
Syera dalam perjalanan pulang dari kampus saat mobil berhenti di lampu merah Syera terdiam melirik Alarico yang diam bersandar pada sandaran terlihat juga jika Alarico menggunakan aerphone Bluetooth.
"Ehm bolah berhenti, turunin gue di toko roti gak," ucap Syera pada Alarico pelan. Seketika Alarico berdehem menoleh.
"Jalan ke toko roti Sam pak," ucap Syera pada sopir dengan sopan dan pelan.
Syera terdiam lagi setelah Alarico kembali menatap keluar jendela.
Di Cafe's. Galang dan lainnya turun Lalu Dinda berjalan di belakang mereka.
Mengambil tempat yang jarang banyak pengunjung duduk di sana dan lebih dekat juga dengan parkiran mobil mereka.
Tak lama alarm yang Galang bawa bergetar dan Galang yang baru duduk berdecak malas.
Pergi mengambil pesanan yang mereka pesan tadi.
Dinda hanya diam begitu juga Tama dan Soleh. Tak lama Galang datang mereka bertiga serempak menyimpan ponsel.
Galang langsung bingung.
"Ada apaan kenapa pada gitu mukanya. Heey.. ayolah gak mungkinkan Dinda kesini sengaja gabung karena..." Tama menatap wajah Galang yang terus tersenyum dan bicara menganggap ini hanya mampir biasa.
"Diem Lo," ucap Soleh seketika Galang merapatkan bibirnya.
Dinda mulai berceri darimana Rayanza dan Syera kenal sesuai dengan yang Syera beritahu dan yang Tama dengar di restoran cepat saju itu juga Dinda ceritakan. Sampai pada akhirnya tidak ada cerita jika Rayanza punya maksud lain atau jahat. Memang Rayanza jahat dan sangat menginginkan Syera tapi, semuanya tergantung Syera. Syera bahkan selalu menolaknya.
"Tapi, kemaren kabar berita kalo keluarga Rayanza mau tunangin putranya sama anak perempuan asal swis yang kalo gak salah tuh cewek selebgram." Kata Galang seketika menyela dan semuanya merasa bingung.
"Soal itu Syera gak kasih tahu gue bahkan setelah dirumah sakit itu dia bilang semua salah dia dia gak akan hubungin gue sama Zulaika kalo bukan dia sendiri yang mulai hubungin gue sama Zulaika."
Tama Soleh dan Galang terdiam.
"Semuanya tiba-tiba berubah ada hal lain tapi, dari sorot mata Rayanza ke Syera waktu di rumah sakit itu keliatan banget dia gak akan pernah lepasin Syera," ucap Tama seketika tatapan ketiga orang di hadapannya menatap Tama sedikit serius.
"Haah.. udahlah.. itu urasan Syera gue gak mau terlalu jauh privasi seseorang itu penting buat gak kita usik sekalinya ngusik kasian juga dia jadi gak punya orang yang bisa di percaya, Gue harap kalian pegang janji, dan makasih ya teraktirannya gue pulang duluan nanti ade gue paling bontot nangis gak ada orang di rumah," ucap Dinda. Seketika Galang dan Soleh berdiri.
"Pulang sama gue aja Din," ucap Soleh dan Galang bersamaan. Seketika itu Dinda menatap Tama.
"Kalian gak jelas. Tama aja anteng," ucap Dinda lalu berlalu seketika Dinda keluar Cafe's menuruni tangga seketika itu Galang langsung mengejarnya dan Tama memegang tangan Soleh.
"Kasihan dia," ucap Soleh.
"Lo kayak lupa Dinda aja bentar lagi tu anak balik dia cuman bilang sama sopir taksinya, Gak bakalan mau di satu mobil berdua sama Dinda, abis dia bisa-bisa," ucap Tama seketika Soleh kembali duduk diam menikmati makanan manisnya.
Di depan toko Roti Sam. Syera turun dengan tenang.
Melangkah masuk sendirian dan meninggalkan bafang-barangnya kecuali, Dompet di mobil yang pasti ia bawa.