Alarico

Alarico
Tujuh puluh



Hari ini pernikahan Raka dan Anya saat dimana semua masalah berlalu dalam beberapa hari Anya dan Raka menikah di Masjid kota hanya kolega dan keluarga dekat juga tamu dekat atau tetangga yang hadir.


Setelah acara akad diadakan acara makan bersama.


Saat itu sebelum akad kejadian di rumah sangat kacau sampai Ibu Alarico yang tidak pernah marah atau terlihat marah baru kali ini marah pada sang putra.


"Alarico!" sang ibu menatap putranya yang duduk di depan bersama dengan pak sopir dan Syera di belakang bersama dengan calon ibu mertuanya.


Syera dengan gaun polos tanpa geliter atau payet atau hisan diamond lainnya, Syera terlihat cantik natural bersamaan itu ibu Alarico juga cantik dengan sanggul yang tertata rapi dan juga kebaya moderen dengan kain jarik sebagai bawahannya.


Alarico menggunakan jas dengan motif batik sebagai hiasan ringan dan kemeja yang warna sangat cocok dengan tema pengantin, warna putih.


"Iya.. Mom," sahut Alarico yang pasrah karena ingat pagi tadi telinganya di tarik sang ibu karena Alarico sembarangan masuk saat Syera sedang memakai jilbabnya.


Sang ibu juga ada di kamar Syera menunggu juga membantu Syera bersiap.


Saat itu juga Syera kaget dan mata tajam ibunya yang hampir sama sekali tak pernah terlihat langsung menyala besar.


"Gak usah perduliin dia sayang, kamu sekarang banyakkin tenang sama bahagia, dia gitu kalo udah kelewatan, kalo lain waktu dia ngulangin, Tante persilakan kamu pukul dia semau kamu," ucap sang ibu terdengar aneh di telinga Alarico.


"Laah.. Kok gitu sih Mommy, Al juga gak sengaja Al kira dia udah siap Al masuk aja lagian dia kalo pintu gak di kunci itu berarti dia lagi aman."


"Ya kan ketok dulu bisa." Syera menyahut cepat seketika sang ibu terdiam menggeleng.


"Apa Al mau mommy jewer kupingnya di tempat umum," ucap Sang ibu seketika Syera membuang wajahnya Alarico mendengusa dan diam saja.


Duduk di meja bundar hanya dengan Syera membuat salah satu dari mereka sumpek.


Seketika Alarico berdiri pergi dari sana dan berjalan keluar dari lingkungan para tamu.


Oiya.. Pernikahan Raka di Masjid lalu acara resepsi sederhana ada di Hotel alam yang berjarak jari Masjid tempat mereka akad.


Syera hanya acuh dan sebentar melirik Alarico yang pergi.


Jilbab bahan satin dan riasan tak terlalu berlebihan. Syera menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat melihat ternyata ada Zulaika duduk disana bersama dengan Dinda. Syera tak menduga jika temannya sudah bisa keluar sekarang.


Syera mengabari lewat ponselnya saat itu juga Zulaika membuka ponselnya lalu menoleh kearah Syera.


Zulaika melambai lalu Dinda juga melambai.


Mereka saling menghampiri walaupun Zulaika sedikit pelan berjalan karena sakit di perutnya masih sangat terasa.


Syera menatap haru bestienya itu.


"Lo gak pernah dateng yang sering dateng Dinda." Seketikq raut wajah Syera tak enak. Syera terdiam tersenyum kekeh kecil sambil mengusap sedikit air mata yang keluar.


"Enggak... eh maksud gue lo kemana aja kenapa Lo gak dateng walaupun itu lo bisa kabarin gue lo baik kan Ra, kata Dinda Lo sama si biang kerok satu rumah, Lo kok mau sih ra?"


Dinda memelingkan wajahnya menganggap tidak ada yang menyebutkan namanya barusan sedangkan Syera terkekeh haru tapi, dalam hatinya Syera sangat ingin mencubit Dinda sampai menangis tertawa.