Alarico

Alarico
Dua puluh satu



Mansion mewah gaya Eropa modern tanpa ada tingkat dan tangga di dalam Rumah, terlihat luas juga terlihat biasa tapi didalam sangat mewah.


Rumah yang baik dan sehat karena tidak membuat kaki linu karena keram menaiki tangga tiap hari.


Tak lama datang tamu yang mereka undang siapa lagi jika bukan Salsa dan orang tuanya. Ayah Alarico tahu betul jika keluarga Salsa pasti bisa menjadi keluarganya juga lagi pula Salsa dan Alarico juga pernah kenal tak lama tapi, mereka sepertinya lebih mudah pendekatan.


Tanpa sang ayah sadar jika sang putranya sudah lebih dulu memilih tujuan hatinya. Alarico saja tidak tahu kalo ia sendiri menyukai Syera tapi, tidak mau mengatakannya bagi Alarico tidak ada Cinta dan hati.


Alarico yang baru keluar dari rumah dengan setelah pakaian mewah dan formal sudah melaju pergi diatas aspal bersama mobil mewah sportnya.


Alarico mengemudikan dengan santai sambil menelpon Syera untuk cepat.


Di kontrakannya Syera kesal karena di telpon terus oleh Alarico.


"Orang aneh kek dia harusnya di basmi, nyebelin." Katanya menekan tombol merah mematikan telponnya.


Baru saja memakai sepatu datarnya terdengar suara kelakson mobil.


Alarico yang baru sampai tak tahu jika Syera sudah bersungut-sungut marah.


Di rumah mewah tempat ayah dan ibu lain Alarico.


Persiapan yang mewah dan juga jamuan resmi layaknya keluarga bangsawan. Salsa dan keluarga bicara ringan di ruang tengah sambil menunggu Alarico datang.


Di rasa terlalu lama padahal menurut Salsa dan keluarga tidak juga.


Angga dan istrinya mengajak Salsa dan keluarganya ke meja makan untuk duduk.


Di depan pintj kontrakan Syera baru saja keluar dan alarico berdiri di depan mobil menatap arah Syera yang baru keluar.


"Yaah.. Loh kok gitu dah bagusan baju pemb*kat gue Ra," ucapannya sangat pedas membuat wajah Syera mengerucut kesal.


Apa nya coba coman dres putih ini juga masih bagus roknya juga dari bahan bagus kaku sepatu kits. Ya gak malu-malu in lah menurut Syera.


"Ya Udah males gue, sono lo pergi aja sendiri, Lagian Lo! di bantun mintanya aneh-aneh aja," ucap Syera kesal. Pakaian Syera tidak terlihat norak juga tidak terlihat kampung cukup bagus dan sederhana lagi pula ini hal tak mau Syera lakukan.


"Iya.. Iya," Jawab kesal Alarico yang sebenarnya puas membuat Syera kesal.


Alarico dan Syera segera berangkat dengan mobil Range Rover keluaran terbaru dan belum ada di pasaran, warna hitam mengkilat.


Membukakan pintu untuk Syera, Alarico tampak melakukannya dengan tulus tak terlihat jika terpaksa.


Ketika Alarico sudah masuk dan mengikat sabuk pengamannya pada diri sendiri matanya tak sengaja melihat jari Syera yang di pelaster kuka.


"Lo abis ngapain." Alarico berucap seakan mencairkan suasana padahal Alarico tak bermaksud itu.


Berharap Syera peka kenyataannya tidak Syera malah menoleh tajam dan berdehem.


"Urusan lo?" balik tanya dan itu membuat Alarico malas.


"Jari lo, Bukan maksud laen," ucap Alarico to the point karena kesal perempuan di sebelahnya tidak peka.


"Oh.. Gak papa," ucap Syera asal padahal dalam hati Syera sudah ketakutan jika ketahun tentang dirinya dan penyakitnya.


Keheningan di dalam mobil berlangsung lama hingga mobil Alarico berhenti didepan mansion dan ini adalah kediaman istri ketiga ayahnya dimana Mama Leni dan keluarganya tinggal.


Sebenarnya ini pertama kalinya kaki Alarico menginjak lantai rumah yang haram ia masuki.


Alarico terlihat enggan turun dari mobil tapi, hantaman tas di dadanya dari Syera membuat Alarico sadar dari lamunannya dan berhem.


Hantaman tas dari Syera saja seperti perintah bagi Alarico dengan langsung setelah di hantam tas kecil Alarico turun bersama Syera.


'Perasaan gak enak mulu, sebesar apaan sih masalah Alarico sama bokapnya kata Tama kalo dia minta bantuan ku berarti cuman aku tapi, kalo sama Tama Gareng atau Soleh berati ya mereka, Ini hal baru lagi yang aku liat dari diri seorang Alarico, punya segalanya bukan berarti baik-baik aja,' batin Syera melirik Alarico yang sejak sampainya mereka Alarico terus memasang wajah tak nyamannya.


"Al... Lo yakin gak, Gue risih nih liat muka lo serius tegang terus dari awal kita sampe," ucap Syera sambil berjalan ke arah Alarico yang berdiri didepan mobilnya.


"Enggak kita gak bisa pulang, Ini harus gue lakuin, Gue harap Lo bantu gue, Gue gak mau ke hilangan Mommy gue Ra," ucap Alarico dengan serius dan tatapan matanya terlihat sendu.


Syera jadi tak tega.


"Ok, Fine Lo sama gue masuk dan kita selesai ini," ucap Syera memberi semangat seketika Alarico tersenyum tipis dan itu sangat terlihat diwajahnya membuat Syera yang masih menatap dekat jarak nya juga tepat melihat semua kesempurnaan di wajah Alarico.


Di tambah senyuman tipis saja ketampanan Alarico bertambah puluhan ribu kali lipat.


Syera kaget sebentar dan langsung di sadarkan oleh dirinya sendiri.Mereka berdua melangkah masuk setelah sama-sama saling menguatkan.


Entah kenapa Alarico merasa tenang saat Syera mengatakan dirinya dan Syera harus masuk dan menyelesaikan semuanya.


Alarico harus mengatur semuanya agar dirinya tidak jadi di jodohkan dengan Salsa apapun caranya juga dirinya harus terus di samping Mommynya. Dan, untuk bantuan Syera Alarico akan menganggap ini paling berhaga.