
Setelah mengatakan apa yang perlu Syera meminta izin pulang dari ibunya dan ibunya mengangguk karena Syera memang harus menyelesaikan urusannya.
Bukannya di biarkan Syera begitu saja tapi, Ibu paham Syera punya pekerjaan lain di luar sana.
Syera pamit pergi dengan sopan tanpa menatap Rayanza yang masjh duduk di kursi taman dekat taman mawar biru.
"Haah.. Sulit sekali menaklukan hatimu tanpa adanya kekerasan." Kata Rayanza menatap tanaman mawar biru. Dimana saat itu Syera menyukainya dan Rayanza masih menjadi teman dekat. Waktu masih menjadi teman dekat Syera menerima bunga itu tapi, setelah tidak teman lagi dan Rayanza punya perasaan Syera bahkan tak pernah menoleh kearahnya.
"Haah.. Mesum Gila... Iya gue mesum karena Lo Syera Alinda, gue gila juga karena Lo Syera Alinda, " ucap Rayanza pada dirinya sendiri.
Syera pergi ke tempat dimana Zulaika ingin santai bersua dengannya. Syera sengaja mengambil libur tapi, sayang bukan libur kerja paruh waktunya tapi, toko kuehnya tutup karena pemilik dan managernya sedang rapat di kantor utama dan juag kueh habis di borong semua nya oleh orang yang Managernya tak kenal.
Syera malah bersyukur jadi libur sungguhan dianya.
Sampao Syera di kedai makanan siap saji. Ada Dinda juga ternyata.
"Rara... Lo dateng akhirnya Lo baik-baik aja kan tapi, Eh muka lo kok sepet gitu kek gak pernah di sirem air," ucap Dinda sengaja menggoda agar Syera tertawa atau Syera kesal.
"Ck... Diem lo Din," ucap Zulaika.
"Hehe iya sorry...Sorry." Dinda duduk memberikan satu helas soda dan makanan kentang goreng jumbo dan ayam jumbo untuk dimakan bersama tapi, minumannya kan sudah sendiri-sendiri.
Ketika Syera mengambil ayam dan memakannya. Lalu mencolek sambelnya. Syera mengunyah dan memakannya sampai habis dan tersisa tulang di tangannya.
"Lo kelaperan Rara?" Ledek Zulaika. Dinda juga langsung melihatnya dan tertawa.
"Banget.. Karena Rayanza ternyata lebih gila dari sebelumnya, Kalian tahukan cowok yang pernah gue bilang waktu itu mau ngajak gue pergi tapi, untungnya Ada anak-anak ikatan organisasi mahasiswa lewat jadi gue bisa kabur sama Lo," ucap Syera menatap Zulaika.
"Yaa Gitulah." Zulaika mengangguk lalu meminum minumannya didepannya.
"Ini pertunangan Lo sama Rayanza gak mau minta bantuan Alarico biar inpas gitu," ucap Dinda.
"Enggak gue gak mau ngerepotin Gue gak mau liat dia bantuin gue, gue tahu masalah dia lebih sulit gue lebih baik nyelesainnya dengan bener dulu nanti cara batalin lain kali gue cari," ucapnya.
Tanpa Syera sadar jika di belakang Zulaika adalah Tama dan Tami yang sedang makan berdua.
pembicaraan Syera dan teman-temannya didengar Tama dengan baik.
Tama jadi tahu sesuatu.
Berarti beneran yang Tama tahu dulu kalo Syera dan Rayanza lalu ucapan Iqbal di Club itu bener adanya, pikir Tama.
Tama menatap Tami yang makan eskrim dengan tersenyum.
"Kakak.. Nanti belajar lain lagi ya kak, Oiya kak Bu guru aku kasih ide biar ujianku lisan aja jadi aku bisa jawab dan papa sama mama juga setuju," ucap Tami dengan senang.
Tama mengangguk tersenyum.
"Iya Anak pinter, Kalo gitu.. Kamu makan eskrimnya nanti kita belajar yang lain lagi, Kamu mau kemana besok kakak cuman ada satu jadwal," ucap Tama pada sang adik.
"Aah.. iya Kak aku mau ke musium tulang sama akuarium besar nanti kakak ceritain apa aja disana."
"Ok Tuan putriku, sekarang kita jajan dulu keliling-liling mumpung Mama sama papa lagi ngizinin kamu keluar."
" Hehe Iya Kakak ku yang ganteng makasih ya..."
"Lo kok tahu kakak ganteng, Aah Tami ngintip ya," ucap Tama tak masuk akal bahkan kelewat aneh.
"Kakak ini ada-ada aja... Tami tahu kakak ganteng karena Kakak punya suara seksi apa lagi kalo lagi ngomong Tami juga masih inget muka kakak waktu sebelum kecelakaan," jelasnya dengan polos pada sang kakak.
Tama terdiam mulai meneteskan air matanya seketika terkekeh untuk menutupi kesedihannya.