Alarico

Alarico
Dua puluh sembilan



Niat ingin menengkan perasaannya ketika marahan dengan ayahnya tadi malah di senggol sesuatu yang bukan urusannya.


Lagian Galang kurang kerjaan juga, buat apa dia cari informasi tentang Syera. Gak guna bagi Alarico.


"Al.. Al.."


Alarico langsung berjalan pergi setelah diam menatap semua temannya.


"Gue ikut." Tama kali ini mengikuti Alarico tanpa persetujuannya.


Alarico membiarkan saja.


Keluar dari Club Alarico yang baru setengah mabuk menjalankan motornya bersamaan dengan Tama yang menaiki motornya sendiri.


Sampai di rumah Alarico di bantu Tama masuk dan meminta untuk mengantarkan ke kamar Alarico.


Ketika itu ibunya yang dari dapur sedang mengisi teko air minum di mar melihat Tama dan Alarico masuk langsung segera berlari membantu membawa Alarico masuk kekamarnya.


Tama menatap Alarico yang sudah berbaring di atas kasur. Seketika itu, Tama beralih pada ibunya Alarico.


"Permisi Tante. Tama pamit pulang dulu," ucapnya.


Tama berlalu keluar rumah dengan kesadaran masih ada tujuh puluh lima persen.


Tama yang pendiam gini-gini tahan juga Alkohol jika Alarico tanpa sadar habis satu botol lebih setengah.


Jika Alarico tidak di temani Tama pulang mungkin tak akan sampai rumah.


Alarico sebenarnya tahan Alkohol tapi, langsung tidur ketika sampai rumah tanpa mengigau itu berarti Alarico mabuk berat.


Sang ibu mengantar Tama sampai depan dan ketika Tama sudah pergi dari gerbang rumah. Ibu Alarico kembali masuk ke dalam, Seketika masuk kamar putranya.


Bi Jum langsung menyiapkan pakaian bersih dan juga kain lap.


Selesai mengelap Al dan mengganti baju dari bau Wine.


Alarico seketika bergerak membuka kaosnya dan membiarkan celana pendeknya saja yang di pakai.


KebiasaanAlarico ketika tidur. Sang ibu tidak kaget.


Ibu dan Bi Jum keluar kamar Alarico sempat sebelumnya mengecup dahi sang putra.


 


Pagi tiba dengan cuaca berawan. Alarico berjalan bangun dari kasurnya dan langsung pergi ke kamar mandi.


Di lantai bawah Salsa datang dengan pakaiannya yang santai.


"Nah itu Al, Sayang!" Sang ibu memanggil dan meminta Alarico menghampirinya.


"Pagi Mom," ucapnya mencium tangan Sang ibu. Lalu mencium dahi ibunya seperti kebiasaan sebelum berangkat Kuliah ataupun sekolah.


"Sayang ini Salsa kata Raka Salsa ini yang papa pilih buat kamu, dia.."


"Al mau berangkat, Assalammualaikum," ucap Alarico sengaja memotong ucapan ibunya. Alarico langsung pergi seketika.


Seketika tangan ibunya lebih cepat meraih tangan putranya sebelum menjauh.


"Alarico ini Salsa mau liat-liat kampus kamu nanti juga ajak dia jalan-jalan keliling jakarta ya... dia cuman sebentar, besok harus balik lagi ke Roma," ucap sang ibu menjelaskan pelan sambil menepuk nepuk bahu dan lengan atas kekar milik anaknya.


Alarico berdecak malas.


"Malesin lo, ngapain juga lo bertamu pagi-pagi."


"Numpang makan lo," ucap Alarico asal dan sedikit kasar membuat perasaan Salsa tersentil.


Seketika sang ibu mencubit pinggang putranya yang sayangnya tak berlemak jadi susah di cubit.


"Sayang gak boleh gitu, Hem.. Salsa, nak kamu ikut aja Al kalo di lagi ada kelas kamu jangan jauh-jauh dari dia ya," ucap sang ibu yang sebentar lagi akan jadi calon mertuanya.


Kejadian malam itu Mommy Alarico tetap diam tak ikut campur seketika orang tua Salsa memakluminya karena mereka, sebelum tinggal di luar negeri mereka sempat menjadi tetangga Alarico dan mommynya jadi mereka sedikit tahu bagaimana Alarico.


Alarico dan Salsa memang pernah kenal.


Sekarang di dalam mobil berdua Alarico sama sekali tak mengeluarkan suaranya dan lebih banyak diam dan tak sekalipun menganggap jika ada manusia lain di sampingnya.


Begini jadinya Salsa merasa aneh juga risih sih.


"Al.. Lo deket ya sama Syera?"


Alarico berdehem.


"Al.. kalo gak keberatan lo busa cerita tentang Syera ke gue," ucap Salsa menyarankan.


"Sapa tahu sedikit saran tentang semalem, buat apa bawa dia ke tempat itu semalem seharusnya lo gak ngelakuin itu itu buat nama Syera tanpa sengaja jelek didepan gue dan ayah lo, bukannya tambah baik." Salsa berusaha memberitahu dengan baik tanpa ada kata sindiran dan sangat halus berkata.


Alarico diam saja tak ada yang mau di ucapkannya.


"Kalo gue jadi Syera gue gak bakalan mau tapi, kalo gue jadi Syera gue seneng dapet pembelaan dari Lo, kaya semalem gue juga pengen lo lakuin itu ke gue suatu saat Al," ucap Salsa lagi tanpa ada sahutan dari Alarico.


"Berisik lo." Seketika sekali ucapan keluar, langsung membungkam mulut Salsa.


Salsa langsung menutup mulutnya rapat.