
Alarico merasa jika semua yang Syera lakukan selama ini hanya ia pendam sendiri. Baru juga beberapa hari ibu meninggal Syera harus menghadapi sikap kekanakan Alarico dan di tambah wajah murung sama sekali tak Alarico lihat, yang ada hanya wajah seperti semuanya baik-baik saja dan tidak apa-apa.
Alarico dan Syera bersama berdiri membereskan alat sholat.
Setelah membereskan Alat Solatnya Alarico memilih pergi ke ruang kerjanya sibuk dengan pikirannya tentang Syera dan semuanya Syera.
Di tempat tidur Syera hanya duduk di tepi kasur menatap keluar dari pintu kaca balkon seketika air mata mengalir dan jatuh menetes di antara genangan air yang murni dan segar. Syera merasa harus menghilang saat dimana keberadaannya tak di akui sang ibu. Syera ingin bicara tapo, semuanya memaksa Syera untuk diam. Menahan semua sendiri sampai, melihat Alarico di ujung sisi gelap penuh dengan bunga dan waktu yang berputar pelan.
Mencoba mendekat memberikan surat Syera lakukan setiap hari tapi, Syera tak pernah mendapatkan surat balasan Alarico. Tapi, itu tidak membuatnya putus asa dan sedih.
Syera menerima jika apa yang ada di ujung sisi gelap itu bukan untuknya mungkin tempatnya hanya bisa menerima sunyi tanpa suara.
Saat ada Rayanza semua sedikit berubah. Saat Syera mengira ia akan dibawa ke sisi indah ternyata, salah. Syera bahkan berada di lubang paling gelap dan tangan serta wajah pun tak bisa Syera lihat, semakin dalam kegelapan Syera bertekad menutup hati sampai, Semua berlalu begitu saja. Sekarang sudah berbeda.
Syera mengerti kenapa ia di buat lama tinggal di tempat paling gelap itu karena apa yang ia rasakan tak boleh ada kata bahagia agar dirinya tahu betapa besar efek kebahagiaan, jika sudah sangat bahagia nanti akan jatuh ke tempat gelap.
Tapi, jika mereka yang keabuan harus di berikan cahaya dari kegelapan karena mereka yang merasakan pahit hidup yang menurutnya pahit sampai membuatnya ingin mati. Pasti, akan memberikan kebahagian untuk semuanya.
Usapan tangan di kedua pipinya sangat di tekan dan berusaha membuang semua air mata dan sekarang dirinya benar-benar milik Alarico. Dari semua yang ia lalui tanpa ada yang tahu bagaimana jika menjadi Syera yang asli.
Seketika itu tubuh lemah ini mulai terbaring dengan hampir semua helai rambut berjatuhan di atas bantal dan telingan dan kepala menyusul lalu semuanya berbaring diatas kasur yang sudah bersih.
Syera ingin semuanya hanya mimpi. Rasanya ia sangat takut bagaimana jika Alarico pergi meninggalkannya saat tahu jika ia benar-benar buruk dan Syera yang sekarang sangat lemah dan butuh waktu untuk terus baik-baik aja dan tidak apa-apa.
Helaan nafas lembut keluar dari orang berbeda tapi, satu ruangan. Bahkan semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alarico menatap kotak yang ia simpan di bawah lukisan dan sepertinya ada yang menyentuhnya. Kota ini tak pernah terbuka dan ada yang membukanya.
Alarico melihat jika ada bekas air menetes di surat berdebu dan perlahan Alarico membuka membaca semua surat yang di berikan dari seseorang yang selalu meletakkan di laci mejanya waktu Sma.
Saat itu Alarico menatap penuh cinta surat di tangannya.
Disaat Alarico membaca saat itu Alarico sadar sesuatu san wajahnya berubah mengeras dan marah.