Alarico

Alarico
Lima puluh



Alarico melangkah masuk ke dalam rumah tapi, tak langsung masuk ke dalam kamar. Alarico merasa penasaran dengan abangnya yang terlihat pintu kamar tidak di tutup rapat. Sengaja membelokkan arah langkah mendekati pintu yang terbuka sedikit seketika mengintip ternyata Kasur yang di tiduri tidak ada orang nya, Alarico beralih membuka pelan pintu kamar dengan nuansa lampu merah setengah biru juga warna seprai hitam motif garis kotak.


"Mau apa lo," ucap seseorang di belakang Alarico seketika itua Alarico menutup pintunya tapi, lebih cepat abangnya memegang pintu dan membukanya lebar.


"Mau masuk Lo?" Tanya nya pada sang adik.


"Gak," sahutnya lalu berjalan pergi dari sana memilih masuk ke dalam kamarnya. Alarico dengan langkah santai masuk ke dalam kamarnya dan Bang Raka langsung menutup pintunya.


Pagi Hari yang terasa berat bagi Alarico karena Hari ini tidak ada jam kuliah Alarico langsung bekerja di toko juga mencari pekerjaan sampingan lainnya.


Seketika itu datang pelanggan lelaki yang terlihat seumuran dengan ayahnya marah-marah pada pelanggan lain karena baju yang ia target kan malah di borong semua oleh pembeli lain. Alarico mendekat dan bertanya dengan sopan.


"Gak usah sok ikut campur!"


Alarico terdiam saat bentakan orang itu sedikit menyulut emosi.


"Barang ini kami masih ada lagi di gudang Bapak bisa tunggu sebentar biar kami ambilkan dengan model dan warna sama."


"Gak bisa saya maunya pakaian ini, Lagian kalo dari gudang saya gak percaya toko ini cuka bohong, saya pernah bawa tapi, malah kekecilan padahal ambil dari gudang gak tahunya nomornya gak sama ngomongnya sama," ucapnya lebih panjang lagi.


Alarico membujuk pelanggan yang diam dan mengambil barang itu dengan pelan dan tenang.


"Yaa. Udah deh mas saya ambil yang mas kasih tahu di gudang lagian kalo baru di gudang otomatis gak terlalu banyak di jajal orang masih baru lagi," ucapnya.


Alarico seketika terdiam sebentar mengingat perkataan Syera tentang gorengan waktu itu.


Pelanggan yang mengusik kesabaran Alarico tadi pergi tak jadi beli. Ketika Alarico mendatangi tempat orang tadi ternyata Alarico masih melihat pakaian itu disana.


Selesai dari toko pulang malam lagi sesuai jam tutup Mall.


Alarici berjalan sendirian menyusuri jalanan trotoar sambil melihat ramainya kendaraan lalu lalng.


Tidak terasa ternyata Mall tempatnya bekerja ada di sebrang Toko Roti Sam. Alarico baru saja menoleh ingin menyebarang mencari taksi di sebrang sana. Tak sangka melihat Syera yang baru keluar toko tapi, bersama Seseorang awalnya Syera mengatakan tolakan dengan ekspresi itu Alarico tahu Syera di paksa.


Saat lampu penyebrangan menyala. Alarico mengebrang tak sengaja tatapan mata Syera dan Alarico bertemu seketika itu Alarico membuang pandangan.


"Ra.. Lo pulang sama Gue atau Lo liat Alarico kecelakaan Hari ini," ucap Rayanza lagi-lagi mengancam dan terus seperti itu setiap hari memanfaatkan waktu senggang Syera dengan memaksa bersama dengan diancam terus.


Melihat Alarico hampir sangat jauh Syera menatap Rayanza tajam.


"Kalo Gue gak mau gak usah maksa. Lo kalo baik ada maunya, Gue kan bilang gue itu males ngerepotin Lo kalo bilang gak di repotin, gak masalah... Itu Lo! Bukan gue,"ucap Syera menatap Rayanza tajam berucap pelan tapi tertahan.


"Gue gak main-main Ra, Lo gak terima tumpangan dan peehatian gue terpaksa Lo gak bisa liat orang terdekat lo bahagia," ucap Rayanza.


Seketika Syera yang sudah melangkah menjauh berbalik.


"Gue masih bisa nahan diri buat gak nampar lulut lo di tempat umum jaga batasan Lo, Yan!"