Alarico

Alarico
Sembilan puluh tujuh



Anissa melihat Syera dan Alarico berjalan ke atas tanpa memperdulikan tatapan terkejut Syera. Syera menuruni tangga perlahan pelan dan selamat sampai lantai bawah saat itu Anissa menatapnya dengan tersenyum manis.


"Hallo.. kenalin Gue Anissa gue calon istrinya Alarico, kira-kira dimana ya Tante Lisa." Anisa sama sekali tidak tahu tentang kabar itu.


Syera tersenyum mempersilakan Anissa untuk duduk di kursi dan sarapan bersama meja makan.


Masih dengan menyambut baik Anisaa. Syera bahkan melayani Anissa layaknya tamu.


"Aku Syera aku kerabat deketnya Tante Lisa aku baru dateng ke rumah ini, dan Tante Lisa udah meninggal kemarin, tiba-tiba," ucap Syera seketika raut wajah Anissa berubah datar dan saat bersamaan Anissa murung.


"Maaf ya.. gue gak tahu, dan maaf kalo gue kurang sopan lo cewek pake kerudung Lo gak takut buat aib dirumah ini," ucap Anissa.


Syera dengan tenang tersenyum.


"Enggak, karena setiap jam lima sore dan jam lima subuh aku baru dateng dan pergi jadi aku punya kehidupan sendiri kali udah lewat jam lima sore, jadi abis jam lima subuh aku dateng, " ucap Syera.


Seketika Anissa tersenyum.


"Kok lo kayak pelayan, Ngomong-ngomong gue boleh tahu gak di mana kamar Alarico gue mau tahu dan liat Al udah siap belum," ucap Anissa seketika berdiri.


"Eh.. Maaf ya siapa, ehm.. Anissa! Alarico gak suka orang asing masuk kamarnya selain mommynya, jadi kamu tunggu aja biar aku yang panggil dia," ucap Syera seketika akan melangkah ternyata Alarico datang dengan Hoddie hijau botol dan rambut berantakan dan kering.


Duduk tanpa berdehem atau menatap siapapun. Alarico bahkan duduk di kursi ujung samping Anissa dan Syera.


Syera duduk di sana dengan tenang. Seketika melirik Alarico Syera tahu arti tatapan itu tak mengizinkannya duduk.


"Eh.. aku kebelakang dulu kalian ngobrol aja kayaknya aku kelupaan sesuatu," ucap Syera lalu melangkah ke dapur.


Di dapur Syera berdiri di balik pintu dapur ada sedikit perasaan yang perih tapi, Syera segera menepisnya. Ia sama sekali tak akan cemburu.


Ketika Syera membawa segelas susu untuk Alarico seketika itu melangkahkeluar dari dapur.


"Itu kerabat Mommy lo kan, Oiyaa.. Cewek culun gitu lo mau, gak cantik dan lo kok mau satu rumah bahkan dia tau loh kalo Lo! gak mau di masukin orang asing kamarnya kecuali, Mommy, Al.. Gue masih bisa nempatin tempat itukan gue bisa jadi istri lo kan?"


Syera pura-pura tak mendengar apapun dan kembali masuk ke dapur.


Duduk di kursi meja pantry dan memegang segelas air putih tangannya sangat erat mencengkrqm gelas air putih.


"Pergi!" Alarico mengusir Anissa dengan malas menatapnya.


"Loh.. kok ngusir sih!" Seketika Alarico melangkah keluar dan Anissa mengikuti.


Saat sampai didepan Anissa terdiam mematung.


"Pulang sama pak Amat." Alarico langsung masuk dan membiarkan Anissa, saat Anissa akan melangkah kan kakinya masuk saat itu wajahnya tersenyum.


"Mommy lo udah gak ada dan lo deket banget ama cewek itu, apa mau gue sebarin kabar miring kalo lo sama cewek itu satu rumah, upss... gimana ya biasanya Cewek sama Cowok satu rumah itu bisa langsung bumm!"


Alarico berbalik dan tersenyum licik.


"Lanjutin apa mau Lo, Gue gak perduli, Lo pasti yang kalah dan Lo yang malu, Mulut lo udah buat gue muak dan hari ini seterusnya jangan pernah lo deketin gue atau cewek itu bahkan Lo sentuh dia seujung benang pun, Kalo lo gak mau gue habisin, Gue gak pilih kasih kalo lo nyentuh dia!"


Seakan sebuah perintah tak terbantahkan semua ucapan Alarico membuat Anissa semakin marah, bagaimana tidak kesal dan marah karena Syera lebih bisa membuat Alarico melirik bahkan memperhatikannya, semua ancaman Alarico membuat Syera sangat di ratukan dan orang yang sepesial.


Mengepalkan tangan kanannya Anissa berbalik melangkah pergi.


Saat datang lagi untuk sarapan Syera terlihat duduk sendirian makan dengan wajah tertunduk dan dengan air putih dan roti tawar dengan mentega saja.


Alarico yang baru melangkah mendekat seketika terhenti saat Syera berdiri.


"Kamu mau sarapan sebentar aku ambilin ya," ucapnya sambil membawa segelas susu coklatnya ke dapur dan mengambil semua sarapan yang ia masak.