Alarico

Alarico
Enam puluh dua



Naik ke dalam mobil lalu minta di setirkan sopir sekaligus pengawal Syera terdiam dulu memperhatikan apa yang Alarico lakukan dengan kedua orang jas hitam rapi dan badan besar.


Seketika itu Syera berlari ikut masuk mobil duduk di bangku penumpang. Mobil berjalan melaju pelan dengan sangat pelan hingga tidak terasa jika mobil sebenarnya sudah sangat cepat diatas aspal bersama dengan para kendaraan lain. Karena mereka menyetir cepat tidak ugal-ugalan dan lembut tidak kasar.


Syera diam saja menatap keluar jendela seketika sampai di kampus Syera turun bersama Alarico baru saja turun mata semua mahasiswa yang melihat sedikit melotot tak percaya. Syera berjalan pelan seketika Alarico tak bicara apapun Syera lebih cepat berjalan sebelum Alarico mengomel.


Saat itu juga Dinda melihat Syra dan menghampirinya lalu mereka berpelukan ala teletabus padahal hanya teman tidak terlalu mereka terlihat biasa tapi, Dinda sangat senang sampai melup kebahagiannya menjadi pelukan.


"Lo tumben dateng keluar ke kampus sen.. Eh ada Al sama lo Ra?"


Dida melihat Alarico berjalan mendekat dan berdiri di belakang Syera.


Dinda menatap Syera lagi.


"Cerita panjang gue gak bisa sembarangan sekarang kemana-mana sama dia gue tinggal juga serumah sama Al, Din..."


"Haah.. Seriusan berapa kali lo Ra.. Gak percaya gue ra.. Lo yang keliatan virgin udah nikaj sama nih berandalan kapan Ya Allah ra! Lo lupa Ra! Lupa lo punya gue sama Zulaika."


Syera memebekap mulut Dinda seketika mengajak Dinda berjalan menjauh dan pergi ke perpustakaan.


"Wah... wah.. yang katanya Sok pahlawan nyelametin sandra di bank Negara masuk kampus lagi," ucap salah satu maha siswi yang tak menyukai Syera karena selalu Syera terlihat lebih baik darinya.


" Hahah.. Liat Dia masuk," ucap Maha siswa yang baru saja mengakan wajahnya mungkin dia baru saja membaca artikel.


Sedangkan mereka tak akan ada yang berani dengan mengolok-olok nama Alarico.


Sekali saja mereka menyebutkan nama Alarico. Siap! mereka mau jadi bahan samsak Alarico.


"Stop.. Cewek sok," ucap Harisya yang tiba tiba datang seketika menatap Syera dari atas sampe bawah. Seketika terkekeh.


"Ohyaa.. Yaampun... Gak banget deh, sok berani eh jadi buronan negara sekarang, Ceroboh sih lo jadi Cewek gak mampu apapun aja sok-sok an," ucap Harisya.


Seketika Tama dan Soleh baru lewat sekitar lantai satu kampus tak sengaja melihat kerumunan dan itu ternyata Syera Dinda Harisya dan Alarico di belakang Dinda dan Syera.


"Ngapa tuh.." Soleh menarik tas Tama untuk mendekat seketika Tama menepisnya.


"Biasa aja lo," ucapnya kesal Tama dan Soleh mendekat seketika Harisya terkejut saat Alarico di hampiri Tama dan Soleh.


"Waah... Prima dona ngapain lo disini, Enak lo tinggal satu rumah ama pak bos malah kemari," ucap Soleh asal bicara seketika Syera menatap tajam kedepan dan melihat wajah Harisya yang terkejut dan berubah kesal lalu semua teman-teman Harisya tak percaya juga kaget lalu bergunjing dengan teman lainnya.


"Lo... bisa diem!" Syera menoleh kebelakang berucap sadis dengan tangan bergerak menutup mulut seperti resleting.


Soleh menatap mata tajam Syera seketika menengguk ludahnya kasar.


"Sukurin," ucap Tama menahan tawanya.


"Mulut lo udin, Ngomong penting gak penting diem aja," ucap Alarico pada Soleh. Seketika Soleh meneguk ludahnya kasar untuk kedua kalinya.


"Ra, itu beneran?" Dinda kali ini bertanya pada Syera. Seketika Syera menarik Dinda menjauh dna Dinda dengan baiknya ikut langkah Syera. Harisya menatap kepergian Syera dan Dinda dengan kesal sampai kepalanya ikut menoleh ke belakang.


"Apa Lo? Minggir!" Alarico berjalan dengan acuh tak mau tahu ekspresi kecewa Harisya.


Alarico dan Soleh, Tama pergi begitu saja.


"Kenapa Syera kenapa harus cewek itu kenapa bukan gue, Gue lebih panteh tinggal sama Alarico di rumahnya bukan Cewek S*alan itu," ucapnya sambil merapatkan giginya dan meremas jari jemarinya.


"A!...." Teriakan melengking Harisya membuat semua temannya terkejut. Tiba-tiba Harisya berbalik pergi.