Alarico

Alarico
Sebelas



Pagi ini di kampus samudra di adakan acara bakti sosial dimana di pilih saja yang menjadi perwakilan kampus Alarico dan Tama lalu teman lainnya dua orang.


Syera dan tiga teman perempuan lainnya.


Galang dan Soleh tak terpilih. Zulaika dan Dinda tidak terpilih.


Pagi ini Syera dan Alarico Tama berjalan dengan mobil kampus dan mobil milik Tama.


Acara yang dadakan tapi, tidak terasa juga kalo sebenarnya sudah ada dua bulan berkuliah dari awal masuk.


Rasanya baru kemarin masuk.


Syera dan tiga teman perempuannya tersenyum-senyum sendiri entah apa yang mereka bicarakan seketika perjalanan tidak terasa sudah sampai di tempat musibah banjir. Karena kampus Samudra kampus terbaik. Sering mengadakan bakti sosial untuk kepentingan sosial sekaligus amal.


Alarico dan Tama menjadi penyuting sekaligus mengambil gambar dua teman lelaki lainnya membantu mengambil barang dan membawakan barang.


Semua nya sudah terlihat lebih baik hanya sedang membersihkan rumah dari lumpur. Beruntung rumah dan kediaman di daerah Alarico dan Syera tempat tinggi dan bersyukurnya tidak pernah banjir.


Syera tersenyum sambil membantu membersihkan rumah yang perlu bantuan di bantu teman teman perempuan lainnya.


Tama mengambil gambar dengan baik dan tanpa sadar menjadikan Syera selalu menjadi model alaminya.


Beberapa teman Syera membagikan sembako sambil mengambil mobil.


Tama yang mengambil mobilnya dan satu teman lelakinya juga menjalankan mobil agar lebih dekat.


Ketika melihat anak kecil Syera berkumpul disana dan dan mengajak bicara.


Ceria, ramah, bersahabat. Pikiran Alarico ketika melihat Syera.


Seketika itu Alarico mengarahkan kamera nya dengan baik dan hasil jepretannya begitu sempurna dengan modelnya adalah Syera.


Membantu mengepel Masjid dan mushola yang terkena banjir dan kotoran lumpur.


Banjir surut tapi, selokan terlihat penuh. Ini siatif Alarico seketika meminta semua warga mengumpulkan sampahnya di depan rumah Alarico langsung berlari ke tukang rongsokan juga tukang sampah yang terlihat mencari sesuatu di depan sana walaupun jaraknya jauh. Alarico melangkah lebar dan berlarian mendekat dengan cepat sampai.


Alarico meminta mereka mengambil semuanya dan Alarico membayar mereka dengan lima lebar uang ratusan ribu.


Syera dan lainnya termasuk Tama di buat aneh. Tama dan Syera seketika menggeleng sedangkan penyebabnya semua tukang sampah dan rongsokan datang, hanya tersenyum-senyum bangga.


Duduk di sini di bawah pohon tempat makan lesehan didekat taman yang mereka dagang tidak akan mengganggu.


Minum air degan yang segar kan dahaga.


Seketika meminum itu Alaruco memperhatikan Syera dari kejauhan tanpa sadar. Tama yang peka menyenggol lengan Alarico.


"Awas Lo suka nanti," ucap Tama Alarico mendecih.


"Gak mungkin, Syera bukan tipe gue. Alarico lebih suka cewek montok semok semelehoy, kek dia sama sekali bukan tipe gue," ucap Alarico dengan percaya diri.


Tama mengangguk saja lagi pula percaya pada ucapan Alarico sama saja musyrik dan aneh bisa gila kalo percaya.


Tama saja sudah malas percaya.


Mengiyakan saja itu sudah lebih dari cukup.


"Yaa.. terserah lo aja, tapi.. ya tapi, gue kira lo bakalan butuh Syera di masa depan. Ingetin gue buat catet omongan lo broh," ucap Tama.


Seketika Alarico tersenyum miring meremehkan ucapan temannya yang selalu tenang.