Alarico

Alarico
Lima puluh tujuh



Syera langsung mendekat pada ibunya melepaskan tali yang mengikat ibunya sedang Alarico berkelahi dengan orang itu sampai tak sadarkan diri.


Semuanya keluar dengan aman dan Bom ternyata di kendalikan dengan pengendali remot yang penjahat menodongkan pistolnya pada Syera.


Saat di rumahnya, Rayanza melempar gelas anggurnya ke dinding hingga membuat berantakan kamarnya.


"Kenapa kalian ceroboh kenapa bisa ada ibunya didalam sana, Katakan padaku jika kalian sangat bisa di andalkan," ucap Ranza sangat murka mengamuk. Seketika menebas sebuah lukisan berharga miliyaran di kamarnya.


"Keluar!" Semua keluar dari kamarnya.


Di halaman Bank Negara. Semuanya terkendali sampai mobil rombongan Angga dan juga Raka datang bersama salah satu orang penting di kemiliteran.


"Alarico," ucapan atau panggilan dari seorang lelaki yang mendekat pada Alarico yang di obati perawat dekat mobil Ambulan.


"Saya harap tidak ada tindakan kedua kalinya untuk putra anda Angga. Saya sangat menyangkan hal ini terjadi lagi, dan teman perempuannya juga, Sebaiknya mereka berdua harus didik keras menjauh dari tempat ini kemungkinan besarnya tidak akan baik," ucap orang penting itu.


"Syera namanya ia teman sekampus adik saya mungkin mereka terpaksa melakukannya karena ada alasan dasarnya," ucap Raka dengan berani pada kedua orang lebih tua di depannya dan Alarico di sampingnya.


Syera yang melihat sepertinya Alarico di salahkan lagi Syera tak bisa tinggal diam saat ayahnya datang menghampiri ibunya. Syera menatap ayahnya dan menitipkan ibunya karena ingin mendatangi Alarico.


"Permisi aku juga mau bicara penting," ucap Syera sedikit keras. Seketika itu Raka dan Alarico menoleh Angga juga melirik Syera bersamaan orang penting itu di sampingnya, pak Bayu.


"Biarkan dia," ucap Raka.


Syera langsung melangkah mendekat setelah para pengawal itu memberikannya jalan.


"Maaf.. Sebelumnya Saya Syera saya gak sama sekali mau Alarico ikut saya masuk kedalam, Saya minta tolong sangat kalo Alarico jangan di salahkan, Saya sepenuhnya yang bersalah, Saya juga memegang dan mengambil senjata milik petugas saya, juga tidak memakainya, walaupun begitu tindakan saya tidak dapat di benarkan," ucap Syera menatakan dengan jelas dan semua tim khusus atau tim gabungan mendengar penuturan Syera dengan baik merasa jika ini bisa di pikirkan lagi dengan di beri kelonggaran tapi, semua keputusan ada di tangan atasan, pak Bayu.


"Kamu pemberani nak tapi, salah karena kamu bersikap tak pada tempatnya, Kalo gitu ini bisa jadi pembelajaran buat kalian saya senang karena kamu bicara tanpa takut dan terus terang dan beladiri anakmu Angga, cukup lumayan, kita akan bicarakan ini pada atasan ini jadi hal sulit untuk di putuskan sekarang, untuk sekarang berjaga-jaga. Mereka berdua harus bersama," ucap Pak Bayu pada ayah Alarico dan abangnya Alarico.


Seketika itu tempat ini, Bank negara langsung di seterilkan dan beberapa hari Bank libur, dikarenakan takut ada bom.


Di rumah Alarico Syera terpaksa tinggal pindah di rumah Alarico tanpa membawa apapun kontrakannya sudah di kosongkan orang tuanya sendiri.


Angga ayah dari Alarico langsung bicara pada kedua orangtua Syera. Seketika itu meminta mereka di tinggalkan satu rumah dengan begitu mereka tak sulit di cari jika beberapa pihak berwenang datang untuk sekedar bicara dan Wartawan sangat banyak sejak kemarin bahkan orang tua Syera pun di datangi wartawan. Tapi, beruntungnya Raka bergerak cepat.