
Syera dan Rayanza kini satu mobil sempat sebelumnya Rayanza memaksa Syera seketika Rayanza akan mentuhnya Syera langsung kesal.
Saat itu juga dengan terpaksa Syera menaiki mobil Rayanza.
Di rumah sakit kini Dokter memberitahukan jika kondisi Zulaika membaik dan lukanya juga sedikit cepat merapat berkat obat terbaik yang di berikan.
Anya bernafas lega.
Mereka tidak tahu jika Raka sudah menyelidiki semuanya termasuk obat yang di berikan untuk Zulaika.
Sayangnya Raka tak bisa berbuat apapun karena jika orang itu ketahuan berbuat sesuatu kalo rencana di ketahui Raka bisa bahaya. Intinya Rayanza yang Raka tahu adalah putra Adiayatama, pemilik perusahan Farmasi masih saudara jauh dengan Salsa dan kedua orang tuanya.
Ini langkah berat untuk Raka ambil maka dari itu lebih baik Raka diam saja dan dan melihat kedepannya.
Raka masih bersama dengan Anya. Membujuk Anya makan.
Seketika Anya akan makan Dinda datang bersama Alarico dan Galang.
Soleh dan Tama mendadak harus pergi karena ada urusan penting.
"Kak Anya, gimana?"
Anya mengangguk dengan ucapan Dinda. Anya tersenyum.
"Dimana Syera? Keadaan Zulaika membaik lukanya juga cepet ketutupnya."
Dinda menghela nafasnya lega dan seketika itu Raka menatap Dinda. Dinda tak sadar dan seketika suara Raka terdengar karena menyebut nama Dinda.
Dinda menoleh.
"Bawa Anya makan di kantin rumah sakit," ucapan seperti terselip perhatian itu membuat hati Anya sedikit menghangat.
Saat Anya menganggukkan dan Dinda melangkah pergi kini, tinggal Alarico dan juga Galanh di tatap tajam Raka.
"Kalian berdua bisa kemari?" ucapan yang ditanyakan pertama kali oleh Raka pada kedua lelaki didepannya.
"Kita dateng karena Zulaika temen Syera," ucap Alarico sepontan cepat.
"Dimana Syera kenapa cuman si perempuan itu aja," ucap Bang Raka lagi mulai mengintrogasi Alarico.
"Syera pergi sama laki-laki mungkin ada urusan lagi, kenapa juga abang tanya-tanya, kalo liat gak ada gak usah tanya," ucap Alarico berbalik pergi seketika tinggal Galang. Galang juga ikut berbalik pergi.
Raka mengidikkan bahunya dan menelpon seseorang.
"Jangan lakukan apapun untuk mereka jangan awasi dari dekat untuk itu tetap awasi Anya dan adiknya di rumah sakit, Lakukan tindakan jika memang mengancam," ucap Raka pada telpon.
Seketika kembali duduk Raka bersandar pada kursi.
Seketika ponselnya bergetar. Raka membukanya dan melihat jika ada pesan masuk berupa foto.
Tatapan Raka semakin datar.
Di tempatnya Alarico kini kembali bekerja dan saat sibuk bekerja Harisya datang dan memilih pakaian.
Alarico langsung melayaninya dan seketika itu, Harisya perimadona kampus terkejut melihat Alarico menjadi pelayan toko.
"Loh.. Kok Lo gini Al," ucapnya kaget.
"Pasti saham papa Lo anjlok ya," ucap teman Harisya.
"Kalian mau beli atau mau wawancarain gue," ucap Alarico seketika membuat teman-temannya Harisya terdiam.
"Al.. Lo selesai kapan, kita bisa ngomong sebentar," ucap Harisya.
Menoleh kekiri kanan.
"Kalian milih-milih atau liat-liat aja dulu, gue mau ada urusan sama Al," ucap Harisya pada teman-temannya. Mereka langsung melangkah pergi. Saat itu juga Harisya menatap Alarico.
"Gak punya waktu buat lo," ucap Alarico sedikit kasar.
"Lo cuek amat Al, Gue ada sedikit rahasia informasi buat lo tentang Syera kalo lo mau denger," ucap Harisya seketika Alarico memanggil teman perempuannya untuk melayani Harisya.
"Eh.. enggqk mb saya mau ngomong sekaligus tanya sama masnya." Harisnya menolak halus pada sang perempuan pegawai, beruntung mengerti dan langsung pergi.
Harisya mendekat pada Alarico dan menarik lengannya seketika Alarico berbalik dan menepis tangan Harisya.
"Syera pernah mau di perkosa sama lelaki namanya Rayanza Lo gak jijik gitu sama cewek murahan kek Syera, lebih pantes gue Al, mana belum pernah lagi begituan, Nih Al luarnya aja bagus kalo dalemnya rusak gimana," ucap Harisya seketika Alarico bereaksi menatap Harisya.
"Oh.. Lo ngomongin diri lo pake nama Syera, Syera bukan uran gue!"
Harisya langsung diam dengan kalimat Alarico yang pertama dan kaget dengan kalimat keduanya.