menatap keluar jendela.
Di perusahaan sang ayah berita tentang menatunya tersebar luas dan saat itu juga lima setasiun media dan juga pimpinan wartawan mengadakan rapat dadakan dengan Angga Samudra di temani putra pertamanya.
Anya dan Ibu mertuanya, Leni.
Mereka berdua ada di depan rumah menunggu ke pulangan Syera dan juga Alarico.
"Ini gak boleh buat Syera lemah," ucap Mama dengan wajah yang tak karuan paniknya.
"Anya.. telpon Al apa Syera mereka cepet-cepet sampe rumah," ucap mama.
"Iya.. mah iya, mama tenang Anya udah telpon Al sama Syera mereka lagi di jalan dan Orang tua Syera," ucap Anya seketika membuat Mama menatap kearahnya.
"Kenapa An... kenapa orang tua Syer, mereka tahu? iya, Kan Angga udah buat semua media tutup mulut dan mereka juga gak bisa menghapus apa yang udah mereka kirim."
Anya menatap kedua mata Mama.
"Mama tenang sekarang kalo gak tenang Syera bakalan panik juga ok," ucap Anya pelan. Mama mengangguk dengan wajah tak berhenti khawatir.
Syera menatap Kakak ipar dan Mama yang menatapnya seketika menunduk takut.
Tiba-tiba pelukan mendadak Syera dapatkan. Mama memeluknya sangat erat dan menatap juga memegang kedua pipi Syera.
"Nak kamu gak papa, Kamu gak ada yang di sakitikan, Kenapa kamu gak bilang sama Mama, Beruntung Papa bisa buat semua pemberitaan gak sampe ke orang tua kamu, bukan masalah nama baik tapi, Kamu sama Al gak ada masalah kan?"
Syera mengangkat wajahnya memegang kedua tangan mama.
"Iya, Mah. Syera baik Al jagain Syera Maaf juga karena Syera selalu ngerepotin di tambah masalah ini, pasti nama baik keluarga hampir rusak," ucap Syera dengan wajah sedih.
Mama menggeleng cepat. Tersenyum menatap mata menantunya.
"Kenapa kamu bilang gitu Syera sayang, Gak mungkin kamu buat malu karena kamu Sama Anya itu sama aja putri kami sayang, sekarang kamu jangan khawatir sedih," ucap Mama.
Tiba-tiba Syera menatap Alarico dan Kakak iparnya.
"Kita semua masuk aja yuk," ucap Syera dengan wajah senangnya.
Saat sang mama tidak mau melepaskan tangannya dari gandengan Syera saat itu Alarico di tarik mundur Anya.
"Al.. Ini ulah Angga Ya.. Papa barusan buat rapat dadakan gak tahunya Raka bilang semua berita tentang Syera ilang dalam sekejap," ucap Anya menatap Alarico
"Ck.. Sok tahu lo, itu cuman uang bicara, Gak tahu Lo kalo duit ngomong semua beres," ucap alarico sombong dan tak sopan padahal kakak iparnya sendiri.
Seketika Alarico berjalan mendahului Anya dan saat itu juga Anya tiba-tiba berlari dan sengaja menyenggol bahu Alarico sampai badanya bergerak ke samping.
"Untung kakak ipar!"