
Syera yang masih lelap dalam tidurnya seketika membuka matanya pelan.
Di bawah teman-temannya baru saja keluar dan mau naik ke mobil.
"Lah.. gak gue juga kali Lang, Al aja manfaatin situasi sama Syera buat cocok tanam," ucap Soleh masih meneruskan topik yang tadi.
"Temen gak ngotak emang!" Zulaika menggaris miring dahinya lalu mecobir menatap Dinda yang memintanya diam, Zulaika langsung tersenyum kecut.
"Laah.. Lu ngapain juga pake ceroboh ninggalin temen pas itu pasti lo nawar kan belanja di mini market... Tau gue lo itu pelit ," ucap Soleh ketika Zulaika ikut mencibir menatap Soleh.
"Heh.. Kalo Lo gak ngomong gue males ladenin... Kalo..." Seketika Tama memberi kelakson motornya membuat keduanya diam.
"Lo pada mau balik atau jadi pembatu dadakannya Alarico karena bikin rusuh disini," ucap Tama.
Zulaika langsung masuk bersama Dinda dan Soleh dengan Galang.
Mereka langsung pergi setelah Tama membuat mereka keget kelakson motor dan mengancam atas nama Alarico.
Alarico sekarang menatap semua pelayan termasuk satpam dan Sopir dirumahnya mereka di sidang dadakan di depan meja makan.
"Apa kalian semua gak ada yang tahu Kalo Syera pulang keadaannya kacau?"
Intimidasi dan atmosfer rumah langsung berubah suram.
"Maaf Den Bibi gak tahu soalnya bibi lagi beli di minemarket depan komplek."
"Saya lagi ke belakang den Ganti Oli motor sama yang lain," ucap satpamnya yang memang masih memakai baju terkena noda oli dan saat itu juga banyak belanjaan di atas meja dapur.
"Maaf den memangnya Non Syera kenapa tadi kayaknya dia baik aja waktu bibi masuk dia ngambil alir minum tapi, udah gak pake kerudung," ucap Bi Jum menjelaskan yang barusan di ingatnya.
Alarico menghela nafasnya dan berdiri.
"Gak papa... kalian Lanjut kerja aja lagi tapi, khusus Syera kalo dia pulang Sikap aneh langsung telpon saya," ucap Alarico pada Semuanya dan saat itu mereka semua mengangguk paham dan Bi Jum juga.
"Yaudah." Alarico berbalik pergi meninggalkan semuanya dan mereka banyak berpikir aneh-aneh tapi, saat itu juga.
"Bi Jum kalo liat Syera gak pake kerudung dirumah gak boleh ada laki-laki asal masuk, paham bi!"
Bi Jum mengangguk di ikuti semua pelayan dan sopir juga Satpam. Padahal yang di beri pesan tak terbantahkan Bi Jum, semua seakan menjadi orang yang patuh.
Syera melihat badannya yang aneh dan pegal semuanya masih tak bisa bergerak dan tetap di posisi piring menatap keluar jendela.
Syera mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.
Alarico melangkah mengitari ranjang dan duduk lalu menoleh pada Syera.
"Sakit?"
Tanyanya seolah tak paham dan tak peka.
Alarico tersenyum dan mengecup dahi Syera singkat.
Tiba-tiba Alarico ikut berbaring dan memeluk Syera.
"Al aku belum isyaan," ucap Syera pelan.
Seketika Alarico bergerak mengangkat Syera membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan perlahan di bak mandi.
Menyalakan air dingin lalu panas.
Syara menunduk malu seketika memandikan Syera dengan lembut.
"Al Kamu gak marah, Aku takut kamu marah, aku takut..."
"Maaf..." ucapan Alarico memotong ucapan Syera yang belum selesai.
Alarico mempercepat mandi Syera.
Setelah Sholat isya Syera di imami Alarico seketika meminta untuk di salimi. Syera menerima uluran tangan Alarico, seketika rasa di hatinya snagat inginenangis juga senang.
Alarico yeng melihat Syera mencium punggung tangannya seketika tangan kirinya terangkat mengusap kepala Syera.
Tampak lebih tenang tak seperti tadi yang begitu terlihat takut bahkan Alarico pertama kali melihat wajah ketakutan sampai ingin bunuh diri. Alarici tak masalah dengan perabotan kamar yang berantakan tapi, hatinya sangat bermasalah karena bersamaan itu tanpa Syera sadar, jika Syera telah mengobrak-abrik perasaan Alarico.
Sekarang intinya Alarico tidak ingin melepaskannya tapi, ingin Syera bahagia semuanya serba salah dan saat itu juga Alarico berpikir jika keputusannya ini menggantung di tengah dan hampir tak setabil dan berat tak ingin melepaskan semakin terasa di hatinya.