Alarico

Alarico
Tujuh puluh tujuh



Syera ada di ruang rias duduk didepan cermin dengan ibu Alarico di belakangnya memegang kedua bahunya.


"Kamu gemeteran dari tadi tiga botol air mineral udah abis sama kamu doang sayang," ucap sang calon ibu mertua yang sebentar lagi sah menjadi ibu mertua. Di rumahnya Alarico duduk di tepi kasur dang wajah terdiam di tatap dua lelaki yang sangat sayang padanya tapi, sama sekali tak mau memberikan kelembutan.


"Kenapa? Wajah kamu?" Sang ayah tampak terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya Sang anak yang sangat terlihat tak baik.


"Dah lah.. kalo cuman akad doang cepet kan trus kalo udah Al balik pulang," ucapnya santai pakaian sudah rapi tapi, luka di wajah sama sekali tidak bisa di sembunyikan.


Ayahnya hanya bisa meraup wajah dan terdiam. Menatap putra pertamanya yang mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu apapun.


Sang ayah akhirnya meminta anak pertamanya membereskan wajah sang putra supa tidak terlihat terlalu terluka.


Raka mengangguk dan mengerti arti tatapan sang ayah. Raka langsung bergegas dan melakukan apa yang bisa ia lakukan.


Keluar dari rumah terlihat luka Di wajah Alarico tidak terlalu parah kelihatannya dan ketika menaiki mobil Alarico di belakang bersama sang ayah dan Abangnya di depan dengan asistennya sebagai sopir dadakkan.


"Setelah hari ini berlalu lancar kamu akan memiliki tanggung jawab, Papa harap kamu tak main main dengan tanggung jawab besar ini," ucap ayahnya hanya di tanggapi pendengaran serius tanpa anggukan atau deheman.


"Syera... Kamu, Papa khawatir kamu akan membuatnya terluka, ulah kamu di luaran selalu tempramental papa harap kamu tidak begitu pada Syera."


Alarico menatap sang ayah. "Iya." Satu kata keluar dari mulut sang putra.


"Kenapa kamu tidak suka lagi?" ucap sang ayah datar karena tanggapan putranya begitu kesal.


Alarico kembali diam dan menatap keluar jendela. Sang ayah kembali diam dan wajahnya tersenyum senang.


Dalam hati dan pikiran Angga berkata jika Alarico putranya yang paling membencinya adalah paling ia perhatikan juga, semua kelakukan buruknya mampu merebut perhatiannya sampai perlakuan buruk Raka yang lebih dua kali berutal pun kalah dengan Alarico yang hanya lebih berutal.


Seberutalnya kelakuan putra keduanya masih bisa ia tarik paksa tapi, jika putra pertamanya tidak bisa karena kedua watak keras kepala Susan istri pertamanya sangat kental dan juga watak keras Angga sudah mendarah daging bahkan sampai keluar dan sangat terlihat di wajahnya Raka.


Kenapa Alarico yang hanya berutal dan jauh dari sikap lembut dan ramah itu bisa ada di bawah perhatian Angga juga Raka itu semua karena kasih sayang Raka dua kali lebih banyak dari pada Angga berikan pada Alarico.


Bahkan dari tatapan wajah dan mata yang tersulut emosi hanya wajah Alarico dan Raka yang Angga lihat masih terlihat kasih sayang dan rasa tak tega walaupun wajah mereka berdua sangat tak perduli.


Angga bangga pada putra pertamanya karena hanya putra pertamanya yang begitu memhami dirinya dan terlihat membenci tapi, sebenarnya sangat menyayangi bahkan sampai tak membiarkan kulit Angga lecet sedikit pun.


Pokoknya kedua putranya adalah miliknya dan ibu mereka adalah milik Angga selamanya terimakasih banyak dari Angga untuk Susan karena Susan juga ia memiliki Falisa dan Alarico.


Di tempat ruang riasnya Syera tergugup seketika Leni bergantian dengan Falisa menjaga Syera dan membiarkan Falisa duduk meluruskan kakinya.


Leni duduk di samping Syera dan memegang kedua tangan Syera menggenggam nya dan mencium kedua tangan Syera yang awalnya di tolak tapi, Leni tetap melakukannya.


"Terimakasih ya... Kamu matahari buat Al, Tante harap kamu mampu membuat hidup Al yanh suram lebih baik dan juga menjaga Al yang tak selalu berdiri tegar di tengah badai, kedua tangan kamu ini salah satunya akan memegang tangan Alarico di tengah badai ini, jadi apapun kondisinya selalu sama dia ya."


Seketika Syera sedih dan seketika Leni menghapus air mata yang belum sempat terjatuh.