Alarico

Alarico
Delapan puluh tujuh



Syera tahu jika Alarico memperhatikannya tapi, Syera malas menatap wajah lelaki yang sudah di datangi tamu perempuan pagi-pagi di rumahnya dan sekarang kenapa pula Syera harus sendirian memang Zulaika dan Dinda kalo ada urusan suka lupa sama Syera.


Syera membaca bukunya di bawah pohon di kursi dan meja mengelilingi pohon.


Tiba-tiba seseorang duduk di samping Syera berjarak satu bangku.


"Permisi, Duduk sini boleh kan?" Syera mengangguk dengan wajah tersenyum tipis tapi dalam hati mual banget rasanya.


Syera fokus membaca buku seketika ponselnya berdering dengan nama Alarico dengan tengkorak di depan belakangnya seperti menyeramkan sekali orang ini, beberapa hari sebelumnya Syera mengganti nama kontak Alarico menjadi nama asli tapi, di tambah gambar tengkorak sedangkan biang masalah dengan gambar racun gajah itu sudah ia hapus karena kemarin hampir saja di lihat ibu.


Walaupun ibu gak tahu itu nama anaknya tapi, kalo sampe gak cepetan Syera ganti biasa bahaya tingkat tinggi.


Anissa sedikit melirik ke arah ponsel Syera yang berdiring tak terlalu jelas seperti apa namanya tapi, masa bodo, Anissa tak mau pusing memikirkannya.


"Hallo. Apa?" Syera tanpa basa basi langsung menjawab tanpa menunggu sebrang bicara.


Seketika ponsel di matikan Syera menatap malas dan pergi dari sana. Syera lebih baik masuk ke perpustakaan lebih tenang sampil menunggu jam pelajarannya mulai dan semoga saja dosen bandel yang jarang mengisi kelas bisa masuk hari ini dan Syera akan bertanya banyak.


Alarico di tempatnya sebenarnya sedang menelpon Syera dan ketika tersambung Syera menjawab tiba-tiba panggilan masuk lain dari Raka. Alarico berdecak malas kenapa juga abangnya menghubunginya. Alarico tenang duduk di dalam kelas yang entah kapan dosen masuk. Alarico mengangkat telpon lalu memeriksa Surelnya dan terlihat banyak sekali yang Raka kirim semuanya laporan dari berbagai kantor cabang, Saatnya bekerja dan kuliah kenapa bersamaan Abangnya mau menyulitkan dan menyusahkan adiknya.


Menatap santai dan datar menarik dan melebarkannya sekatika mengeluarkan pena ponselnya.


Tak lama Dosen masuk Alarico meletakkannya di sebelah bukunya, bukan Tablet lagi biasanya Alarico menggunakan Tablet. Sebenarnya Alarico sudah menggunakan buku dari sejak di hukum ayahnya dan kebetulan buku menurut Alarico lebih baik karena begini caranya tahu jika tulisan tangannya lumayan bagus dan tidak di bantu robot di tabletnya.


"Jangan bilang pada Raka atau Alarico kalo penyakitku semakin parah, Sejauh ini aku sudah meminta terus untuk mengatakan jika aku baik-baik saja, sekarang juga begitu," ucap Falisa dengan wajah yang perlahan tersenyum dengan suasana yang haru bersamaan itu bibirnya juga berusaha tertarik paksa tersenyum juga.


"Tapi, Lisa sebaiknya kita beritahu mereka kami tak bisa terlalu lama menyembunyikannya." Clara Dokter dan juga teman sekaligus Orang yang ikut merawat Falisa dari awal.


"Enggak sama sekali, aku gak mau liat mereka sedih, Syera sama Alarico barusan mereka bahagia gak mungkinkan kalo aku harus kasih tahu mereka hal ini."


Sudah percuma mereka membujuk Falisa agar jujur dengan putra kandungnya sendiri mau di katakan egois juga tidak bisa karena kebahagian keluarga ada di dalam pikiran Falisa bisa jadi itu juga memberatkannya dalam melakukan semuanya dengan leluasa.


Sikap Falisa membuat Angga, sang suami menjadi tak bisa menahan emosi di dalam hatinya, bagaimana mungkin orang yang sudah sakit parah sama sekali tidak mengizinkan keluarga kandung nya mengetahuinya termasuk putranya Alarico dan termasuk Raka putra pertama yang ia sayang, Angga akui dirinya memang kurang perhatian pada istrinya tapi, semua itu permintaan Falisa agar lebih mementingkan Leni dari pada dia dan Angga juga tak bisa merubah semuanya saat Alarico hampir mendukung keputusan ibunya membuat Anggak harus bersama Leni terus.


Debaran bersamaan rasa sesak tak bisa hilanh saat Angga terus menekannya seketika itu Angga berdiri dan berjalan ke arah luar pintu lalu masuk ke dalam mobilnya.


Angga akan menumpahkan semua emosinya sendirian di dalam mobil tanpa mengizinkan semuanya tahu jika dirinya bersedih.


Falisa langsung murung saat itu juga Leni memeluknya dan saat itu juga Falisa menangis.


Sejujurnya Clara tak menyangka jika Falisa masih seperti orang sehat sampai sekarang walaupun terlihat sakit di dalamnya Falisa masih terlihat segar, seakan sejalan dengan keputusannya kebugaran tubuh rambut yang rontok normal dan wajah masih terlihat cantik begitupun stamina, Clara merasa keinginan hidup Falisa sangat besar tubuhnya dan fisik luarnya sangat mendukung Falisa.


Clara jadi sedih juga jika seperti ini.