
Alarico kembali keluar malam saat siangnya dan sorenya hanya di rumah saat selesai acara dari pernikahan abangnya dan kakaknya Zulaika, Alarico kembali keluar malam, biasa tujuannya adalah club malam.
Baru melangkah masuk, di jam sepuluh ternyata Club masih senggang saat tidak ada temannya Alarico di bawah berdiri didepan meja bar meminta segelas alkohol dan es.
Meminum sambil mendengarkan musik dj berdentuman asik dan mendengars uara orang yang riang gembira juga ramai.
"Lo gak mungkin hidup sma gue yang busuk ini Ra." Alarico bicara sendiri dengan menatap kedepan kosong. Saat situasi club ramai tiba-tiba ada wanita dengan pakaian mini mendekati Alarico dan menggerayangi tubuh Alarico sampai semua tangannya leluasa bermain di semua tempat saat Alarico sadar dari Alkoholnya yang sedang berefek.
"Pergi!" Alarico mengusir dua wanita itu menjauh darinya dan mengusir mereka yang tetap ada di dekatnya tapi, sesuatu di geser mendekat seperti segelas wine tapi, yang memegang adalah wanita cantik.
"Lo pasti sibuk banget sampe Lo gak pernah meratiin gue ini buat Lo," ucap seorang perempuan dengan pakaian yang mini dan rambut berwarna silver biru hitam bisa bersanding dengan Alarico sebentar.
"Siapa Lo!" Alarico terdiam saat dimana elusan tangan lembut itu hampir membuat darahnya mengalir deras dan deru nafasnya hampir tak beraturan.
"Aargh.. Ngejauh lo dari gue," ucapnya pada wanita itu seketika melempar gelas anggurnya dan entah sudah berapa banyak gelas yang Alarico buang. Tiga atau empat.
Setelah minum begitu banyak Alarico membuang semua gelasnya dan kini meminta satu botol lagi Wine yang biasa dia pesan.
Alarico membayar dengan kartu kreditnya dan pelayan yang sudah tahu Alarico dengan cepat mengembalikan lagi setelah sudah selesai. Alarico keluar dari tempat itu dan mendudukan dirinya di depan kap mobilnya lalu berjalan dengan sedikit pelan tapi, masih bisa sadar.
Percayalah Alarico tidak mabuk dia hanya seperti orang mabuk karena berpikir dia sedang fokus saja pada satu nama dan akan menikahi Syera yang terlihat sangat baik, Syera bahkan jauh dari kata buruk dan dosa tidak seperti, Alarico yang tidak pernah ada pahala atau kebaikan dalam semua sikap dan tingkahnya.
"Blok.. blok.. Lo nikah sama ahli Sorga.. Lah lo ahli neraka." Alarico kembali meminum minuman yang ada di botol.
kedua tangannya memegang stir mobil, wajahnya di benturkan kenketangan tangan yang memegang stir.
Alarico mengumpat dan berbagai nama hewan yang tak boleh di ucapkan dengan nada kasar Alarico ucapkan.
Seketika itu mobil Alarico berjalan menuju keluar dari area parkir club.
Saat akan melaju diantara banyaknya kendaraan Motor Galang dan Soleh baru saja berbelok dan tiba-tiba berhenti mereka melihat itu mobil Alarico.
"Tama." Galang dan Soleh tak percaya melihat Tama ada di sini tiba-tiba.
"Buru... kejar Alarico mabok berat," ucap Tama dengan gemas.
Mereka bertiga lanhsung memutar stang motor bandepan ke luar area Club dan pergi mengejar mobil Alarico.
Saat mereka mengejar mobil Alarico malah lebih cepat dan membuat mereka bertiga mau tak mau harus menekan gas motor lebih dalam.
Saat situasi ini Rayanza meminta Alarico datang ke tempat dimana stadion tua dan jauh dari tempat umum juga pemukiman warga.
Alarico yang melihat pesan membacanya lewat ponsel sambil mengemudi langsung naik pitam.
Rayanza tahu saja jika Alarjco sedang dalam mode Iblisnya.
Liat siapapun gak akan pernah aman kalo berhadapan dengan sosok lain Alarico.
Syera ingin meminjam carger laptopnya jam tiga pagi karena sempat bangun solat malam dan ketika akan mengecas laptopnya ternyata casannya rusak dan Alarico tetangga atas kamarnya pasti bisa membantunya tapi, masuk kandang singa bisa bahaya.
Syera sudah di depan kamar Alarico seketika itu mengetuk pintunya tapi, tak ada suara seketika akan menekan knop pintu... ragu.
Tapi, Syera membuka pintu kamar Alarico juga dengan bismillah dan permisi sambil menelpon saat panggilan ternyata terputus berarti Alarico tidak ada di kamar.
Syera melihat kamar lelaki untuk pertama kalinya dan itu sangat menakutkan walaupun Alarico rapi dan tidak suka berantakan. Syera tetap takut dengan kamar ini karena tak ada kesan ceria semuanya menyeramkan termasuk bau parfum kamar.
Di tempatnya tangan Alarico banjir darah dengan sudut bibir dan pelipis juga mengucur darah segar dan air juga bercampur keringat.
"Lo bukan Manusia, Alarico!"