
Malam hari yang tenang sebuah mobil range rover putih berhenti di halaman rumah setelah itu turun pengendaranya yang tak lain Alarico tapi, Syera tak turun juga hingga Alarico membuka pintu mobil samping dan ternyata Syera tertidur.
Acara mereka sangat banyak walaupun tak terlalu banyak tamu luar tapi, keluarga mereka meminta hal aneh sehingga mau tak mau Syera mengangguk terpaksa Alarico bahkan tak tahu jika istri sahnya yang baru beberapa jam lalu langsung diajak semua sepupunya selfi sampai di ajak ke dua temannya merumpi, termasuk sang ibu kandung dan ibu sambung Alarico yang menarik Syera kesana kemari juga mengamanggil Alarico untuk bersama abangnya saja.
"Baru juga jadi istri nyusain lo," ucap Alarico kembali seperti semula.
Alarico menggendong Syera yang bahkan lebih ringan dari perkiraannya padahal makan Syera lebih banyak yang setahu Alarico termasuk ngemilnya. Eh.. tanpa sadar Alarico sering memperhatikan Syera semenjak tinggal di rumahnya.
Alarico bahkan menggendong Syera dengan sangat hati-hati dan melangkah masuk kerumah.
Sedikit bergerak Syera di gendongannya.
"Makasih." Samar seperti bisikan seketika Alarico menghentikan langkahnya di depan tangga. Melirik Syera yang masih terpejam dan dengkuran halusnya begitu terasa di leher Alarico.
Seketika Alarico sudah ada di depan pintu kamarnya dan membukanya sendiri dengan hati-hati.
Sampai didalam Syera di baringkan perlahan diatas kasur Alarico juga melepaskan sepatu hijap? eh.. tunggu tidak! Jangan Alarico lewati yang ini enggak Syera tidak boleh dirinya yang melepaskannya. Alarico ingin pergi tapi, jika Syera tak bangun bagaimana?
Sudahlah Alarico pergi mandi saja.
Suara gemericik ari di dalam kamar mandi juga suara sikat gigi yang sangat berisik seperti yang didengar Syera membuat tidurnya terganggu sampai Syera perlahan membuka matanya dan apa yang ia lihat seprai hitam putih lembut dan selimut bagian atas seperti satun dan dalamnya seperti sutra lalu batal yang empuk, eh.. Syera langsung membuka matanya dan melihat kesekeliling seketika meraba kepalanya seketika nafasnya lega.
"Aman Jilbab kerudung gue gak lepas, huuh!"
Seketika pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Seorang lelaki yang tanpa atasan dengan celana training hitam garis abu-abu sependek diatas lutut. Handuk di kepalanya bahkan terlihat menutupi sebagian wajahnya.
Ketika keluar dan dengan santainya berbalik berjalan ke arah lemari.
"Lo udah bangun?" Alarico dengan santai berbalik dan memakai kaosnya dan dan seketika itu berjalan ke balkon entah membawa apa dan seketika itu menutup kembali balkon dan menyalakan korek api lalu kepulan asap keluar dari depan Alarico.
Syera yang memunculkan diri dari pintu balkon seketika mengibaskan tangannya di depan wajah dan masih mencium bau asap rokok, tidak batuk yang penting.
"Lo yang gandong gue sampe kamar?"
"Hem!"
"Lo yang lepas sepatu sama kaos kaki gue?"
"Hem!"
"Lo yang aah.. Enggak ada niatan buka jilbab gue kan lo," ucap Syera seketika menelisik wajah Alarico.
"Gue ada niatan."
Syera membeku diam.
"Tapi, gue gak berani ngelakuinnya bener-bener, Maaf Lo gak nyaman?" Kali ini Alarico mengeluarkan suara walaupun yang tadi hanya deheman saja tapi, menurut Alarico deheman dan anggukan kepala itu sangatlah cukup baik menjawab. Tapi, Syera justru kesal.
"Al?"
Seketika Alarico menatap Syera santai saat panggilan namanya keluar dari Syera.
Tangannya beralih mematikan puntung rokoknya di asbak dan mulai membuka sekaleng birnya.
"Lo suka tipe cewek kayak apa, pasti bukan kayak gue kan?"
Gerakan Alarico ketika minum soda dari kaleng terhenti bahkan sebelum bagian bibir kaleng menyentuh mulutnya.