
Langkah cepat setengah berlari menghindari senggolan dan tabrakan Syera akhirnya sampai di depan kelasnya ketika akan mau masuk.
Tangannya mengetuk dahinya.
"Syera.. pak Budi Dosen killer ngajar hari ini Lo telat," ucapnya pada dirinya sendiri. Seketika tangan berurat putih meraih gagang pintu dan membukanya seketika itu semua mata menatap orang itu yang ternyata Alarico.
Tama yang melihat Alarico seketika menggeleng dan Zulaika Dinda melihat Syera setelah Alarico masuk. Syera menunduk malu ketika menjadi pusat perhatian maha siswa di kelasnya.
"Kalian berdua telat.. Ck.. ck.." Pak Budi dengan tampilan kemeja di masukan perut buncit dan jas kaca mata tebal rambut hampir beruban wajahnya besar dan dagunya ada dua lipatan.
"Kalian saya.." Syera langsung memotong dengan tidak sopannya takut hukuman tapi, salah nya juga ngapain telat kalo gak mau di hukum. Syera mengetuk dahinya dengan batinnya.. Huuh dasar Syera. Sedangkan Alarico terdiam saja menutup rapat mulutnya.
Mendengar Syera memotong ucapan Pak Budi dan mau bicara sepertinyamembuat Alarico tak sabar.
"Paak.. maaf sih pak barunya juga sekali telat masa di hukum."
Nah kan... Alarico tak salah duga pasti Syera berani bicara walaupun Dosen killer sukanya main hukuman.
"Syera kamu ini mahasiswa teladan rajin gak pernah telat kok sekarang telat, Gak ada banyak omong sekarang kalian berdua keluar gak usah ikut pelajaran saya," ucap Pak Budi dengan wajah datarnya kesal juga.
Alarico masih diam melirik Syera yang sudah diam kehabisan kata-kata.
"Kamu Al.. Kamu ini gak berubah bandel mulu telat mulu, sekarang mana ada Maha siswa pinter dandanannya kayak pereman gini, Kamu doang yang pertama kali saya liat," ucap pak Budi mengontari penampilan Alarico.
"Ciri khas pak,"jawab Alarico apa adanya.
"Baguslah berati kamu punya pashionmu sendiri," ucap Pak Budi sesuka hatinya bahasa yang amburadulpon ia tak malu ucapkan didepan maha siswinya.
Zulaika dan Dinda hanya bisa diam nyengir lebar.
"Tapi, Pak.." Syera berusaha bernegosiasi tapi, gagal. Syera dengan lemas keluar bersama dengan Alarico setelah pak Budi mengisyaratkan untuk keluar kelasnya.
Di depan kini Syera duduk di bawah pohon sebelah kiri sendirian dan Alarico membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan buku. Alarico menikmati harinya sampai kelas pak budi Selesai.
Syera sedikit sedikit melirik Alarico tapi, langsung berdiri dari duduknya dan pergi ke perpustakaan memilih buku sesuai mata kuliah yang diambil hari ini Syera belajar sendiri.
Syera yang sering membaca dan berlama-lama di perpustakaan tidak terasa dua jam lebih berlalu.
Seketika Dinda ke perpustakaan dan membantu Syera memberesakan barangnya Dinda juga seperti tergesah-gesah dengan langkah tergesah Syera mengikuti langkah Dinda.
"Ayo Ra masuk?" ucap Dinda seketika menatap mobil Zulaika tapi, kenapa Dinda yang menyetir.
"Kenapa Lo Dinda?" Syera akhirnya buka suara dan kini menatap Dinda tapi, Dinda malah mengatakan sudah cepat masuk aja.
Alarico dan ketiga temannya pergi ketempat kejadian setelah banyak maha siswa berbondong bondong datang kesana.
Hanya tinggal jejak darah saja sisanya tidak ada apapun.
Alarico dan ketiga temannya ada di tempat lain jadi tidak cepat tahu kabar kali ini.
"Eh.. eh.. ada apaan," ucap Soleh dan Galang yang langsung bertanya pada beberapa maha siswa.
Seketika Galang dan Soleh pergi sambil mengajak Alarico dan Tama. Alarico yang telinganya tajam Tama juga Tajam lanhsung saja bergegas.