Alarico

Alarico
Enam puluh empat



Syera dan Alarico saling diam Syera yang tidak enak karena Dinda menyebut nama Rayanza. Sedangkan Alarico justru santai saja tapi, Syera justru mengertikan tatapan wajah Alarico menurutnya adalah kekesalan dan merasa tidak nyaman.


Syera tiba-tiba mengingat ucapan Rayanza yang akan mengancam membunuh Alarico dan ketika itu juga terlihat kalo waktu Alarico menembak orang yang menodongkan pistol pada Syera waktu itu mengenal Alarico.


Tunggu gak mungkin Alarico terkenal banget di kalangan kriminal.


Tapi, Orang kemaren bilang kalo Bosnya nungguin nyawa Alarico kalo cepet gini jadi mudah, kira-kira itu kata yang penjahat itu ucapin kalo sedenger dan seingat Syera.


Syera entah kenapa bisa ngaitin omongan Rayanza sama penjahat yang tangannya di tembak Alarico kemarin di Bank negara.


Setelah berlalunya Syera dan Alarico Tama mendatarkan wajahnya dan melirik Dinda begitu juga soleh yang melirik Dinda.


"Haah.. apaan lo pada sambet nih," ucap Dinda seketika berbalik seketika itu Soleh mengejarnya dan berdiri di depan Dinda.


"Tunggu dulu Din. Gue mau tahu sedikit tentang Rayanza sama Syera?" Soleh berucap santai tapi, Dinda seperti tertekan dan kaget.


"Haah.. apaan gue gak tahu, gue mau pulang bay," ucapnya berlalu seketika Tama berjalan melewati Soleh mengikuti Dinda kearah yang sama dengan Syera dan Alarico pergi tadi.


"Lo kasih tahu aja sapa tahu kita bisa bantu." Tama tak kehilangan akal mengorek informasi itu.


"Gak ada urusan kita sama kalian berempat kalo pun ada gak akan sampe masalah pribadi ya!" Dinda menjawab sambil berjalan.


"Ok, bukan pribadi tapi, gue... liat sama temen gue kalo Rayanza jemput Syera di rumah sakit waktu itu, dan Syera marah sambil nunjuk-nunjukin muka Rayanza otomatis dong kita langsung berpendapat yang enggak-enggak dan saat itu juga Zulaika di tusuk orang pake sesuatu yang bahkan barang buktinya ada gak ada."


"Maaf gue udah janji sama Syera gak bisa cerita tapi, gue gak janji gak cerita sama kalian cuman gak boleh ngomongin hal itu kalo gak sama Syera," ucap Dinda sambil membalik badannya dan menatap Tama dan Soleh yang barusan berdiri di samping Tama.


"Rayanza itu orang yang mau di jodohin sama Syera tepat saat Syera masuk kampus. "


Dinda menjeda ucapannya. Soleh dan Tama menunggu jawaban berikutnya.


"Kita bisa buat pura-pura gak tahu tentang masalah lo cerita ke kita, anggep aja lo lagi nyelametin sesuatu tapi, lo nyuruh orang laen," ucap Tama dengan wajah datarnya.


Dinda menghela nafas mengangguk.


"Kalian ada ide buat cari tempat baik buat cerita gue gak nyaman di kampus nanti ada lambe turah nyinyir aja kerjanya," ucap Dinda melirik mereka yang memperhatikan Dinda bicara pada cowok populer kampus.


Soleh melirik semuanya dan seketika mengangguk paham.


"Ayo," ucap Soleh mengajak keduanya pergi dari sana.


Mereka masuk ke dalam mobil Galang tak lama Galang datang dengan membawa es campur di tangannya.


"Eh.. ada Neng Dinda. Apa kabar neng tumben numpang mobil abang ada aposeeh(apa sih).. Kalian?" Galang seketika berdehem mengangguk dan duduk dengan benar. Soleh mulai mengemudikan mobil Galang yang kali ini menjadi sopir.


Tama dan Dinda duduk di belakang jika Galang duduk di samping Soleh yang mengemudikan mobil.