Alarico

Alarico
Enam puluh tujuh



Syera bersama Alarico turun saat itu juga pengendara motor yang terparkir samping mobil asing dekat mobil ayahnya membuka helm ful facenya.


Memperlihatkan rambut gondrong ikalnya dan wajah tampannya, Rayanza pemanampilan yang berbeda tapi, Syera tak pernah lupa wajah itu.


Rayanza yang merubah penampilan sama sekali tak membuat Alarico terkejut dan justru terdiam menatapnya datar kearah Rayanza Syera berjalan pelan seketika kepala Rayanza memiringkan sebelah kiri dimana Syera berjalan mendekat di samping Alarico.


Alarico menatap Rayanza dengan datar dan melirik kesamping.


Syera seketika mengepalkan tangannya yang tersembunyi didelam gendongan bukunya.


Tanpa melirik ke arah Rayanza yang sudah ada di dekat dan melirik wajah Alarico di sampingnya saat itu tekat kuat Syera mengeras dan langkah kaki kanan lebih lebar dan lewat begitu saja.


Sperti angin yang acuh melewati mereka bertiha rok wiru Syera seakan bergelombang dengan langkah Syera yang melebar melewati kedua lelaki dengan wajah datar.


Rayanza seketika mengerutkan bibirnya dan perlahan senyum tipis itu hilang tatapannya lanhsung mengarah ke Alarico yang menatap Syera menjauh darinya dan Rayanza.


Langkah Syera berhenti di depan tangga teras seketika menoleh pada kedua lelaki itu dan menatap tajam pada Alarico.


Senyum kemenangan yang sangat licik sekaligus meremehkan lawannya yang ada didepannya. Seketika itu Alarico berjalan dengan sengaja menyenggol bahu Rayanza.


Naik tangga bersama Alarico tanpa memperdulikan Rayanza.


Syera dan Alarico masuk ke dalam saat itu juga ada nenek dan kakek Alarico dari ibu kandungnya dan juga ayahnya disana.


Rayanza juga membawa orang tua dan mereka ada di sebelah orang tua Syera yang duduk di sebelah nenek Alarico.


Syera langsung beku seketika, hanya dirinya yang merasa jika hawa ruang tamu yang banyak mata juga orang menatapnya sangat mengintimidasi dan mengambil semua oksigen untuk Syera bahkan tak memberiakn Syera waktu bernafas walaupun sederik, tatapan mereka tajam menusuk.


"Alarico." Suara tegas sang kakek mengintrupsi sang cucu seketika itu Alarico berbalik.


Tak lama Rayanza masuk dan tersenyum dengan baik sangat sopan dan ramah.


Tiga kepala keluarga ada di dalam ruangan ini bersamaan itu Nenek kakek Alarico yang kedatangannya tiba-tiba menjadi penengah diantara dua keluarga.


"Syera kamu perempuan yang tidak ada hubungan dirumah ini, kenapa kamu mau tinggal di rumah ini nak?" Tanya sang nenek pada gadis berhijap pasmina panjang hitam dan pakaian tertutup yang panjang bukan gamis.


"Saya.. gak tahu karena saya cuman di suruh tapi, saya gak ngapa-ngapain di rumah ini, saya bahkan minta keluar tapi, selalu di larang."


Nenek Alarico mengangguk dan menatap sang suami yang dudum di samping ayah Rayanza.


"Kalo begitu kenapa kamu tidak menolak saja?" ucapnya mengulang pertanya nenek tapi, versi sang kakek.


"Saya di larang Alarico, dia bilang bahaya dan banyak alasan lainnya katanya penjahat juga banyak di luar sana," jawab Syera masih dengan ke gugupannya. Syera berusaha kuat untuk tidak terlihat memalukan walau kini tangannya tremor.


"Syera kamu tahu satu rumah dengan laki-laki yang bukan mahramnya walaupun ada ibunya dan kalian tidak melakukan apapun, Hem... bagaimanaya tapi, Saya gak percaya itu," ucap sang nenek.


Syera langsung gelagapan dan menatap semuanya.


"Kamu punya Tunangan, dan Tunangan kamu datang buat jemput kamu apa masih pantas kamu bersama dia Nenek gak bisa terlalu jauh untuk mendorong kamu dengan keputusan memilih Alarico tapi, jika di lihat dari beberapa hari kalian tinggal disini itu juga tidak bisa kami bilang benar," ucap sang nenek pada Syera.


Semuanya mendengarkan masih fokus pada Syera.


Syera menunduk tidak tahu harus bilang apa tapi, kenapa semuanya seakan salah Syera.


Alarico yang mau bertindak seketika di tangan sang ibu dan ayah.


"Tenang Nak," ucap Sang ibu berbisik.


Rayanza ingin mengamuk tapi, kedua orang tuanya juga menahannya.